
“Oh, terimakasih Ibu, mesti rasa buahnya agak sedikit asam, tapi buah itu dapat menghilangkan perut ku yang lapar.
Setelah dapat berdiri kuat, lalu Maryati pun bergegas kembali kerumah Bibinya dengan cepat, dia takut kalau Bibinya akan pulang lebih awal sebelum dia kembali.
Setelah tiba di rumah Bibinya, Maryati kembali masuk kedalam kamarnya dan kembali menutup pintu. Tak berapa lama kemudian Roro pun kembali dari sawah, dia langsung membuka pintu kamar Maryati.
“Dasar anak pemalas! kau kira aku ini pembantu mu apa! keluar kau bocah ingusan!”
“Tapi aku nggak kuat berdiri Bi, aku lapar bukan kah Bibi tak memberi ku makan selama dua hari, jadi aku nggak punya tenaga untuk dapat berdiri.”
Masa bodoh, cepat berdiri!” bentak Roro sembari menjambak rambut Maryati dan menyeretnya keluar kamar.
“Ampun Bi, ampun! kenapa kau begitu kejam pada ku,” jerit Maryati menahan rasa sakit.
“Diam kau! cepat bekerja!”
“Aku nggak kuat Bi, perut ku begitu lapar.”
“Aku nggak perduli, cepat bekerja!” teriak Roro sembari menendang punggung Maryati dari belakang, hingga gadis mungil itu pun tersungkur.
Merasakan kekejaman yang di lakukan Bibinya setiap hari, Maryati hanya bisa menangis dalam kesendiriannya.
Malam itu setelah beberapa tahun berlalu, Roro sedang menyisir rambutnya, lalu dia menaruh tusuk konde miliknya di dalam kotak perhiasan, tanpa sengaja, putra sulung Roro melihat Ibunya menyimpan tusuk konde itu.
Roro memang terkenal orang paling kaya di Desa tempat tinggalnya, sekaligus menjadi orang paling kikir, semua harta yang dia dapat, hanya untuk dirinya sendiri, semua di kemas dan disimpan di dalam sebuah kotak yang terbuat dari ukiran kayu jati yang kuat.
Satu tusuk konde yang di miliki Roro, bisa di nilai dengan sepuluh ekor kerbau yang sangat gemuk dan besar.
Tanpa sepengetahuan Roro, ternyata anak sulungnya sudah memperhatikan hal itu selama tiga tahun, untuk bisa mencuri tusuk konde itu.
Malam itu ketika semua orang sedang tertidur pulas, putra sulung Roro mencoba menyelinap masuk ke dalam kamar Ibunya. Dia mengacak-acak semua yang ada di kamar itu, demi mendapatkan apa yang di carinya.
Beberapa saat kemudian Pria sulung Roro pun keluar seraya memegang tusuk konde Roro di tangannya.
“Maryati yang saat itu sudah berusia sepuluh tahun, memergoki putra Roro keluar dari kamar sembari memegang tusuk konde Ibunya.
Saat melihat Maryati, Danu datang menghampiri gadis kecil itu dan mengancamnya agar hal itu tidak di beritahukan pada Ibunya.
__ADS_1
“Awas, jika kau melaporkan kejadian ini pada Ibu ku, maka kau akan mati di tangan ku!” ancam Danu sembari mengepal tinjunya.
Mendengar ancaman Danu, Maryati hanya diam saja, dia memang tak berani untuk melaporkan kejadian itu pada Bibinya.
Namun hal lain terjadi di luar dugaan, malam itu setelah Roro selesai melepas tusuk konde nya, lalu diapun menghitung dengan teliti. Sepuluh tusuk konde yang dia miliki saat itu hanya tinggal Sembilan.
Jika satu tusuk konde nya setara dengan sepuluh ekor kerbau yang sehat dan gemuk, berarti Roro telah kehilangan sepuluh ekor kerbau sekaligus.
“Aduuh, kemana pergi tusuk konde ku, apakah aku salah menaruhnya?” tanya Roro sembari terus mencari tusuk konde nya yang hilang.
Saat Roro mencarinya hingga keluar kamar, Maryati pun melihatnya, tapi gadis kecil itu hanya diam memperhatikan.
Melihat Maryati duduk diam, Roro langsung menghampirinya dan menarik rambut Maryati hingga gadis itu pun menjerit kesakitan.
“Kenapa kau diam saja hah! apakah kau nggak melihat kalau Bibi mu sedang mencari sesuatu?”
“Bibi lagi mencari apa, mana aku tahu,” jawab Maryati dengan polos.
“Dasar anak nggak berguna, saat ini aku kehilangan tusuk konde, apakah kau melihatnya?”
“Nggak Bi, nggak. Aku nggak melihatnya,” jawab Maryati seraya menangis menahan rasa sakit.
“Lepaskan rambut ku Bi, sakit!”
“Perduli amat, atau jangan-jangan kau yang telah mencuri tusuk konde Bibi.”
“Nggak Bi, mana mungkin aku mencurinya, bukankah setiap hari pintu kamar, Bibi kunci dengan rapat.”
Mendengar jawaban Maryati, Roro langsung melepaskan tangannya dari rambut gadis kecil itu. dia sadar kalau selama ini pintu kamarnya selalu dia kunci dengan rapat.
“Baik, kalau bukan kau yang mencurinya, lalu siapa lagi?”
“Aku nggak tahu Bi.”
“Bohong!”
Mesti Maryati tak bicara tentang Danu, tapi Danu merasa yakin kalau suatu saat Maryati akan membocorkan rahasianya.
__ADS_1
Setiap hari, Danu berusaha untuk menyiksa Maryati begitu juga dengan adik-adiknya yang lain. Setelah Maryati selesai bekerja dirumah, Danu dan adik-adiknya memaksa Maryati memijat mereka semua secara bergantian.
Bukan itu saja, jika Maryati terlambat mengantar makanan ke sawah, maka Danu dan adik-adiknya menyiksa Maryati, bahkan Maryati mereka mandikan dengan lumpur sawah, hingga gadis kecil itupun begitu menderita.
“Ampun kan aku Kak, ampun!” jerit Maryati ketika mereka semua menyiksa gadis kecil itu di tengah sawah.
Danu menarik rambut Maryati dengan kuat, sedangkan yang lainnya memukul kepala Maryati dengan tangannya, yang lainnya bahkan memukul kaki dan tangan Maryati, hingga mengalami luka memar.
Bukan itu saja, mereka juga menyulut puntung rokok ketangan Maryati, sehingga gadis itu kesulitan untuk makan. Setelah menyiksa Maryati lalu mereka pergi ke kedai untuk minum dan mabuk-mabukan.
Ketika hari telah sore, mereka semua langsung masuk kedalam rumah, Roro yang melihat kesepuluh anaknya pulang dalam keadaan mabuk, dia pun langsung memarahinya.
Pada kesempatan itulah Danu mencoba untuk membela dirinya di hadapan Ibu yang selama ini telah mempercayainya.
“Ibu tahu nggak, tadi ketika di sawah Maryati memberi kami uang, katanya uang itu Ibu yang memberikannya, lalu uang itu kami pergunakan untuk membeli minuman.”
“Maryati punya uang? dia dapat dari mana uang itu? padahal Ibu nggak pernah memberinya uang.”
“Katanya Ibu yang memberikan uang itu padanya.”
“Kurang ajar, ternyata dia yang telah mencuri tusuk konde Ibu!”
“Apa? tusuk konde Ibu di curi Maryati?”
“Iya, sudah hampir satu bulan ini Ibu mencari keberadaan tusuk konde itu, ternyata dia yang telah mencurinya.”
“Benar itu Bu, hajar saja dia, kapan perlu lempar dia keluar dari rumah ini,” hasut anak-anak Roro.
Sesuai dengan aduan kesepuluh anak-anak Roro, hati perempuan itu semakin panas dan dia pun langsung melabrak Maryati dan menyiksa gadis kecil itu hingga berdarah.
Roro bukan hanya sekedar mengikatnya dia bahkan mencambuk kaki Maryati hingga sekujur tubuh gadis itu penuh dengan luka yang mengeluarkan darah.
“Ampun kan aku Bi, apa salah ku, sehingga Bibi begitu kejam sekali pada ku?”
“Kau masih nanya apa salah mu? dasar anak tak berguna, masih syukur aku bersedia menampung mu di rumah ini, kalau nggak kau udah menjadi gelandangan di jalanan.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*