
“Bahkan, aku udah meminjam beras hampir di setiap rumah tetangga Bu, kerumah tetangga yang mana lagi aku mesti meminjam beras?”
Mendengar ucapan anaknya Maryati langsung terdiam, tak mungkin Nisa berbohong padanya, untuk itu Maryati mencoba sendiri pergi meminjam beras ketempat tetangga yang lain. Namun, hal hasil tetap sama, beras itu tak dia dapat sama sekali, hanya omelan yang di terimanya dari tetangga yang jahat.
“Gimana Bu, apakah Ibu mendapatkan berasnya?” tanya Nisa ingin tahu.
“Nggak nak, mereka semua memarahi Ibu nak, karena utang beras sebelumnya belum Ibu kembalikan."
Kesulitan hidup yang di rasakan Maryati memang tak tanggung-tanggung. Bima yang selama ini menjadi anak yang sangat menyayangi Ibu dan adik-adiknya, tak lagi ada untuk mereka semua.
Nisa yang sangat menyayangi Ibunya, dia sering melihat Maryati mengeluarkan darah segar dari tubuhnya, Nisa merasa kasihan sekali, dia yang saat itu masih sekolah di SMP, tak bisa berbuat apa-apa.
Sementara itu, Tia yang sudah tak bersekolah lagi, dia tak mau pulang kerumah Ibunya, mesti hidup selalu di perbudak oleh Dira, Tia tetap saja bertahan tinggal bersama dengannya.
Begitu juga dengan Leni yang saat itu berada di rumah kos, Bima menariknya dan tinggal bersamanya.
Dengan kehadiran Tia dan Leni bersamanya, Dira bisa memanfaatkan keduanya untuk menjadi pembantu, mulai dari memasak, membersihkan rumah, mencuci dan lain sebagainya, semua di kerjakan oleh Tia dan Leni.
“Heh, Tia, kenapa masih tidur, cepat kau masak, nanti Abang mu bisa marah.”
“Tapi aku kurang sehat badan Kak.”
“Ah, itu nanti saja kita pikirkan.”
“Tapi aku nggak bohong Kak.”
“Ingat Tia, Kakak nggak suka kau jadi orang pemalas ya, jika ingin tinggal di rumah ini, kalau kau nggak mau bekerja, pulang sana kerumah Ibu mu yang miskin itu.”
“Baik kak,” dengan berat hati, Tia terpaksa bangkit untuk memasak bersama Leni di dapur.
Di saat Bima pulang dari tempat dia bekerja, Dira selalu baik pada mereka berdua, serta memanjakan keduanya.
“Gimana dengan sekolah mu Len? apakah baik-baik saja?”
“Iya Bang.”
“Apakah Ibu, ada mengirimkan uang belanja untuk kalian?”
“Udah dua bulan ini, Ibu tak lagi mengirimkan uang belanja ku, Bang.”
__ADS_1
“Ada apa dengan Ibu, kenapa dia nggak mengirimkan uang belanja kalian? apakah dia nggak tahu kalau hidup di kota ini sangat sulit?”
Mendengar ucapan Bima Tia dan Leni hanya diam saja, karena mereka berdua tak tahu sama sekali dengan kondisi Maryati, yang sudah jauh dari mereka semua.
“Tia, besok pagi pergi kau ke terminal, kirim surat ke Ibu, katakan padanya untuk segera mengirimkan uang belanja kalian.”
“Baik Bang,” jawab Tia seraya masuk kedalam kamarnya, untuk menulis sepucuk surat buat Ibunya.
Surat pun tiba di tangan Maryati, Nisa membaca isi surat itu dengan suara lantang. Maryati tampak termenung setelah mendengar isi surat itu.
“Apa yang mesti kita lakukan nak, Ibu nggak punya apa-apa lagi untuk di jual.”
“Kalau Kak Tia nggak bersekolah lagi, kenapa dia nggak pulang saja ke rumah Bu?”
“Entahlah nak, tapi kata Kak Tia, Kak Dira melarangnya pulang ke rumah.”
“Kenapa Kak Dira melarang, apakah Kak Dira sanggup membiayai mereka berdua di sana? jangan-jangan Kak Dira menjadikan mereka berdua pembantu dirumahnya.
“Entahlah, Ibu pusing memikirkannya.”
“Kalau keduanya masih membutuhkan biaya sekolah, lalu bagai mana dengan sekolah yang yang akan ku tuju di Padang, Bu? pasti Ibu nggak bakalan sanggup membiayai nya.”
“Nggak mungkin kau nggak melanjutkan sekolah mu nak, sementara semua Kakak-kakak mu melanjutkan sekolahnya hingga SLTA."
Hanya beberapa minggu, Anisa, bersekolah, dia merasa kasihan sekali dengan Ibunya yang akan bekerja menanggung biaya hidup dan biaya sekolah yang tidak sedikit banyaknya. Secara diam-diam Anisa berhenti dari sekolah dan diapun kembali kerumah Ibunya.
“Kenapa kau pulang nak, bukankah kau sekolah?”
“Aku nggak mau sekolah Bu, aku biar tamat SMP saja, aku akan disini menjaga Ibu.”
“Tapi Ibu masih sanggup mencari uang untuk biaya sekolah kalian berempat.”
“Nggak Bu, aku tahu Ibu saat ini sedang sakit.”
“Penyakit Ibu hanya datang sesekali nak, kau nggak usah mencemaskan Ibu.”
“Nggak Bu, mulai besok aku yang akan bekerja mencukupi semua kebutuhan keluarga ini.”
“Kau mau bekerja apa nak?”
__ADS_1
“Apa saja, yang penting bisa menghasilkan uang.”
Kebetulan, tetangga yang tinggal tak begitu jauh dari rumah Maryati, menawarkan Nisa untuk bekerja bersama nya di sebuah perkebunan. Nisa tak menolaknya, dengan senang hati, Nisa langsung mengikuti perempuan itu.
Mesti pekerjaan yang di gelutinya sangat sulit dan tak cocok dengan dirinya, namun Nisa tetap saja berusaha. Dengan semangat dan keikhlasan hatinya, akhirnya Nisa pun menerima gaji pertamanya.
Semua uang gaji yang di dapat Nisa, langsung di serahkan pada Maryati, lalu uang itu di bagi Maryati, sebagian dikirim untuk ke tiga anaknya di Padang.
Selama Nisa bekerja, mereka semua mulai merasakan kebahagiaan, perekonomian keluarga pun kembali berjalan stabil. Tidak seperti anak gadis yang lainnya, setiap mereka selesai menerima gaji, mereka menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri.
Anisa menatap mereka dengan hati sedih, tapi jika Nisa memanfaatkan uang itu untuk dirinya, lalu bagai mana nasib Ibu dan keluarganya yang lain. Dalam kesendiriannya Nisa selalu berfikir secara positif.
“Nisa, duduklah nak, ada yang perlu Ibu bicarakan dengan mu.”
“Apa itu Bu?”
“Ibu merasa tak enak diri pada mu, setiap gajian, kau nggak pernah memegang uang sedikitpun, semuanya kau serahkan pada Ibu.”
“Nggak apa-apa Bu, aku ikhlas kok, lagian kalau uangnya nggak aku berikan pada Ibu, bagai mana pula dengan biaya sekolah Kakak di Padang.”
“Lalu bagai mana dengan sekolah mu nak?”
“Ibu tenang saja, jika Allah belum berkehendak, aku juga belum bisa sekolah kan, jadi Ibu nggak perlu khawatir soal itu.”
Maryati tahu, kalau beban yang di tanggung putri kecilnya itu sangat berat, untuk itu Maryati tak mau berpangku tangan dirumah, bersama Tomi, mereka berkebun sayuran, hasilnya mereka jual ke pasar.
Disaat ekonomi sedang sulit, Panji datang ketempat Maryati berada, Panji ingin tinggal dan menetap dirumah Maryati.
“Aku nggak bisa menerima mu Kang.”
“Kenapa?”
“Karena saat ini perekonomian keluarga kami sedang sulit, aku dan Bang Tomi tak sanggup lagi bekerja, lalu bagai mana dengan biaya hidup mu?”
“Kalau untuk biaya hidup, biar aku tanggung sendiri nantinya.”
“Tapi aku tetap keberatan.”
“Yati, biarkan saja Kang Panji tinggal bersama kita, toh dia itu nggak akan memberatkan kita kok.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*