
“Apakah suami Ibu bekerja di sana?”
“Katanya begitu Bu.”
“Ooo, emangnya Ibu dari mana?”
Mendengar pertanyaan itu, Maryati langsung terdiam, matanya yang mulai sedikit kabur menoleh kearah putra pertamanya. Bima yang cepat tanggap langsung menjawab pertanyaan yang di ajukan perempuan tua itu pada Ibunya.
“Sebenarnya kami baru datang dari Jakarta Bu.”
“Baru datang dari Jakarta?” tanya perempuan itu seraya menatap pakaian mereka semua.
Maryati yang tak ingin perempuan itu bertanya panjang lebar padanya, dia pun langsung minta izin untuk segera pergi, meninggalkan gubuk kecil itu.
“Kenapa Ibu nggak nanya dulu pada Ibu itu, apakah ada mobil untuk kesana dari sini atau nggak.”
“Ibu malas nak, cara perempuan itu memandang kita saja, sepertinya dia nggak percaya kalau kita ini dari Jakarta.
“Ibu benar, sepertinya dia nggak percaya kalau kita ini dari Jakarta.”
“Mungkin karena pakaian kita yang kumal nggak,” ujar Tia setengah menjawab dari pertanyaan mereka berdua.
“Iya, sayang. Kau ternyata pintar sekali.”
Setelah beberapa saat duduk di pinggir trotoar jalan, lalu melintaslah sebuah angkot yang berwarna biru, sesuai pesan sopir sebelumnya, mobil itu pun berhenti tepat di hadapan Maryati dan anak-anaknya.
“Mobil ini mau kemana Pak?” tanya Bima pada supir mobil angkot tersebut.
“Mobil ini hendak ke pesisir.”
“Apakah melewati bukit suar?”
“Iya. Emangnya kalian mau kemana?”
“Ke bukit suar.”
“Ayo naik.”
Dengan di bantu supir mobil, lalu mereka semua menaiki mobil itu menuju bukit suar yang di maksudkan. Setelah beberapa jam di perjalanan, tibalah mereka semua di bukit suar.
Tanpa di perintah Bima, mobil itu pun langsung berhenti dengan sendirinya. Maryati dan Bima merasa sedikit heran, karena mereka di turunkan di jalan yang sepi dan tak ada rumah sama sekali di dekat itu.
“Kita udah nyampai Bu,” ucap supir seraya tersenyum lebar.
“Udah nyampe pak?”
“Udah, Bu.”
“Bukankah sekeliling tempat ini hutan Pak?"
“Iya, inilah bukit suar yang Ibu maksud.”
__ADS_1
“Lalu di mana rumahnya Pak?”
“Disini nggak ada rumah Bu, disini hanya ada perkebunan.”
“Ooo, begitu.”
Dengan rasa berat hati, Maryati mencoba turun dan mengajak anak-anaknya untuk ikut turun bersamanya. Setelah ongkos di bayar, mobil pun kembali melaju dengan kencang meninggalkan Maryati dan ketiga anaknya yang masih berdiri kebingungan.
“Apakah kita nggak salah alamat Bu?”
“Entahlah nak, tapi itu yang di bisikan Ayah mu pada Ibu.”
“Apa mungkin Ayah memberi kita alamat palsu.”
“Entahlah nak, Ibu sangat takut sekali, sepertinya daerah ini masih sepi dan tak ada rumah.”
“Iya Bu.”
“Kalau begitu, mari kita susuri jalan ini nak."
“Susuri kemana Bu? arah ke atas atau mengarah kebawah.”
“Terserah mu saja Bima, mana yang terbaik menurut mu nak.”
“Kalau begitu, kita ikuti jalan kebawas saja Bu, siapa tahu Allah mau membantu kita nantinya.”
“Mari nak, kita jalan aja pelan-pelan.”
“Ibu, aku lapar,” rengek Tia pada Maryati.
“Iya, Ibu juga lapar sayang, tapi kita belum menemukan Ayahmu nak.”
“Emangnya, Ayah kita ada di mana Bu?”
“Entahlah nak, Ibu juga nggak tahu sayang, Tia yang sabar dulu ya, nanti kalau kita menemukan warung, maka kita akan membeli makanan untuk Tia sama adek nantinya.”
“ Baiklah Bu.”
Telah jauh kaki mereka melangkah, terasa lelah seluruh persendian tulang mereka, namun mereka belum juga menemukan apa yang mereka cari.
Sungguh daerah yang sangat mengerikan sekali, di sisi kanan dan kiri jalan di penuhi rumput dan pohon kayu yang sangat besar dan tinggi. Setelah beberapa jam berjalan kaki, barulah mereka menemukan sebuah pondok yang sudah lapuk dan hampir roboh.
“Ibu lihat, di depan sana aku melihat ada pondok yang hampir rubuh!”
“Mana nak?” tanya Maryati ingin tahu.
“Ayo Bu, cepat jalannya, pondok itu ada di depan sana.”
“Tapi kaki Ibu udah nggak kuat lagi untuk berjalan cepat nak.”
“Kalau begitu jalannya pelan saja Bu.”
__ADS_1
“Baik sayang.”
Dengan senang hati, Bima berlari menghampiri pondok yang sudah lapuk dan hampir roboh tersebut.
“Kau benar nak, ternyata di sini kita dapat menemukan pondok yang sudah lapuk. Tapi biarlah, yang paling terpenting kita dapat beristirahat sejenak, sampai kita menemukan rumah Ayah mu.”
Pondok yang sudah hampir roboh itu pun di bersihkan oleh Maryati dan Bima, seluruh akar-akar liar yang merambat kedalam rumah di cabut dan di buang, agar mereka berempat dapat beristirahat sejenak.
Mesti hanya sebuah pondok yang lapuk dan hampir roboh, tapi hati Maryati merasa senang sekali, dengan tenang dia bersama ke tiga anaknya dapat beristirahat, tanpa ada yang mengganggu dan jahat kepada mereka semua.
“Ibu aku lapar,” rengek Tia yang memegang perut kecilnya karena lapar.
Suara Tia telah membuat Maryati ketakutan, karena di daerah sesunyi itu, kemana mereka harus mencari makanan dan minuman, pasti selama berada di pondok itu, anak-anaknya akan menderita kelaparan.
“Bima, bangunlah nak,” panggil Maryati dengan suara lembut.
“Ada apa Bu?” tanya Bima ingin tahu.
“Adik-adik mu kelaparan, Ibu mesti gimana nak?” tanya Maryati pada putra sulungnya itu.
Sejenak Bima termenung, memikirkan solusi yang mungkin dia dapatkan dari situasi yang sangat sulit seperti itu.
“Ibu tunggulah disini, aku akan mencari makanan dulu.”
“Tapi kau mau cari dimana nak?”
“Ibu tenang saja.”
“Jangan jauh, jauh nak. Ibu sangat takut sekali jika kau nggak ada.”
“Baik Bu.”
Tanpa berpikir panjang lagi, lalu Bima pergi kebelakang pondok itu, dia berusaha mencari buah-buahan apa saja, yang paling penting, perut adik-adiknya bisa kenyang.
Sebatang pohon jambu batu, tumbuh tegah di belakang pondok itu, Bima yang lincah langsung mengambil dan mengumpulkannya di bawah, bukan hanya jambu batu yang di dapat Bima, masih ada lagi buah-buahan yang lain yang dapat di petik Bima.
Sementara itu, Maryati tampak gelisah sekali, ketika menunggu Bima yang tak kunjung datang untuk mencari makanan.
“Ya Allah, Bima! kau kemana nak, Ibu sangat cemas sekali,” gumam Maryati seraya menoleh kearah belakang pondok.
Tak berapa lama kemudian, di hadapan Maryati, Bima pun muncul tiba-tiba. Maryati yang terlihat begitu cemas dan pucat, tiba-tiba telah kembali berdarah.
“Kau kemana saja nak? Ibu sangat cemas sekali.”
“Aku memetik buah di belakang sana Bu.”
“Apakah ini buah dari kebun orang nak?”
“Sepertinya kebun itu sudah lama mereka tinggalkan Bu,” jawab Bima dengan suara lembut.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*