
Ketika sore, Arman pun pulang ke rumah. Seperti hari-hari biasa, Arman pulang dengan membawa begitu banyak buah-buahan dan daging Ayam yang sudah dibersihkan.
“Abang dapatkan daging ini di mana?”
“Kenapa kau bertanya begitu Tia?”
“Nggak, aku hanya ingin tahu saja, sebab setiap hari kau kembali pulang dengan membawa buah dan daging, aku hanya ingin tahu saja, kau nggak marah kan?”
“Untuk apa marah, kalau pun ku beritahu, apakah kau nggak merasa terkejut nantinya?”
“Apa maksud dari ucapan mu itu?”
“Semua buah-buahan dan makanan yang ku bawa pulang, semua ku ambil dari kebun orang yang ku lewati.”
“Ya Allah, Bang! jadi kau selama ini mencuri?”
“Kalau nggak seperti itu, lalu dari mana aku mendapatkan buah-buahan itu, Tia! kau kira aku punya banyak uang untuk membelinya, untuk biaya makan saja syukur aku bisa penuhi, lalu bagai mana dengan gizi anak yang ada di dalam kandungan mu itu?”
“Tapi, kau nggak perlu mencuri kan Bang.”
“Kalau nggak mencuri, lalu aku bagai mana?”
“Aku nggak perlu makan buah hasil curian lagi, biarlah aku nggak makan apa-apa, asalkan kau jangan mencuri.”
“Alaah! sok suci kau Tia!”
“Aku bukan sok suci Bang, tapi kau tahu sendirikan, kalau kau selalu memberi anakmu makanan yang haram, apakah kau bisa menjamin kelak kalau dia sudah dewasa, dia nggak menjadi jahat.”
“Huuh, dasar istri nggak tahu berterima kasih kau Tia.”
Karena emosi dengan perbuatan suaminya, ketika Arman sudah pergi, Tia pun berlari menemui kedua orang tuanya. Di rumah Maryati, Tia menangis histeris. Maryati yang mendapatkan putrinya sedih dia pun mencoba memberinya sedikit nasihat.
“Kau nggak usah terlalu bersedih, kau nasehati suami mu itu, agar dia nggak lagi mengambil hak milik orang lain.”
“Aku udah menasehatinya Bu, tapi Bang Arman marah pada ku, dia bahkan mengatakan aku sok suci.”
“Itu kan hanya kata-kata amarah yang keluar dari mulut suami mu, sebentarlagi, dia juga bakalan sadar dan akan meminta maaf pada mu.”
“Iya, Bu.”
“Nah sekarang kembalilah pulang, suamimu pasti telah menunggu di rumah.”
“Dia nggak ada di rumah Bu, Bang Arman sudah pergi dari tadi siang.”
“Pergi kemana?”
“Aku nggak tahu Bu.”
“Ya sudah, mesti dia sedang tak berada di rumah, sebaiknya kau pulang saja, biar dia nggak kecarian istrinya ketika sudah pulang nanti.”
__ADS_1
“Baik Bu.”
Kata-kata nasihat yang di ucapkan Maryati. Di dengar oleh Tia. Seperti yang di sarankan oleh Ibunya, Tia pun kembali pulang ke rumahnya.
Setelah menunggu begitu lama, Arman belum juga kembali, Tia merasa sangat khawatir dengan suaminya itu.
“Kenapa Bang Arman belum kembali ya? padahal udah larut malam. Apakah dia marah dengan kejadian tadi siang? ah sudahlah, nanti dia juga bakal kembali,” gumam Tia.
Hingga malam semakin larut, Arman ternyata tak juga pulang kerumahnya, dia marah dan merajuk, karena di salahkan oleh Tia atas semua kebaikan yang telah dia lakukan.
Tia yang tahu, kalau suaminya marah, dia pun kembali ke rumah orang tuanya. Tiga hari telah berlalu, Arman belum juga menampakkan puncak hidungnya, sementara kandungan Tia sudah semakin tua.
“Kemana perginya suami mu itu Tia, kenapa dia nggak pernah pulang ke rumah mu?”
“Aku nggak tahu Bu, aku bahkan sudah tanyakan pada semua teman dan orang yang mengenalinya, mereka hanya mengatakan nggak tahu.”
“Keterlaluan dia, sudah jelas istri sedang hamil tua, bukannya di sayangi, dia malah pergi entah kemana.”
“Lalu aku mesti gimana Bu?”
“Sebaiknya, kau tidurlah disini, nggak usah ke rumahmu, kalau suami mu belum pulang.”
“Baik Bu.”
Tia yang selalu patuh pada kedua orang tuanya, tak pernah membantah, dia tak banyak bicara, karena kondisi kandungannya yang sudah mulai sakit-sakitan.
Tanpa di sangka sama sekali, keesokan harinya, tiba-tiba puluhan warga dari Desa seberang, datang kerumah Maryati. Mereka datang bukan dengan cara baik-baik, tapi mereka semua datang dengan amarah yang meluap-luap.
“Mana Arman?” tanya seorang pria pada Maryati.
“Dia nggak di sini, dia bahkan sudah satu minggu tak pernah pulang kerumahnya.”
“Bohong!” bentak seorang pria.
Mendengar ribut-ribut di luar, Tomi pun langsung menghampiri mereka semua. Dia berniat ingin mengetahui kejadian apa yang telah membuat semua warga itu berdatangan kerumahnya.
“Sekarang bicarakan secara baik-baik, apa yang telah terjadi pada kalian?”
“Arman telah meracuni kolam ikan milik kami.”
“Apa? Arman meracuni kolam ikan milik kalian?”
“Iya! total kerugian yang kami alami tidak sedikit.”
“Emangnya, berapa kolam yang telah diracuni oleh Arman?”
“Ada tiga kolam dan seluruh ikannya sudah siap untuk di panen.”
Tia yang mendengar kabar itu langsung sock dan pingsan. Maryati dan Nisa langsung berlari menyelamatkan Tia yang sudah tak sadarkan diri itu.
__ADS_1
“Jadi, berapa kami harus mengganti kerugian yang kalian alami itu?”
“Karena sebagian ikannya telah kami jual, jadi Bapak hanya mengganti seharga sepuluh juta rupiah.”
Mendengar uang sebanyak itu, Tomi hanya terdiam sejenak, dia tak tahu harus mendapatkan uang itu dari mana.
“Apakah kalian sudah mencari keberadaannya?” tanya Maryati ingin tahu.
“Kami semua sudah mencarinya, namun dia nggak lagi berada disini.”
“Jadi saat ini, dia ada dimana?”
“Dia sudah pulang ke kampung halamannya.”
“Baiklah, gimana kalau kalian bersabar dulu, biar Ibu datangi dia di kampung halamannya.”
“Berapa hari kami harus menunggu?”
“Lima hari paling lambat,” jawab Maryati dengan yakin sekali.”
“Baik, kami akan menanti selama lima hari, kalau uangnya nggak Ibu dapatkan, maka kami akan menjebloskan menantu Ibu ke dalam penjara.”
“Baik lah.”
Kesepakatan pun mereka buat dan di tanda tangani oleh Maryati. Lalu semua para warga itu pun membubarkan diri mereka kembali kerumah masing-masing.
“Apakah kau yakin, akan mencari Aman di kampungnya Yati?” tanya Tomi tak yakin dengan keputusan istrinya itu.
“Kalau nggak seperti itu, lalu apa lagi alasan yang akan kita buat untuk mereka Bang, uang sepuluh juta itu nggak sedikit banyaknya, kita mesti mendapatkannya dari mana?”
“Baiklah, semoga saja kau berhasil menemukan Arman.”
Karena merasa takut akan di jebloskan kedalam penjara, tiba-tiba saja Arman datang ke rumah Maryati di tengah malam. Saat itu semua orang sedang tertidur dengan nyenyak sekali, lalu terdengar pintu di ketuk dari luar.
Tia yang mendengar pintu di ketuk dari luar, diapun mencoba membangunkan Ibunya, Tia takut kalau yang datang adalah orang yang ingin berbuat jahat pada keluarganya.
“Ibu, aku mendengar pintu di ketuk dari luar.”
“Siapa yang mengetuknya?”
“Aku nggak tahu Bu.”
“Selama Ibu tinggal di sini, belum pernah ada orang yang mengetuk pintu di tengah malam buta begini.”
“Lalu kita bagai mana Bu?”
“Mari kita lihat siapa yang datang, di tengah malam begini.”
“Mari Bu,” jawab Tia dengan suara lembut.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*