
“Apa maksud mu, aku nggak ngerti.”
“Emangnya kalian yang ke Padang itu, ada bawa uang apa?”
“Nggak, tapi kan Ibu yang bayar ongkos kami.”
“Emangnya kalian ikut menyumbang uang untuk ongkos ke Padang?”
“Nggak, lagian Ibu nggak ada meminta kami untuk membayar ongkos.”
“Kalian tahu, sebenarnya Ibu itu nggak kepengin kalian semua ikut mereka, karena kalian yang ikut itu hanya membuat Ibu terbebani.”
“Tapi Ibu nggak pernah bicara seperti itu.”
“Ya tentu, nggak mungkinkan, Ibu berkata seperti itu.”
“Kau ini Nisa, bikin orang emosi saja.”
"Kalau kalian nggak percaya, kalian boleh tanya langsung pada Ibu, setelah mereka pulang nanti."
Ketika ketiga anak Maryati dan keluarganya telah kembali, tinggallah Andi yang masih berada di padang bersama Ibunya, saat itu mereka masih berada di rumah Bima. Sebenarnya Maryati enggan untuk masuk kedalam rumah Bima, karena dia dan istrinya telah membuat Maryati tersakiti.
Saat berada di rumah Bima, mereka berdua begitu baik sekali, baik Dira istrinya mau pun Bima yang selalu siap mengantarkan kemana Ayahnya pergi.
Setelah beberapa kali melakukan rontgen, akhirnya Tomi pun di operasi. Hal yang membuat Andi heran adalah, karena setiap kali rontgen, Bima selalu meminta uang pada Ibunya. Walau Andi diam saat itu, tapi bukan berarti Andi tak tahu apa-apa.
Setelah dua hari Tomi selesai menjalani operasi, dia pun masuk keruang perawatan, di ruang itulah Tomi baru bisa di kunjungi oleh keluarganya.
“Gimana operasinya Yah? aman kan?”
“Alhamdulillah, saat ini Ayah nggak sakit lagi, hanya sedikit nyeri di bawah perut.”
“Itu hanya bekas jahitannya Ayah, nanti kalau udah kering, nggak bakalan sakit lagi kok.”
“Iya, semoga saja begitu.”
Selama Tomi berada di ruang perawatan, dia selalu dianjurkan agar melakukan rontgen, hal itu terjadi selama berulang kali.
Setelah di pastikan Tomi sembuh dari penyakitnya, barulah pihak rumah sakit mengizinkannya pulang. Bima langsung mengajak kedua orang tuanya untuk beristirahat di rumahnya, sampai Ayahnya benar-benar sembuh.
Saat masih berada di Padang, kesempatan itu di manfaatkan Andi untuk mendatangi rumah sakit yang melakukan rontgen pada Ayahnya.
“Maaf, numpang tanya Sus, apakah benar di sini tempat Ayah saya melakukan rontgen?”
“Ayah anda?”
__ADS_1
“Iya, Sus.”
“Atas nama siapa?”
“Atas nama Tomi.”
“Ya benar.”
“Minta tolong ya Sus, tolong di klaim kan seluruh biayanya.”
“Ayah anda atas nama Tomi, kan menggunakan Askes, jadi pihak rumah sakit nggak memungut biaya sepersen pun, karena semua biaya telah di tanggung pemerintah.”
“Jadi yang selama ini, uang apa itu Sus?”
“Maksud anda, apa ya?”
“Karena selama Ayah saya melakukan rontgen di sini, saudara saya selalu meminta uang seratus ribu untuk delapan kali rontgen.”
“Maaf, dalam ilmu kedokteran, tak pernah melakukan delapan kali rontgen dalam kurun waktu beberapa hari.”
“Berarti aku udah di tipu?”
“Bisa jadi begitu, saudara anda itu telah melakukan penipuan.”
“Kalau kami lihat dari catatannya, Bapak Tomi hanya melakukan dua kali rontgen, yang pertama sewaktu pihak rumah sakit ingin mengetahui posisi penyakitnya, sementara yang kedua, hanya untuk memastikan, kalau penyakitnya benar-benar telah sembuh.”
Mendengar penjelasan perawat itu, jantung Andi terasa mendidih, dia sangat marah sekali, karena Bima telah menipu kedua orang tuanya yang tak mengerti apa-apa itu.
Setelah mendapatkan surat keterangan dari rumah sakit tempat Tomi di rontgen, Andi pun segera kembali pulang kerumah Bima. Ketika Andi muncul Maryati merasa senang, karena Maryati takut kalau Andi meninggalkan mereka berdua di rumah Bima.
“Kau kemana saja Andi? Ibu sangat cemas sekali.”
“Kenapa Ibu mesti cemas, bukankah Bang Bima anak Ibu juga?”
“Bukankah sudah Ibu katakan padamu, sebaiknya kita pulang saja ke rumah.”
“Tapi Bang Bima sendiri yang mengajak Ibu ke sini, kan?”
“Iya, tapi saat ini Ibu mau pulang ke rumah Andi, biar di rumah saja Ayahmu di rawat.”
“Baiklah, tapi kita mesti menunggu Bang Bima pulang dulu Bu.”
“Tapi sampai kapan dia pulang nak?”
“Aku nggak tahu Bu,” jawab Andi.
__ADS_1
“Sebentar lagi Bang Bima juga kembali kok, Ibu nggak usah ketakutan seperti itu, bukankah kami ini anak Ibu juga.”
Maryati tak menjawab, dia hanya diam saja. Karena Maryati tahu siapa Dira itu yang sebenarnya, yang selalu pandai bermulut manis di depan semua orang.
Setelah menunggu beberapa saat, maka Bima pun pulang kerumahnya. Setelah dia duduk, lalu Andi menunjukan pada Bima surat keterangan dari rumah sakit, tentang hasil rontgen Ayahnya.
“Apa ini Andi?” tanya Bima tak mengerti.
“Abang lihat aja sendiri dan baca dengan baik, apa yang tercantum di dalam surat itu?”
“Ada apa Andi, surat apa itu?” tanya Maryati heran.
“Surat pernyataan kalau selama ini Ayah hanya melakukan dua kali rontgen dan itu pun tidak di pungut biaya sepersen pun.”
Spontan hal itu membuat Bima kaget alang kepalang, Bima tak menyangka kalau penipuan yang dilakukannya bisa di selidiki oleh Andi dan langsung dibuktikannya di depan Ayah dan Ibunya sendiri.”
“Apa maksud semua ini Bima?” tanya Maryati ingin tahu.
Bima tampak tertunduk diam, namun bukan berarti Bima mengakui semua kesalahannya, Bima justru mencari celah agar dia bisa menutupi semua kesalahannya dengan mudah.
“Jawab Ibu, Bima! kenapa kau diam, apa maksud semua ini? kau ingin menipu kedua orang tuamu hah! kau lupa bagai mana kau dulu hidup susah bersama Ibu, apa kau lupa nak?”
“Sudah, sudah! aku benci masa lalu, Ibu jangan pernah mengungkit masa lalu itu lagi, Ibu tahu! gara-gara Ayah hidupku jadi hancur, gara-gara Ayah aku di pukuli oleh banyak orang! aku benci dengan Ayah.”
“Ibu nggak pernah mengungkit masa lalu mu Bima, tapi setidaknya kau ingat betapa menderitanya Ibu selama ini, di saat seperti ini, semestinya kau nggak membohongi Ibu nak.”
“Aku nggak pernah membohongi Ibu, aku hanya benci pada laki-laki tua ini! karena dia telah membuat hidup ku menderita!”
“Lalu apa urusannya dengan kejadian hari ini nak!”
“Aku hanya mengambil uang Ibu sedikit, apa itu salah?”
“Tentu salah Bima, itu sama artinya kau telah menipu Ibu dan Ayah mu.”
“Ibu kira hidup di kota sepadat ini, bisa gratis? nggak Bu, semuanya harus di bayar. Begitu juga dengan kalian bertiga yang tinggal dirumah ini dalam dua minggu ini, kalian tentu harus membayarnya. Nggak ada yang gratis Bu.”
Mendengar jawaban dari putranya, jantung Maryati terasa mendidih, tak di sangka sama sekali, Bima tega melakukan semua itu pada Ayah dan Ibunya, yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
“Lalu berapa Ibu harus membayarnya nak?”
“Ibu pikirkan saja sendiri.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1