
Kebahagian pun semakin hari semakin terpancar dari wajah Kenanga dan Arya, karena sebentar lagi, bayi yang telah lama mereka nantikan akan segera lahir ke dunia.
Benar saja beberapa bulan kemudian, saat usia kandungan Kenanga memasuki Sembilan bulan dua belas hari maka dia pun merasa hendak melahirkan.
Di saat semua orang sedang tertidur dengan pulas, perut Kenanga tiba-tiba saja terasa begitu sakit, sakit yang tak dapat di bayangkan dengan segala macam khayalan. Kenanga tampak menjerit histeris di atas Kasur.
Arya merasa bingung, lalu dia memerintahkan Mang Ujang untuk memanggil dokter yang selama ini menangani kehamilan Kenanga.
Mendapat perintah dari majikannya, malam itu juga Mang Ujang pergi menjemput dokter yang selama ini menangani kandungan Kenanga.
“Tok, tok, tok…! Assalamu’alaikum,” sapa Mang Ujang seraya mengetuk pintu dari luar.
Mendengar suara pintu di ketuk dari luar, dr. Anita langsung memandangi jam yang tergantung di dinding ruang prakteknya.
“Hm..pukul tiga, siapa yang datang ya, malam-malam begini?” tanya dr. Anita pada dirinya sendiri.
Tak ingin menduga-duga, dokter Anita langsung bergegas menuju pintu, tapi sebelum pintu di buka, dr. Anita harus memastikan terlebih dahulu siapa yang datang tengah malam itu.
“Siapa diluar?” tanya dr. Anita dengan suara lantang.
“Mamang Bu dokter.”
“Mamang, Mamang siapa?”
“Mang Ujang Bu dokter, orang suruhan Bu Kenanga.”
“Ooo, Mang Ujang, ada apa Mang, apakah Bu Kenanga mau melahirkan?”
“Benar Bu dokter, saat ini Bu Kenanga sudah menjerit-jerit menahan rasa sakit."
“Baiklah, kalau begitu, Mamang tunggu di sini, biar aku mengambil kotak obat dulu kedalam.”
“Baik Bu dokter,” jawab Mang Ujang seraya menunggu dokter Anita dengan resah sekali.
Setelah dr.Anita selesai berkemas-kemas, lalu dia pun keluar dari rumahnya dan memastikan pintu rumahnya terkunci dengan benar.
“Mari Mang Ujang.”
“Mari Bu dokter,” jawab Mang Ujang sembari berjalan di belakang wanita itu.
“Udah dari jam berapa sakitnya Mang?” tanya dr. Anita ingin tahu.
“Mamang nggak tahu Bu dokter, saat Mamang dapat perintah dari Den Arya, Mamang langsung berangkat menuju rumah Bu dokter.
__ADS_1
“Ooo, gitu ya.”
Setibanya mereka berdua di depan rumah mewah itu, Mang Ujang langsung mengajak dr. Anita untuk masuk kedalam.
“Gimana keadaan Ibu saat ini Pak?” tanya dr. Anita pada Arya.
“Sepertinya dia begitu kesakitan sekali dok.”
“Kalau begitu, biar saya periksa dulu ya, Pak.”
“Baik dok, silahkan.”
Seraya mempersilahkan dr. Anita memeriksa kondisi istrinya, Arya tampak duduk resah di depan pintu.
“Pak Arya!”
“Saya Bu.”
“Masuklah.”
“Baik Bu.”
“Bu Kenanga, memang hendak melahirkan, jadi saya minta bantuan seseorang untuk mengambilkan air hangat.”
“Baik Bu.”
Setelah empat jam bertaruh nyawa, antara hidup dan mati, akhirnya Kenanga pun melahirkan dengan selamat. Rumah yang tadinya tampak sunyi dan mencekam, kemudian di kejutkan oleh tangisan seorang bayi yang sangat kuat. Lengkingan suaranya bergema di setiap sudut ruangan.
Di saat suara bayi itu terdengar menggema, semua para karyawan langsung mengucapkan kata selamat pada Arya Diningrat. Senyum manis pun tampak tersungging dari bibirnya yang tipis. Ucapan ribuan do’a tak henti-hentinya keluar dari bibirnya.
“Selamat Pak, bayinya perempuan.”
“Alhamdulillah, terimakasih ya Bu.”
“Iya sama-sama, Pak.”
Dengan linangan air mata, Arya pun mencium bayi mungil itu untuk yang pertama kalinya.
“Bayinya cantik Den, sepertinya mirip dengan Neng Kenanga.”
“Tentu, dong Mang. Masa bayi cantik mirip dengan Bapaknya.”
“Hahaha…!” suara gelak tawa pun pecah di saat suasana hati mereka sedang bahagia.
__ADS_1
Betapa bahagia hati Arya saat itu, siang dan malam dia selalu sibuk mengurus bayi mungil itu. Mesti Kenanga tak ada menyuruh Arya, namun Arya tetap membantu Kenanga dalam mengurus bayinya.
Setiap selesai mandi, Arya selalu menyempatkan diri mengajak Lastri untuk berjalan-jalan di taman belakang rumahnya. Sambil menghirup udara segar di pagi hari, Arya banyak mengajarkan beberapa hal pada putri kecilnya itu.
Dengan perhatian lebih itulah akhirnya Sulastri tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat, semakin hari kelincahan dan kecerdasan menghiasi pemikirannya yang masih polos. Secara perlahan Arya mulai mengajarinya berbagai macam hal.
Tak terasa waktu terus berlanjut, seiring dengan itu, Sulastri pun tumbuh dengan sehat dan cerdas. Sewaktu usianya baru memasuki dua tahun ternyata Kenangan hamil anak kedua.
Hati mereka sangat senang, karena tak mereka sangka sama sekali, Allah memberi kepercayaan lebih pada keluarga mereka.
Seperti biasanya, pagi itu udara berhembus sangat sejuk, suara burung berkicau sangat merdu, di antara desiran angin dan gemericik air yang sedang mengalir. Dari balik daun jendela kamarnya, tampak Kenanga menoleh keluar.
Di halaman depan tampak Sulastri sedang asik bermain bersama Tini dan Mang Ujang, Kenanga pun tersenyum dengan bahagia. Sesekali dia pun menoleh ke bawah, dengan lembut Kenanga mengelus bayi yang berada di dalam kandungannya.
“Sayang sebentar lagi kau pun akan lahir ke dunia ini menemani Kakak mu, tapi ingat pesan Bunda sayang, jangan pernah kalian berdua berpisah, apapun itu alasannya. Kalian harus saling mendukung satu sama lainnya,” gumam Kenanga pelan.
Beberapa bulan kemudian, Kenanga pun melahirkan putri keduanya dengan selamat ke atas dunia ini. putri keduanya itu di beri nama Maryati.
Semenjak kelahiran Maryati, usaha yang di kelola oleh Arya berkembang dengan pesat, di usianya yang masih berjalan dua bulan, Arya telah mendapat keuntungan yang berlipat ganda dari hasil penjualannya.
“Sayang, aku merasa semenjak Maryati lahir, usahaku semakin meningkat pesat, dari hasil penjualan ku selama ini, aku telah mendapatkan keuntungan dua kali lipat hanya dalam waktu lebih kurang dua bualan.”
“Benar kah, Kang Mas.”
“Benar sayang.”
Mendengar ucapan suaminya itu, Kenanga tampak diam saja, karena menurut garis rezeki yang turun, jika suatu ketika kita mendapatkan rezeki di luar perkiraan kita, maka untuk selanjutnya kita akan mendapatkan yang lebih minim dari itu, bahkan bisa juga mengakibatkan kita bangkrut.
“Kenapa diam sayang?” tanya Arya heran.
“Jika dalam dua bulan ini Kang Mas mendapatkan rezeki yang lebih, berati untuk selanjutnya, Kang mas akan mendapatkan kurang dari itu, atau mungkin juga akan ada rezeki yang bakal di cabut Allah.”
“Maksudnya apa sih sayang, aku nggak ngerti.”
“Ah, udahlah Mas, nggak usah di bahas, nanti kau enggan lagi berusaha.”
“Ah kamu ini, mau nakutin Kang Mas ya?”
“Aku serius Kang Mas.”
“Serius apanya sayang? sok tau kamu!”
Sebenarnya apa yang di katakan Kenanga itu tidak salah, karena begitulah yang di beritahu oleh leluhur sebelumnya, namun mereka berdua harus yakin kalau pertemuan, maut dan rezeki telah di atur oleh Allah.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*