
Beberapa bulan setelah Maryati bekerja lembur, uang pun di hitung, ternyata cukup untuk biaya sekolah Leni. Namun rencana Maryati tiba-tiba saja gagal, karena daerah tempat mereka tinggal mengalami musibah tanah longsor.
Beberapa hari di landa hujan lebat, banyak tanah yang longsor dan menimbun ruas jalan. Untuk itu seluruh para penduduk di sekitar Bukit suar terpaksa di ungsikan. Termasuk keluarga Maryati.
“Jadi gimana pendapatmu Yati? jika kita ikuti perintah dari gubernur, maka kita akan mendapat dua hektar tanah di tempat kita yang baru, sementara disini, kita tak punya apa-apa selain menumpang di atas tanah orang lain.”
“Lalu bagai mana dengan tanah yang telah ku beli itu, Bang?”
“Nanti tanah itu kita jual saja, untuk biaya selama membuka lahan baru di sana.”
“Tapi bagai mana dengan pekerjaan ku di pabrik?”
“Kau bicaralah dulu dengan pimpinan mu, siapa tahu dia mau melunasi semua uang gaji mu.”
“Baiklah, besok aku akan ke pabrik.”
“Ya, lebih cepat lebih baik, karena dua hari lagi mobil dari kantor gubernur akan datang menjemput kita dan barang-barang kita semua.
Sesuai dengan rencana yang telah mereka sepakati, keesokan harinya Maryati menemui pimpinan pabrik dan dia langsung membayar gaji Maryati. Dengan uang yang tak seberapa Maryati berencana membawa uang itu ke tempat tujuan.
Leni yang saat itu masih duduk di kelas tiga, di larang Bima untuk ikut bersama kedua orang tuanya. Bima ingin Leni menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu sebelum pindah.
“Nggak perlu, Ibu nggak mau menyusahkan kalian lagi,” jawab Maryati, untuk mengelak dari Bima.
“Tapi aku nggak merasa di susahkan Bu.”
“Nggak usah berbohong Bima. Ibu tahu, kau terpaksa bermulut manis pada Ibu, padahal kau takut pada Dira istrimu.”
“Kata siapa aku takut pada Dira, Bu?”
“Ibu melihat dan mendengarnya sendiri, siapa kau dan siapa pula istrimu.”
“Ayo anak-anak, beristirahatlah, besok pagi kita akan berangkat.”
“Baik, Bu.” jawab anak-anak Maryati serentak.
__ADS_1
Seperti yang telah di janjikan gubernur, keesokan harinya beberapa mobil datang menjemput mereka semua, begitu juga dengan semua barang-barang seluruh para penduduk.
Perjalanan yang sangat melelahkan mereka tempuh dengan rasa tak menentu, iring-iringan kendaraan membuat jalan menjadi ramai.
Di tempat yang baru mereka hidup dan berusaha mulai dari awal lagi, keuangan yang terbatas membuat mereka merasa kesulitan, berbagai macam cara mereka lakukan untuk bisa menghemat makanan yang masih ada.
Bukan hanya keluarga Maryati yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka, keluarga yang lainnya pun merasakan hal yang sama.
Satu bulan menjalani keterbatasan pangan, bantuan dari pemerintah pun mulai berdatangan ke tempat mereka tinggal. Sehingga mereka semua tak lagi memikirkan kebutuhan sehari-hari.
Dengan keterbatasan peralatan kerja, Tomi mulai membuka lahan baru yang telah mereka dapat bersama Maryati, keluarga kecil itu merasa senang karena telah mendapatkan dua hektar tanah untuk bekal keenam orang anak yang masih hidup.
Dengan berbagai macam cara ke lima anak-anak Maryati melanjutkan sekolah mereka. Selain bekerja di kebun, Maryati juga menyempatkan diri berjualan di sekolah yang ada di dekat rumahnya, itu semua dia lakukan agar anak-anaknya bisa melanjutkan sekolah tanpa harus mengalami kebodohan.
Hidup yang semakin hari semakin susah membuat Maryati harus bekerja tambahan, dia mencari pekerjaan di sebuah PT yang terdapat di sekitar tempat tinggalnya. Di sebuah perkebunan sawit Maryati bekerja sebagai buruh di sana, gaji yang dia dapat di pergunakan untuk biaya sekolah anak-anaknya.
Bekerja sendirian untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Maryati merasa kesulitan, apa lagi Maryati mengalami penyakit yang tak di ketahui apa penyebabnya. Hal itu sering membuatnya tak berdaya dan tidur di rumah untuk beristirahat.
Darah segar yang selalu keluar dari dalam perut Maryati membuatnya menjadi lemah, sementara anak-anaknya butuh biaya untuk bersekolah.
Penderitaan Maryati, sepertinya tak pernah berakhir, setiap hari dia selalu bergelut dengan duka dan air mata. Rasa sedih dan kepedihan hidup tak pernah berakhir menyelimuti dirinya.
Anisa putri bungsu Maryati yang selalu menyayangi orang tuanya, selalu ada untuk mereka semua, mesti saat itu dia masih duduk di kelas lima SD, namun Nisa tak pernah menyusahkan kedua orang tuanya.
Setelah sekian lama Maryati tidak lagi bekerja karena penyakit yang di deritanya, perekonomian keluarganya semakin sulit, bantuan dari pemerintah tak lagi pernah datang, untuk itu Maryati mencoba mencari pekerjaan pada tetangganya yang telah berhasil.
Mesti bekerja serabutan, Maryati masih bisa bernafas lega, karena dia masih bisa menghidupi keluarganya.
“Hari ini, Ibu mau bekerja di kebun siapa Bu?” tanya Nisa ketika dia sedang membantu Ibunya memasak di dapur.
“Di kebun Pak Rahman.”
“Nanti setelah pulang sekolah, aku akan membantu Ibu.”
“Nggak usah. Kau bersihkan saja rumah, setelah itu kau sapu halaman.”
__ADS_1
“Baik Bu,” jawab Nisa pelan.
Mesti saat itu Maryati telah melarang Nisa membantu Ibunya bekerja di kebun tetangga, namun dia tak tega membiarkan Ibunya yang sedang sakit harus bekerja keras demi hidup mereka semua.
Setelah Nisa selesai membersihkan rumah dan menyapu halaman, Nisa langsung bergegas menuju kebun Pak Rahman.
“Ibu!” seru Anisa, saat dia tiba di kebun Pak Rahman.
“Nisa? kenapa kau kesini nak?”
“Aku ingin membantu Ibu.”
“Bukankah tadi udah Ibu pesankan, agar kau nggak usah datang ke sini.”
“Nggak apa Bu, lagian pekerjaan ku di rumah udah siap kok.”
“Tapi disini tempatnya sangat panas nak, nanti kau bisa sakit.”
“Nggak apa-apa Bu, percayalah pada ku.”
Melihat kegigihan putrinya yang selalu ingin membantu Ibunya dalam bekerja, Maryati tak merasa keberatan. Bukan hanya sekali itu Nisa bekerja membantu Ibunya, bahkan hampir setiap hari dia selalu saja datang.
Walau mereka berjibaku bekerja, memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga, namun kehidupan mereka semakin lama semakin di balut kesulitan, bukan hanya untuk membiayai sekolah anak-anaknya, untuk makan keseharian saja, Maryati sudah tak punya uang lagi.
Hampir di setiap warung terisi dengan hutang yang menumpuk, Maryati bahkan di hina dan di marahi pemilik warung karena tak mampu membayar hutang.
“Ibu, untuk hari ini, kita udah nggak punya beras lagi,” ujar Nisa pada Maryati yang sedang duduk termenung di depan rumah.
“Pergilah kau kerumah tetangga nak, pinjam beras pada mereka, agar kita bisa makan hari ini.”
“Tapi Bu Hani semalam memarahi ku, karena selalu meminjam beras pada mereka.”
“Kalau dia udah nggak mau meminjamkan beras lagi, pergilah kerumah tetangga yang lainnya nak.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*