
“Aku ini anak Paman mu Arya, kalian semua jahat, kalian merampas hak kami berdua!”
“Hahaha..hahaha…!” kau udah gila ya, hahaha…!”
Merasa di ejek oleh anak Roro, Lastri langsung mengambil batu dan melempar anak itu, hingga kepalanya berdarah.
“Aduh, kurang ajar kau! awas ya akan ku adukan pada Ibu ku!”
“Adukan sana!”
“Udah, Lastri, udah, nanti Bibi mu bisa marah.”
“Biarkan aja Kek, sekali-kali mereka itu harus di kasih pelajaran.”
Setelah anak Roro kembali kerumahnya, lalu tak berapa lama kemudian dia pun keluar lagi, tapi saat itu dia keluar tak sendirian ada enam orang yang lainnya ikut keluar bersama anak yang pertama tadi.
“Heh, siapa kau, beraninya menyakiti adik ku!”
“Aku putri Arya Paman kalian, katakan pada ku, mana adik ku Maryati!”
“Apa kau bilang? adik mu Maryati?”
“Iya, mana dia?”
“Hahaha…! ternyata kau putrinya Arya ya?”
“Iya, mana adik ku itu?”
“Oh kasihan sekali nasib mu, Lastri. Dulunya orang kaya, sekarang jadi anak orang miskin, persis seperti gembel,” ejek mereka pada Lastri.
“Kalian benar-benar jahat ya, kalian semua telah merampas semuanya dari ku, sekarang kembalikan adik ku, cepat kembalikan!” teriak Lastri dengan suara lantang.
Lalu Lastri pun mengambil beberapa buah batu kerikil dan melemparkan pada mereka semua, sehingga mereka bun berlarian untuk menjauhi pagar.
“Maryati…! ini Kakak Dek, keluarlah! Maryati…! keluarlah sayang, ini Kakak Dek!” teriak Lastri dari balik pintu gerbang yang tinggi dan kokoh.
Tapi sangat di sayang kan sekali, mesti Lastri menjerit sekuat apa pun, namun dia tetap tak berdaya di hadapan ke seluruh putra Roro yang kejam dan jahat.
Burhan yang melihat hal itu, tak tega, dengan deraian air mata dia mencoba mencegah Lastri untuk terus berteriak-teriak memanggil nama adiknya.
“Udahlah sayang, kita nggak usah kesana, mereka itu jahat sekali nak.”
“Nggak Kek, Lastri ingin bertemu dengan Maryati,” rengek Lastri seraya terus memanggil-manggil nama adiknya.
“Udahlah nak, ayo kita pulang saja, lain kali kita akan kesini lagi melihat adik mu.”
“Tapi Kek, Lastri ingin bertemu dengan Maryati.”
__ADS_1
“Kakek tahu nak, Kakek sangat mengerti perasaan mu, tapi mereka semua nggak ngizinin kita untuk masuk kedalam.”
Di saat Burhan bicara pada Lastri, tiba-tiba saja dari dalam rumah yang megah itu keluar seorang anak kecil dengan pakaian lusuh dan kotor, gadis kecil itu menatap Lastri dan Burhan dengan tatapan yang kosong.
“Kek, coba Kakek lihat! gadis yang berdiri di depan tiang rumah itu, dia pasti Maryati adik ku!” teriak Sulastri dengan senang sekali.
Dengan suara yang lantang Lastri pun memanggil nama adiknya dengan jelas, seraya mencoba menggoyang-goyang pintu gerbang yang berdiri kokoh.
“Maryati, ini Kakak, kesini sayang, ini Kakak dek!”
Mendengarkan suara teriakan Lastri, Maryati bukannya bergegas menghampiri Kakaknya, dia malah berdiri diam di tiang rumah itu, sekilas Lastri melihat adiknya begitu kurus dan kotor, persis seperti pengemis.
“Heh, kalian semua! kenapa adik ku seperti itu?”
“Ada apa dengan adik mu?”
“Kenapa dia terlihat kotor dan dekil?”
“Itu karena adik mu itu seorang pembantu di rumah kami.”
“Apa kata kalian, adik ku kalian jadikan pembantu?”
“Iya, emangnya salah, kalau kami menjadikannya pembantu?”
“Iya salah lah, adik ku itu bukan seorang pembantu.”
“Enak saja! kalau dia masuk kedalam istana, milik kami, maka dia pun siap untuk mejadi pembantu di sana.”
“Berteriak terus anak manis, sampai capek, ayo semuanya, mari kita masuk kedalam!” ajak salah seorang di antara mereka .
“Baik Kak,” jawab yang lainnya serentak.
Ketika mereka semua masuk, mereka pun menyempatkan diri menarik tangan Maryati, hingga gadis kecil itu menangis kesakitan. Mesti demikian anak-anak Roro tampak mengabaikannya, mereka semua terus saja menyeret Maryati dengan kasarnya.
Melihat hal itu, Lastri pun terhenyak di depan pintu pagar, dia sungguh tak tahan melihat penderitaan yang di alami oleh adiknya itu.
“Sudahlah sayang, mereka semua nggak mau mengizinkan kita masuk kedalam.”
“Tapi, yang tadi itu benar, Maryati kan Kek?”
“Iya nak, dia itu Maryati adik mu.”
“Tapi kenapa dia nggak mau menghampiri Lastri Kek?”
“Barang kali dia takut sama anak-anak Bibi mu, yang jahat dan kejam itu.”
“Kenapa ya Kek, anak Bibi Roro itu pada jahat semua?”
__ADS_1
“Entahlah nak, barang kali Bibi mu nggak mendidiknya dengan baik dan benar.”
“Padahal aku dan Maryati adalah saudaranya sendiri, tapi mereka masih juga bersikap kasar pada kami.”
“Kalian berdua memang saudaranya, tapi mereka semua nggak tahu, apa itu artinya saudara, nak. Itu sebabnya mereka berbuat kasar seperti itu pada kalian berdua.”
“Lihat saja nanti, jika aku sudah dewasa, akan ku rebut Maryati dari tangan mereka semua.”
“Iya sayang, saat ini Lastri masih kecil, jadi Lastri tak berdaya melawan mereka semua.”
“Iya, Kek.”
“Kalau begitu mari kita kembali pulang kerumah, nanti kalau Lastri sudah dewasa, Kakek akan hantarkan Lastri kesini, untuk menjemput Maryati.”
“Baik Kek,” jawab Lastri pelan.
Dengan perasaan kecewa, mereka berdua pun akhirnya kembali pulang kerumahnya. Wajah mereka yang muram di pandang Tini sebagai suatu kegagalan. Untuk menyenangkan hati keduanya, Tini langsung menyuguhkan mereka dengan panggang ikan kesukaan Lastri.
“Udah...! jangan sedih, sekarang Lastri makan dulu, lihat, Nenek udah bikinin makanan kesukaan Lastri.”
“Iya Nek,” jawab Lastri pelan.
Sementara itu, Burhan tampak diam duduk di sebelah Lastri seraya menarik nafas panjang. Sebenarnya, sebelum mereka berdua berangkat menuju rumah Roro, Tini udah tahu, kalau anak-anak Roro tak bakal memberi mereka izin untuk masuk kedalam.
“Udah..! nggak usah di pikirin, lain kali, kalau Lastri punya waktu, Lastri bisa kesana lagi Kok, nanti Lastri di antar kan sama Kakek lagi.”
“Iya Nek.”
“Nah sekarang makan panggang ikan kesukaan mu itu!”
“Baik Nek,” jawab Lastri pelan.
Gadis kecil itu mencoba memaksakan diri untuk makan masakan yang di suguhkan Tini padanya. mesti daging ikan itu begitu gurih, namu Lastri merasakan pahit saat di telan. tapi dia tetap memaksakan diri untuk memakannya.
Mesti Lastri tidak memperlihatkan rasa kecewanya pada Tini, tapi Tini tahu, apa yang dirasakan oleh Putrinya itu. Seraya membelai rambut Lastri, Tini mencoba memberinya semangat.
“Sayang, semua masalah itu pasti ada jalan keluarnya, tergantung kita apakah kita sanggup menerimanya dengan sabar atau tidak. Nenek tahu, kau pasti gagal menemui adik mu Maryati, tapi suatu saat nanti, Allah pasti membukakan jalan untuk kalian bisa bertemu kembali.”
“Iya, Nek.”
“Saat ini, kita hanya bisa mendo’akannya saja, semoga Allah selalu melindungi adik mu disana.”
“Iya Nek. Lastri pasti mendo’akan adik kok.”
“Anak pintar, semoga do’a mu akan diijabah oleh Allah nak.”
“Iya Nek.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*