Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 17 Rahasia yang dibongkar


__ADS_3

“Aku juga nggak ingin Bibi rawat, sekarang lepaskan aku, biarlah aku jadi gelandangan dari pada hidup bersama orang-orang berhati Iblis.”


“Kurang ajar, kau ini memang anak nggak tahu balas budi,” ujar Roro sembari terus mencambuk kaki dan tubuh Maryati hingga gadis malang itu pun tak sadarkan diri.


Ternyata siksaan Maryati tak berakhir hingga sampai di situ saja, setelah dia mendapat siksaan cambuk, Roro pun mengurungnya di dalam kamar tanpa memberinya makan selama tiga hari.


Saat itu Maryati mengalami demam tinggi, karena luka cambuk yang ada di sekujur tubuhnya mulai membengkak. Siang malam Maryati hanya bisa menangis dan mengadukan semua keluh kesahnya pada Ibu yang selama ini di percaya telah menolongnya.


“Ibu, tolong aku, Bi Roro telah menyiksa ku lagi,” rintih Maryati dengan deraian air mata.


Sekujur tubuh Maryati terasa gemetar, semua tulang persendiannya tak kuasa untuk di gerakkan.


Saat Maryati terus merintih menahan rasa sakit, Roro pun datang dan menyiramnya dengan seember air.


“Bangun kau anak pemalas, sekarang katakan pada ku, kemana kau jual tusuk konde milik ku itu!”


“Aku nggak mencurinya Bi,” jawab Maryati dengan suara pelan.


“Bohong! kau selalu saja berbohong pada ku. Baik, dalam satu minggu ini, kalau kau belum juga mau ngaku, maka akan ku potong lidah mu yang suka bohong itu.”


“Aku benar-benar nggak mencurinya Bi.”


“Aku nggak percaya dengan mu!”


“Mesti gimana lagi aku berkata, jujur pun pasti Bibi nggak percaya.”


“Kau benar-benar anak nggak berguna, nggak tau berterima kasih, sudah di tampung hidup di rumah ini, kau justru melakukan perbuatan keji. Apakah kau tahu berapa harga tusuk konde ku itu, hah!”


“Nggak tahu Bi, nggak tahu.”


“Harga satu tusuk konde ku itu, senilai sepuluh ekor kerbau!”


“Hah..!” mendengar ucapan Bibinya itu, Maryati semakin ketakutan.


“Kau tahu, harga tusuk konde ku itu lebih mahal dari harga dirimu.”


“Tapi aku nggak mengambilnya Bi.”


“Bohong!” bentak Roro seraya mendorong tubuh Maryati, hingga gadis kecil itu pun tersungkur kelantai.


“Ampun Bi, ampun, tapi aku benar-benar nggak mengambilnya.”

__ADS_1


“Sekarang masuk kau kedalam kamar mu, cepat!” bentak Roro dengan suara keras.


“Tapi Bi, kamar ku basah, karena telah bibi siram dengan air.”


“Kalau kau nggak mau masuk kedalam kamar mu, baik. Sini ikut Bibi!” ujar Roro seraya menyeret Maryati ke dalam kendang kerbau yang kotor dan berbau busuk.


Setibanya di dalam kandang kerbau, Maryati di pukuli dengan ranting kayu agar dia mau mengakui apa yang tidak dia perbuat.


“Sekarang cepat ngaku! cepat!” ujar Roro sembari terus melibas kaki Maryati dengan ranting kayu, yang biasa di pakai untuk memukul kerbau.


“Ampun Bi, ampun, aku nggak mencuri tusuk konde mu itu, aku bersumpah demi apa pun Bi, tolong lepaskan ikatan tangan ku ini, sakit Bi, huhuhu..huk..huk..huk..!”


“Kalau kau nggak mau ngaku juga, maka malam ini kau akan tidur bersama kerbau disini.”


“Hah, nggak Bi, nggak. Ku mohon lepaskan ikatan tangan ku ini Bi.”


Mesti jeritan dan rintihan Maryati terdengar jelas di telinga Roro, namun perempuan itu tetap saja berlalu dan mengabaikan suara gadis kecil itu.


Setelah sore, kesepuluh anak-anak Roro kembali dari sawah, seraya mengiringi puluhan ekor kerbau miliknya.


Melihat Maryati terikat di kandang kerbau, mereka bukannya kasihan, mereka semua malah mengejek dan menertawai Maryati. Rasa sakit itu terpaksa harus di tahanannya sendiri, karena jika Maryati melawan dia pasti di hajar habis-habisan oleh anak-anak itu.


“Rasain..! sudah numpang, tapi nggak tahu malu!”


“Itu makanya, jadi bocah itu, jangan nakal,” ujar salah seorang di antara mereka seraya mengambil kotoran kerbau dan mengoleskannya kewajah Maryati.


Mesti marah, tapi Maryati tak dapat membuang kotoran itu dari wajahnya, karena kedua tangannya sedang terikat saat itu.


Mendapat perlakuan dari anak-anak Roro yang jahat dan kejam itu, Maryati pun berniat akan membongkar semua kebusukan putra sulung Roro.


Malam hari di saat semua orang tertidur pulas, Danu pun datang ke kandang kerbau, dia melihat Maryati tertidur dengan cara bergelantungan, Danu bukannya melepaskan ikatan tangan Maryati, dia justru menyulut puntung rokok ketubuh gadis malang itu.


“Hah..sakit, sakit, panas!” jerit Maryati dengan suara keras.


“Hehehe…! kau kesakitan ya anak manis, mau ku tambah lagi siksaannya?”


“Nggak! kumohon, jangan lakukan itu pada ku.”


“Jangan lakukan, enak aja, kau kira kau itu siapa, mesti di perlakukan seperti seorang putri di rumah ini? jangan mimpi kau busuk!”


“Kenapa kau begitu jahat pada ku, apa salah ku pada mu, padahal aku nggak pernah memberi tahukan masalah mu pada Bibi, mesti selama empat hari ini aku terus menerus dia siksa.”

__ADS_1


“Itu salah mu! kenapa saat itu kau melihat aku mengambil tusuk konde itu.”


“Kenapa itu mesti menjadi salah ku?”


“Karena kau melihat aku keluar dari kamar Ibu ku.”


“Oh, kalian semua sungguh tak berperasaan, semoga suatu saat nanti kalian mendapatkan ganjaran yang setimpal.”


“Kurang ajar, kau menyumpahi keluarga ku!” teriak Danu seraya menarik rambut Maryati dan menyulut puntung rokok ke lehernya.


“Ibu, tolong aku Bu, tolong!”


“Ibu, kata mu, Ibu yang mana? hahaha…! kau kira Ibu mu akan datang untuk menolong mu? apakah kau nggak tahu, kalau saat ini Ibumu sedang di makan oleh cacing tanah di dalam kuburnya.


Hahaha…!” ujar Danu seraya meninggalkan Maryati.


Tak tahan dengan siksaan dan tekanan yang terus berdatangan, keesokan harinya, Maryati langsung mengakuinya, bahwa tusuk konde Bibinya itu telah di curi oleh Danu. Bukannya mendapat perlindungan dari Bibinya, Maryati justru di perlakukan lebih buruk lagi.


“Nggak mungkin Danu yang mencurinya, nggak mungkin! kau pasti bohong.”


“Kalau Bibi nggak percaya, Bibi tanya sendiri pada nya, aku yang melihat Danu keluar dari kamar Bibi malam itu seraya memegang tusuk konde milik Bibi.”


“Bohong! kau pasti telah berbohong.”


“Nggak Bi, aku berkata jujur.”


“Kurang ajar, untuk melepaskan hukuman mu, kau menuduh putra kesayangan ku yang telah mencuri, dasar gadis tak berguna!” bentak Roro sembari mencambuk tubuh Maryati berulang kali.


Setelah Roro merasa lelah mencambuk Maryati, dia pun masuk kedalam rumahnya dan menemui Danu yang saat itu masih tidur dengan nyenyak.


“Danu, Danu, bangun kau, cepat! temui Ibu di ruang tengah.”


“Baik Bu,” jawab Danu pelan.


“Ada apa Kak, kenapa Ibu memanggil Kakak?” tanya Heru dengan nada setengah berbisik.


“Entahlah Dek, Kakak nggak tahu.”


“Atau jangan-jangan Maryati telah memberi tahu Ibu tentang tusuk kode itu," gumam Danu pelan.


Seraya menarik nafas panjang, Danu pun keluar dari kamarnya untuk menuju ruang tengah. Dari kejauhan Danu melihat Ibunya duduk dengan gelisah sekali. Dengan pelan Danu pun menghampirinya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2