Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 62 Kedatangan Inah


__ADS_3

“Baiklah, terimakasih nak Dipa.”


“Sama-sama Bu.”


Semenjak hari itu, Maryati mendapatkan uang tambahan dari hasil mengutip cengkeh milik Dipa, jika hasil panen melimpah, maka Maryati juga mendapatkan uang lebih dari usahanya.


Karena saat itu harga cengkeh sedang tinggi, maka dalam hitungan bulan saja, Maryati sudah bisa membelikan Tia dan Leni cincin serta gelang.


Sedangkan Tomi yang saat itu merasa Maryati telah menghasilkan uang dari hasil kerjanya, dia pun sering pulang ke kampung halamannya dan membagikan uang gajinya pada seluruh saudara-saudaranya.


Sampai putranya lahir pun Tomi tak pernah mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit, semua biayanya ditanggung oleh Dipa.


Bertahun lamanya Maryati dan anak-anaknya tak pernah mengenyam uang gaji yang di dapat oleh Tomi.


Mesti demikian, Maryati tak pernah mengeluh sama sekali, dia memendam semua rasa sakit itu sendirian, jika malam tiba, Maryati selalu saja menangis sedih. Namun Tomi tak pernah mengetahuinya.


Siang itu Tomi pergi mengambil pensiun miliknya, namun setelah sore dia baru kembali kerumah, Maryati mencoba bertanya, tapi Tomi langsung marah dan mengatakan kalau Maryati terlalu ikut campur urusan hidupnya.


“Kalau Abang nggak mau di urusin, sebaiknya kita berpisah saja, aku mau kembali ke Jakarta bersama anak-anak.”


“Kau selalu saja mengancam, jika kita punya masalah.”


“Masalahnya itu, sebenarnya sangat sepele, tapi karena hal itu di lakukan selama bertahun-tahun, aku jadi nggak sabar.”


“Masalah apa yang kau tuntut itu Yati?” tanya Tomi ingin tahu.


“Berhenti kau menjadi pahlawan di keluargamu. Disini, kami juga butuh uang, kalau kau terus menerus membagikan uang pada keluarga mu, lalu dimana tanggung jawab mu sebagai suami dan kepala keluarga.”


“Kau nggak perlu menggurui ku, Yati.”


“Aku nggak pernah menggurui mu, aku hanya ingin mengingatkan mu Bang, kalau saat ini kau punya keluarga yang perlu kau nafkahi.”


“Cukup! cukup Yati! kau selalu saja menekan ku.”


“Baik, kalau kau merasa aku tekan, mulai hari ini, kita akan hidup sendiri-sendiri di rumah ini.”


“Nggak bisa gitu dong Yati.”


“Aku ini lelah, Bang. Aku udah capek hidup seperti ini terus, huhuhu…uhuk..uhuk!”


Maryati pun menangis histeris di hadapan anak-anaknya, dia merasa tak kuat untuk membendung air matanya.

__ADS_1


“Kau terlalu serakah Yati, kau lihat sendiri emas yang telah kau beli, nggak sedikit banyaknya, tapi kau masih saja kekurangan.”


“Heh, Bang. Aku membeli emas ini dari hasil keringatku sendiri, emangnya Abang pernah membelikan aku emas, nggak kan, mana tanggung jawab Abang sebagai kepala keluarga. Menafkahi istri dan anak-anaknya. Semua gaji dan uang pensiun Abang habis semua untuk saudara Abang.”


“Jadi mau mu apa, Yati?”


“Berhenti membagikan uang pada saudara Abang di kampung, kalau memang Abang merasa punya keluarga di sini.”


“Baik, mulai besok, kau yang akan memegang semua gaji dan uang pensiun ku.”


“Kita lihat saja nanti.”


Ucapan Tomi memang dia buktikan, mulai hari itu setiap uang gaji dan uang pensiun yang dia terima langsung di berikan Tomi pada Maryati. Semua uang itu di belikan Maryati ke emas untuk disimpan.


Baru saja ke bahagian rumah tangga Maryati berjalan dengan baik dan lancar, tiba-tiba saja Inah datang menemui mereka di pondok Dipa.


Inah datang bersama suaminya Panji, mereka datang untuk meminjam uang pada Tomi.


“Aku nggak ada uang Kak, semua gaji dan uang pensiun ku sudah ku serahkan pada Yati, dia sekarang yang mengelola keuangan keluarga.


“Uang ku, juga sudah habis untuk biaya sekolah anak-anak,” jawab Maryati dengan suara datar.


“Kau kan masih punya emas Yati, kenapa kau keberatan untuk meminjamkannya,” timpal Tomi dengan suara lantang.


“Aku nggak punya emas, yang akan ku pinjamkan pada Kakak.”


“Kau bohong Yati, kau pasti menyimpan emas.”


“Kakak pasti sudah lupa betapa kejamnya Bang Panji, dengan tega dia telah memfitnah Bima mencuri telur, sehingga putraku habis di hajar masa.”


“Tapi kami telah menerima ganjarannya Yati, seluruh kaca rumah kami habis pecah karena di lempar orang, begitu juga dengan seluruh perabot rumah kami, habis pecah karena di amuk warga.”


“Itu resiko yang kalian buat sendiri.”


“Tolong lah Yati, nanti kalau pestanya telah selesai, kami pasti akan memulangkan emas mu.”


“Aku nggak punya uang mau pun emas, kalian cari saja di tempat yang lain,” jawab Maryati seraya masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamarnya dari dalam.


Setelah Maryati masuk kedalam kamarnya, ternyata Inah, menyuruh Tomi untuk membujuk istrinya, agar bersedia meminjamkan emas simpanannya.


“Baiklah Kak, Kakak tunggulah disini, aku akan membujuknya dulu,” ucap Tomi seraya masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


“Pinjamkan lah Yati, nggak baik berbuat jahat dengan saudara sendiri.”


“Kau bisa bicara seperti itu pada ku, tapi apakah kau tahu siapa yang jahat itu sebenarnya.”


“Itu kan masa lalu Yati, jangan di ingat-ingat lagi. Sekarang dia datang dengan cara baik-baik, kenapa kau nggak mau menerima kebaikannya itu.”


“Kebaikan apa Bang? Abang tahu nggak, dia itu datang hanya untuk meminjam uang pada kita, apakah Abang yakin uang itu akan mereka kembalikan lagi pada kita?”


“Aku yang bertanggung jawab nantinya jika emas itu nggak dikembalikannya pada kita.”


“Tanggung jawab apa maksud Abang?”


“Aku yang akan menagihnya nanti pada mereka Yati.”


“Sudah ku pastikan, kalau Abang nggak akan sanggup untuk memintanya.”


“Abang janji Yati.”


“Kenapa sih, Abang begitu ngotot sekali ingin meminjamkan emas ku itu pada mereka?”


“Karena jika kita nggak meminjamkan emas itu padanya, maka putri kak Inah nggak bakalan jadi menikah.”


“Biar saja putrinya gagal menikah, itu bukan urusan kita kan?”


“Nggak bisa gitu dong, Yati.”


“Sekarang begini saja, katakan pada mereka kalau aku nggak bersedia meminjamkan emas dan uang ku pada mereka yang selama ini telah berbuat jahat dan kejam.”


“Itu hanya masala lalu yati, jangan kau ingat-ingat lagi.”


“Aku nggak pernah melupakan semua kejahatannya Bang, sampai mati nggak akan aku lupakan, Abang tahu, gara-gara kejahatan mereka semua, Buyung sampai meninggal dunia, Kakak mu itu Bang, mereka semua jahat sekali pada aku dan anak-anak mu.”


“Kau nggak bisa di ajak bicara baik-baik Yati, sekarang berikan emas mu itu pada ku, cepat!”


“Aku nggak mau!” bentak Yati dengan suara keras.


Karena merasa tak sabar, Tomi langsung saja membongkar semua pakaian yang terlipat rapi di dalam lemari, setelah menemukan kotak emas milik Maryati, Tomi langsung mengambil kalung emas milik Maryati yang beratnya sebanyak sepuluh emas.


“Jangan kau berikan itu pada mereka Bang,” ujar Maryati seraya berusaha untuk merebutnya kembali dari tangan Tomi.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2