
Mendengarkan kesepakatan itu Yati merasa senang, dia lebih baik tinggal di rumah Kepala Desa cempaka, ketimbang pulang ke rumah Bibinya.
Karena Maryati akan tinggal bersama Bu Kades, dia pun langsung menjemput Maryati ke rumah sakit, Bu Kades tampak tersenyum senang menerima Maryati tinggal bersama dengannya.
“Terimakasih Bu, sudah berbaik hati menerima ku dirumah Ibu.”
“Udah, nggak usah sungkan selama tinggal di rumah Ibu, lagian rumah Ibu ini sepi kok, nggak ada siapa-siapa selain Ibu dan Bapak. Kalau Yati betah, Yati boleh kok tinggal kapan saja yang Yati mau.”
“Makasih, Ibu sangat baik sekali.”
“Nah sekarang Yati istirahatlah dulu, Ibu akan pergi ke toko sebelah.”
“Baik Bu,” jawab Yati dengan suara lembut.
Di rumah Bu Kades, Yati sangat senang sekali, dia di perlakukan persis seperti anak sendiri, bahkan Pak Kades juga menyayangi Yati melebihi dirinya.
Semua permintaan Yati, selalu di turuti, namun karena Yati tak biasa hidup mewah dan berlebihan dia sering menolak apa saja yang di tawarkan Pak Kades pada dirinya.
Seperti tinggal di rumah Roro, pagi-pagi sekali Yati sudah bangun dan langsung pergi ke dapur untuk masak, mencuci dan menimba air untuk kebutuhan mereka.
Marni istri Pak Kades merasa senang karena dia punya seorang anak gadis yang sangat baik dan penurut, serta rajin. Bahkan selama Yati tinggal di rumah Marni, Marni tak pernah memegang apapun, kerjaannya hanya duduk tenang dan tak berbuat apa-apa.
Pagi itu saat Yati di ajak oleh Marni pergi ke pasar, dia pun memanggil becak langganannya, pemilik becak itu seorang pria tampan yang masih lajang.
Begitu juga dengan Yati selain memiliki tubuh yang semampai, Yati juga memiliki wajah sederhana. Di tidak terlalu cantik, tapi Yati memiliki budi pekerti yang tak kalah cantik jika di bandingkan dengan wanita cantik sekali pun.
Di awal pertama pertemuan mereka, Rendi ternyata telah menaruh simpatik lebih pada Yati, namun dia tak mau mengungkapkannya pada Marni, Ibu angkat Yati.
Lama kelamaan karena sering bertemu, perasaan itu pun tak kuasa di tahan oleh Rendi, mesti saat itu Yati masih berusia sepuluh tahun, namun Rendi ingin sekali memiliki dirinya.
“Emangnya Yati belum pernah mengenal pria selain Abang?”
“Belum,” jawab Maryati singkat.
“Kenapa belum?”
“Nggak tahu.”
“Apakah Yati punya keluarga?”
“Nggak tahu.”
“Kenapa kamu selalu bilang nggak tahu sih?”
“Emang nggak tahu.”
“Kalau Abang melamar Yati, apakah Yati mau menikah dengan Abang.”
“Menikah? menikah itu apa sih Bang?”
“Menikah itu, antara Yati dan Abang saling bersama.”
“Lalu kalau bersama, kita mesti ngapain?”
“Nanti kau akan tahu sendiri, kalau kita telah menikah.”
__ADS_1
“Jika aku nggak mau, kau mesti gimana?”
“Abang akan datang pada kedua orang tua angkat mu.”
“Mesti memohon berulang kali, kalau aku belum bersedia menikah dengan mu, hasilnya tetap nihil kan?”
“Kenapa kau mesti menolak Abang?”
“Jawabannya hanya singkat, karena kita baru saja berkenalan, Abang pasti tahu, nggak semua wanita di dunia ini bisa dengan cepat menerima seseorang. Apalagi hal itu berhubungan dengan masa depannya.”
“Kau memang benar, baiklah. Abang akan menanti mu, sampai kapan kau merasa siap untuk menikah.”
Mendengar ucapan Rendi, Maryati hanya diam saja, tak sepatah katapun yang terucap dari bibirnya, mesti demikian dalam hati gadis manis ini, juga punya rasa yang sama dengan Rendi, pria yang bekerja sebagai penarik becak.
Pagi itu, tampak Yati tersenyum-senyum sendiri, Marni yang melihatnya, juga ikut tersenyum, dalam hati Marni, pasti putrinya sedang menyembunyikan sesuatu.
Saat Yati berdiri, Marni langsung memegang pundaknya, merasakan seseorang memegang pundaknya Yati pun menoleh kebelakang.
“Ibu,” ujar Yati tersenyum manis.
“Kau lagi memikirkan apa sayang?”
“Aku nggak lagi mikirin apa pun Bu.”
“Benar, kau nggak lagi sedang memikirkan sesuatu?”
“Benar Bu.”
“Tapi Ibu melihatmu sedang memikirkan sesuatu, kalau begitu coba Ibu tebak, boleh kan?”
“Ibu mau menebak apa?” tanya Yati ingin tahu.
“Baik, Ibu boleh kok menebaknya.”
“Kalau begitu, kau pasti sedang jatuh cinta saat ini.”
“Jatuh cinta? jatuh cinta sama siapa Bu?”
“Udah, nggak usah menyembunyikannya dari Ibu, Ibu tahu kok, kau pasti mencintai Rendi.”
“Ibu…!”
“Ibu benar kan sayang?”
“Ibu…! aku kan jadi malu.”
“Nggak perlu malu, mencintai dan di cintai itu, memang hak semua manusia, kenapa kita mesti malu, kalau ada orang yang kita cintai atau sebaliknya.”
“Tapi Bu, apakah Ibu kenal dengan Rendi?”
“Kenal sayang, sangat kenal sekali.”
“O ya.”
“Rendi itu pria baik, dia sudah lama menjadi penarik becak di Desa Cempaka ini, Bapak dan Ibu, bahkan udah berlangganan becak dengannya sudah lama sekali.
__ADS_1
“Emangnya kedua orang tua Bang Rendi itu ada Bu?”
“Ada, tapi mereka nggak tinggal di Desa ini.”
“Emangnya mereka tinggal dimana Bu?”
“Ada, sekitar sepuluh kilo dari sini.”
“Ooo, jadi Bang Rendi itu bukan orang asli Desa ini ya?”
“Memang, Rendi itu bukan orang asli Desa ini, tapi seluruh Desa ini sudah mengenal Rendi lebih dari saudaranya sendiri.”
Mendengar informasi tentang Rendi dari Ibu angkatnya itu, hati Maryati terasa bahagia sekali, mesti belum menerima Rendi sepenuhnya, tapi Maryati yakin suatu saat nanti kalau Allah berkehendak pasti mereka akan di pertemukan.
Malam itu disaat Maryati sedang duduk bersama kedua orang tua angkatnya di ruang tamu, tiba-tiba saja, pintu di ketuk seseorang dari luar, mendengar suara pintu di ketuk, ketiganya pun saling beradu pandang satu sama lainnya.
“Yati, coba periksa nak, siapa yang datang.”
“Baik Yah,” jawab Maryati dengan suara lembut.
Dengan pelan pintu pun di buka dari dalam. Akan tetapi betapa terkejutnya Maryati, karena yang datang saat itu adalah pria yang sangat dipujanya.
“Bang Rendi?”
“Boleh Abang masuk.”
Mendengar ucapan Rendi, Maryati tak tahu mesti menjawab apa, karena jantungnya saat itu sedang bergetar begitu kuat.
“Siapa yang datang nduk?” tanya Pak Kades dari dalam.
“Bang Rendi Yah!” seru Maryati dari sisi pintu.
“Ooo, Rendi. Kalau begitu biarkan dia masuk!” perintah Pak Kades pada Maryati.
“Baik Yah.”
Sembari mengiringi Rendi dari belakang, Maryati tampak tersenyum-senyum sendiri, perasaan bahagia sepertinya tak tahu kemana mesti dia luapkan.
“Assalamu’alaikum, Pak.”
“Wa’alaikum salam, silahkan duduk Ren.”
“Baik Pak terimakasih.”
“Gimana kabar mu Ren, apakah kau sehat-sehat selalu?”
“Alhamdulillah, sehat Pak.”
“Syukurlah, lalu bagai mana dengan keluarga mu di kampung.”
“Mereka semua juga sehat saat ini Pak.”
“Ooo, gitu.”
Di saat mereka sedang bercerita, Maryati pun keluar sembari membawa dua gelas kopi hangat untuk mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*