Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 14 Nasib Maryati


__ADS_3

“Nah sekarang hari sudah malam, tidurlah nak, besok kau mau sekolah bukan?”


“Iya Nek,” jawab Lastri seraya meninggalkan meja makan.


Setelah Lastri masuk kedalam kamarnya, Tini mencoba bicara pada suaminya, tentang kejadian yang mereka alami hari itu.


“Semuanya gagal Bu.”


“Gagal gimana Pak?”


“Mereka semua nggak mengizinkan kami masuk kedalam.”


“Mereka siapa sih?”


“Siapa lagi, kalau bukan anak-anaknya non Roro.”


“Mereka itu benar-benar keterlaluan ya Pak, teganya mereka memperlakukan anak yatim piatu seperti itu.”


“Biar karma Allah yang bakal menghukum mereka nanti Bu.”


“Jadi kalian berdua nggak melihat Maryati?”


“Kami melihatnya dari jauh Bu, Maryati terlihat begitu kotor dan dekil, persis seperti anak gelandangan.”


“Oh kasihan kau nak, kenapa Bibi mu begitu kejam sekali.”


“Coba Ibu lihat kedalam, apakah Lastri udah tidur?”


“Baik Pak, biar Ibu lihat dulu.”


Seraya berjalan pelan, Tini pun menghampiri kamar Lastri, tampak gadis itu sedang duduk di depan jendela kamarnya sambil menatap bulan yang ada di atas sana.


“Gimana, apakah dia sudah tidur?”


“Belum Pak.”


“Lagi ngapain dia, Bu?”


“Sepertinya sedang memandangi bulan.”


“Ooo, gitu.”


Malam itu memang sangat cerah sekali, sehingga bulan yang begitu bulat terlihat jelas dari permukaan bumi, Lastri terus saja memandanginya dengan perasaan sedih.

__ADS_1


Sama halnya dengan Lastri, Burhan juga sedang duduk di serambi rumahnya seraya menatap indahnya rembulan malam saat itu, dengan di temani segelas kopi hangat dan sepiring roti basah, Burhan terus saja menatap keatas langit.


“Kau lagi memandangi apa sih Pak?” tanya Tini ingin tahu.


“Aku teringat dengan kejadian tadi siang, Bu. Apa yang di rasakan Lastri saat ini, sama dengan apa yang ku rasakan.


Kenapa ya, Roro bersama anak-anaknya begitu kejam dan jahat?”


“Entahlah Pak, barang kali Allah telah mengutuk keluarga mereka.”


“Padahal suaminya seorang Ustadz lho.”


“Mesti suaminya seorang Ustadz, tapi Roro sendiri nggak pernah menghormatinya itu sama saja kan, Pak.”


“Apalagi, harta yang saat ini dia miliki, semua itu juga haknya Lastri dan Maryati, masa di kuasai semua, tanpa menyisakan sedikit pun untuk Lastri.”


“Sudahlah Pak, biarkan dia sendiri yang menanggung karmanya,” ujar Tini seraya berlalu meninggalkan suaminya.


Sambil lewat Tini mencoba menyibakkan kain gorden kamar putrinya. Tampak Lastri telah tertidur pulas saat itu.


Sambil menarik nafas panjang, Tini pun menarik kain selimut putrinya ke atas, Tini begitu prihatin sekali melihat nasib Lastri yang malang itu.


“Yang sabar ya nduk, suatu saat nanti, Allah pasti akan membalas semuanya.”


Malam itu semuanya tampak tertidur dengan lelap sekali, suara jangkrik malam yang di selingi oleh desiran angin yang berhembus, membuat malam itu terasa begitu dingin.


Di sebuah kamar sempit dengan berukuran dua kali dua meter, yang terletak tepat di sudut dapur paling ujung, tampak Maryati tertidur dengan gelisah. Air matanya terus saja mengalir, Maryati tak mau berhenti menangis.


Tangisannya yang kuat membuat seisi rumah menjadi terbangun, mereka pun datang menghampiri kamar Maryati yang terletak di sudut dapur dan menendangnya dengan kuat.


“Heh, apakah kau nggak lihat kalau saat ini masih malam hah..! cepat tidur, kalau nggak Bibi akan pukul kaki mu sampai patah!”


“Ibu, Bi. Ibu..! mana Ibu Bi?”


“Ibu mu sudah mati, di makan cacing tanah!”


“Aku mau sama Ibu Bi.”


“Heh..! apakah kau nggak dengar, kalau Ibu mu sudah mati dan di makan cacing tanah.”


Mesti Roro bicara seperti itu, Maryati bukannya diam, dia malah tambah menangis histeris, Roro yang tak tahan mendengar suara tangisannya itu datang menghampiri Maryati dan mencubit paha anak itu sampai lebam.


Karena sakit, akhirnya Maryati pun berhenti menangis. Setelah Roro dan anak-anaknya pergi, Maryati pun duduk bersandar di dinding kamarnya yang terbuat dari anyaman bambu.

__ADS_1


Sekujur tubuh gadis itu penuh dengan luka korengan, bau pengap dan amis sudah menjadi penciumannya setiap saat. Mesti saat itu Roro dan kesepuluh orang anak-anaknya tidur di Kasur yang empuk dan memiliki kamar yang sangat luas, namun tidak dengan Maryati.


Maryati hanya mendapatkan sedikit tempat dirumah yang mewah itu, dia hanya tidur dengan beralaskan tikar yang lapuk dan sudah usang. Itu pun terdapat di sudut dapur yang sempit dan gelap.


Roro benar-benar sudah keterlaluan, dia dan ke sepuluh orang anak-anaknya begitu tega menyiksa Maryati yang tak lain adalah keponakannya sendiri, seorang anak yatim piatu.


Melihat korengan di sekujur tubuh Maryati, Roro bukannya membersihkan luka itu, dia justru semakin jijik melihatnya. Luka korengan yang sudah bernanah itu, semakin hari semakin melebar dan berulat, hal itu membuat Maryati terus saja menangis menahan rasa sakit.


“Ibu, kenapa nggak kita bawa saja Maryati kerumah sakit, siapa tahu di rumah sakit dia mendapat perawatan yang baik.”


“Dasar bodoh! kau kira kerumah sakit itu nggak butuh biaya apa?”


“Aku berkata seperti itu, biar seluruh korengan di tubuh Maryati bisa sembuh, Bu. Kalau penyakitnya sembuh, dia pasti bisa tidur nyenyak setiap hari dan nggak mengganggu kita lagi.”


“Diam! kau nggak berhak mengatur Ibu di rumah ini, dapat makan aja kalian semua sudah syukur, mau berobat kerumah sakit pula, emangnya Ayah mu meninggal, ada dia meninggalkan harta? Nggak kan?”


“Terserah Ibu!”


“Agar kalian semua tahu ya, harta ini semuanya milik Ibu, tak sepersen pun harta Ayah mu, selama Ibu menikah dengannya, dia hanya menumpang hidup dengan Ibu!”


“Tadi kan sudah aku katakan, terserah Ibu! lalu kenapa Ibu terus saja bilang masalah Ayah, Ayah itu udah meninggal Bu, Ibu nggak perlu mengungkitnya lagi.”


“Kurang ajar kau Jono! membantah terus, apa yang Ibu katakan. Apakah kau mau jadi anak durhaka hah!”


Melihat Ibunya marah, semua anak Roro yang lain hanya bisa diam saja, mereka semua tahu, kalau Roro sedang marah, pasti urusannya akan panjang kemana-mana.


Untuk itu, semuanya tampak diam tak berkutik, anak-anak Roro sepertinya begitu paham sekali dengan sifat Ibu mereka itu.


Pagi hari setelah ayam jantan berkokok, Roro pasti membangunkan Maryati, untuk membantunya memasak di dapur, tugas rutin yang selalu di kerjakan gadis kecil itu adalah memompa air, untuk mengisi bak mandi, yang nantinya akan di pergunakan oleh ke sepuluh orang anak Bibinya.


Jika Maryati terlambat bangun atau kurang sehat badan, Roro pasti marah dan menyeret Maryati keluar dari kamarnya itu.


“Cepat sana, ambil air, Kakak mu mau mandi!”


“Aku sakit Bi.”


“Sakit, sakit apanya? itu pasti alasan mu,” ujar Roro seraya menjewer telinga gadis kecil itu.


“Benar Bi, saat ini aku lagi sakit.”


“Bohong! Bibi nggak perduli ya, sekarang cepat bangun dan ambil air.”


“Baik Bi,” jawab Maryati pelan.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2