
Sembari menaruh nampan di bawah meja, Maryati langsung duduk di samping Ayahnya. Sesekali pandangan mereka berdua beradu dan menimbulkan senyum yang mengungkapkan perasaan mereka berdua.
Ketika Maryati telah duduk di samping Ayahnya, Pak Kades merasa tak pantas berada di tempat itu, dengan tenang dia pun mencoba mencari alasan untuk meninggalkan mereka berdua.
“O iya Ren? Saat ini Bapak masih ada tugas yang mesti di selesaikan, kalau begitu kalian ngobrol lah dulu.”
“Baik Pak,” jawab Rendi seraya melepas kepergian Pak Kades dari hadapannya.
Dengan tenang Pak Kades pergi ke dapur menemui Marni istrinya. Melihat kedatangan suaminya Marni menatapnya dengan pandangan biasa saja.
“Apakah putrimu punya hubungan dengan Rendi, Bu?”
“Sepertinya begitu, Pak. Tapi masih dalam pendekatan.”
“Ibu yakin, mengizinkan mereka bertemu, Ibu tahu sendirikan, kalau Yati masih kecil.”
“Usia Yati itu udah sepuluh tahun Pak, wajar dong kalau dia mengenal pria.”
“Tapi, apa kata orang nantinya Bu?”
“Udah, Bapak nggak perlu kuatir, nanti Ibu yang mengatur semuanya.”
“Ya udah, semuanya Bapak serahkan pada Ibu, tolong jaga dia baik-baik, karena saat ini, Yati masih dalam masa penitipan polisi pada kita, menjelang keluarganya di temukan.”
“Baik, Pak,” jawab Marni dengan suara lembut.
Beberapa saat mereka berbincang-bincang di dapur, tiba-tiba saja Yati muncul di antara mereka.
“Lhoh, nduk?”
“Bang Rendi udah pulang kok Bu.”
“Kenapa begitu cepat nak?” tanya Ayahnya heran.
“Katanya ada langganan yang minta di hantarkan ke suatu tempat malam ini Bu.”
“Ooo, begitu.”
“Nduk, duduklah dulu,” kata Pak Kades pada putri angkatnya itu.
“Iya Yah.”
“Kalian serius menjalin hubungan?”
“Maksud Ayah?”
“Kamu tahu sendiri kan nduk, kalau Rendi itu hanya tukang penarik becak, nanti kalian bisa makan apa dengan hasil menarik becak, kalau kau mau bersabar, nanti Ayah akan carikan kau seorang pria yang lebih baik dari Rendi.”
“Makasih Ayah, tapi aku sama Bang Rendi belum tentu serius kok Yah.”
“Itu menurut mu nduk, biasanya kalau pria udah mendatangi perempuan, dia itu pasti minta keseriusan.”
“Aku nggak tahu masalah ini Yah, Bang Rendi sendiri yang ingin datang menemui ku di rumah ini.”
__ADS_1
“Iya, Ayah tahu itu nduk, berarti Rendi ingin kau itu mau dinikahinya.”
Lama Maryati terdiam, dia tak tahu apa tujuan Rendi menemuinya malam itu, tapi setelah Ayahnya menjelaskan secara rinci, barulah Yati sadar kalau Rendi ingin serius dengannya.
Semenjak pertemuan mereka malam itu, Maryati tampak mulai menghindar dari Rendi, sering Rendi merasa kecewa karena Maryati tak mau bertemu dengannya. Jika Rendi datang kerumah Pak Kades, Maryati pun berpura-pura tidur.
Marni yang melihat hal itu menjadi tak enak hati pada Rendi, lalu diapun membujuk Maryati untuk mau berterus terang pada Rendi tentang hubungan mereka berdua.
“Nggak baik seperti itu nduk, nanti Rendi bisa tersinggung dengan sikap mu itu.”
“Jadi aku mesti gimana Bu?”
“Kau temui saja dia, katakan terus terang apakah kau menerima cintanya atau kau menolak kehadirannya.”
“Aku bingung Bu, aku nggak tahu mesti bicara apa padanya.”
“Sekarang Ibu mau tanya padamu, kau jawab pertanyaan Ibu dengan jujur.”
“Apa itu Bu?”
“Apakah dalam hati mu, kau menyukai Rendi?”
“Iya Bu.”
“Itu artinya kau itu mencintainya nduk, lalu kenapa mesti malu untuk menemuinya?”
“Kalau Bang Rendi itu suka pada ku, aku nggak ingin dia menemui ku lagi Bu.”
“Kenapa demikian nduk?”
“Lho kenapa pikiran mu bisa sejauh itu nduk?”
“Ibu, semua warga pasti beranggapan kalau Ibu, telah berani memasukan seorang pria ke dalam rumah ini, untuk bertemu dengan ku.”
“Jadi mau mu itu opo toh nduk?”
“Kalau Bang Rendi suka pada ku, maka suruh keluarganya datang melamar ku, karena aku nggak mau nama keluarga Ibu jadi tercemar hanya karena kelakuan ku dan Bang Rendi.”
“Kau benar nduk, kau ternyata cerdas, kali ini Ibu baru sadar, kalau pertemuan kalian setiap malam itu akan membuat semua warga menjadi resah. Baiklah, nanti hal ini akan Ibu bicarakan dulu dengan Ayah mu, kalau dia setuju, maka kami akan memberitahukan hal itu pada Rendi.”
“Baik Bu,” jawab Maryati seraya duduk diam di hadapan Marni Ibu angkatnya itu.
Malam itu juga Marni menceritakan niat hatinya pada Darman suaminya. Hal itu di tanggapi Darman dengan senyuman manis.
“Kenapa Bapak mesti tersenyum?”
“Apa wajar kita menikahkan Maryati, Ibu kan tahu sendiri, kalau Maryati itu masih punya keluarga.”
“Ibu tahu itu Pak, tapi kan, Maryati sendiri yang nggak ingin kembali pada keluarganya itu.”
“Iya, tapi kalau masalah pernikahan ini, kita harus mengabari keluarganya terlebih dahulu, nggak mungkin kan kita menikahkan anak orang, sementara keluarganya nggak ada yang tahu.”
“Bapak itu benar, tapi kalau Maryati nggak mau menemui keluarganya gimana?”
__ADS_1
“Itu persoalan lain.”
“Ya itu dia, Pak. Ibu itu udang ngomong sama Maryati tentang keluarganya, tapi dia nggak mau keluarganya tahu tentang hal ini.”
“Baiklah, biar Bapak sendiri yang bicara dengan Maryati besok pagi.”
“Yo wes, terserah Bapak saja.”
Setelah perdebatan kecil itu berakhir dengan damai, akhirnya malam itu mereka lalui dengan tenang tanpa ada penyesalan.
Seperti yang telah mereka sepakati bersama, pagi itu Darman memanggil putri angkatnya Maryati yang saat itu sedang memasak di dapur.
“Nduk, kau di panggil Ayah,” ujar Marni dengan suara pelan.
“Ada apa Bu?”
“Ibu nggak tahu nduk, tinggalkan aja masakannya biar Ibu yang melanjutkannya nanti."
“Baiklah, aku akan menemui Ayah sebentar.”
Seraya meninggalkan masakannya yang masih berada di dalam wajan, Maryati pun bergegas menuju ruang tengah untuk menemui Ayahnya.
“Ayah memanggil ku?”
“Duduklah nduk.”
“Baik Yah.”
“Begini, sebenarnya tadi malam hal ini udah Ayah bahas bersama Ibu mu, tapi kami berdua menemukan jalan buntu, tentang pernikahan kalian ini.”
“Maksud Ayah?”
“Kau kan masih punya keluarga, nggak mungkin kan Ayah menikahkan mu dengan orang, sementara keluargamu nggak di beritahu sama sekali.”
“Ayah, ku mohon pada Ayah, saat aku telah memutuskan nggak ingin kembali pada Bibi ku, itu berarti aku nggak ingin lagi berurusan dengannya. Tapi jika Ayah ingin bersikeras juga agar aku memberitahu mereka, lebih baik pernikahan ini di batalkan saja.”
“Bukan itu maksud Ayah nduk.”
“Aku mengerti Yah.”
“Jadi mau mu gimana nduk?”
“Aku juga nggak tahu Yah.”
“Baiklah, nanti akan Ayah bahas lagi masalah ini dengan para tetua Desa, yang terpenting kamu tenang saja.”
“Makasih atas kebaikan Ayah pada ku.”
“Udah..! kamu nggak perlu sungkan dengan Ayah.”
“Baik Ayah.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*