
“Memfitnah gimana maksud Abang?”
“Dia itu udah menghasut ku ke Bos, sehingga kepercayaan Bos langsung turun drastis. Jangankan untuk berbicara, menatap aku saja Bos udah nggak mau.”
“Kurang ajar kau Andi, kau justru membuat keluarga Abang mu semakin menderita dan kesulitan,” gerutu Dira.
Karena hati Bima waktu itu telah di penuhi rasa amarah, keesokan harinya Bima langsung menemui Ahong untuk mengatakan pada Bosnya itu, kalau selama ini Andi lah yang telah menukar barang asli dengan yang palsu.
“Yang sabar Bima, aku sengaja mempercayai Andi sebagai pengurus gudang saat ini, kalau dia itu terbukti bersalah, maka kita dengan mudah melaporkannya ke polisi.”
“Kenapa nggak sekarang saja dia di laporkan Bos.”
“Itulah masalahnya Bima, sekarang ini, kita nggak punya barang bukti yang memberatkannya.”
“Ooo gitu. Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu Bos.”
“Iya Bima, kerja yang bagus.”
“Iya Bos.”
Ahong menatap Bima dengan senyum sinis, saat Bima meninggalkan ruangan tersebut, Ahong mencoba mempelajari karakter Bima.
Bukan hanya itu saja, kepada semua pelanggan yang pernah membeli produk pada toko Ahong, di hubungi nya kembali. Agar mereka mau di ajak bekerja sama, untuk membongkar kedok penipu di tokonya tersebut.
Dua hari setelah barang dari Jepang datang, Bima berusaha mencari celah agar bisa beraksi kembali, tapi untuk kali ini, Bima mencoba menawarkan dua jenis barang berbeda kepada pelanggannya. Karena saat itu Bima tahu situasi sedang panas.
Rizik, adalah pelanggan tetap toko Ahong selama ini, tak sedikit barang-barang Ahong yang di beli oleh Rizik, namun setiap barang itu di beli oleh pelanggannya, di sanalah Rizik tahu kalau barang yang di belinya palsu.
Sebenarnya Rizik sudah beralih toko ke tempat yang lain, tapi karena semua itu atas permintaan Ahong, Rizik pun kembali berbelanja di toko Ahong.
Begitu juga dengan pembeli yang lain, mereka semua mulai membeli sparepart honda di toko tersebut
Karena banyak pelanggan yang mulai berdatangan untuk membeli, Bima mengira kalau mereka semua tak ada yang mencurigai semua barang yang telah mereka beli.
Kesempatan itu pun di manfaatkan Bima untuk mengeruk keuntungan yang lebih besar. Rizik adalah pembeli pertama yang mendatangi toko Ahong. Seperti biasa, Rizik mulai memesan berbagai macam alat honda dan sejenisnya.
Bima dengan senang hati melayaninya, setelah semua barang pesanannya telah di catat oleh Bima, lalu Bima mulai menwarkan sesuatu pada Rizik.
“Bagai mana kalau kita bekerja sama Pak?”
“Maksudmu?”
“Kalau barang yang kita jual mendapatkan hasil yang besar maka keuntungan akan kuta bagi dua sama-sama lima puluh persen.”
“Emangnya kau mau menjual apa?”
“Suku cadang yang palsu.”
“Bukankah selama ini, kau juga telah menyelipkan suku cadang yang asli dengan yang palsu?”
__ADS_1
“Iya, tapi di bawah faktur belanja, saya kan selalu mengurangi harga pembeliannya.”
“Benarkah?” tanya Rizik tak percaya.
“Bapak boleh cek sendiri kok.”
Penasaran dengan ucapan Bima, Rizik membuka kwitansi pembeliannya bersama Bima. Benar saja lima buah kwitansi pembelian itu terdapat potongan harga dari Bima sebanyak dua puluh persen.
“Kenapa kau melakukan ini semua Bima?”
“Barang yang asli pasti harga jualnya sangat mahal, jadi kita mencoba menawarkan dua produk yang berbeda, siapa tahu mereka yang tak mampu membeli barang yang asli, akan membeli barang yang palsu pada Bapak.”
“Tapi saya tak pernah menjual barang palsu selama ini, jadi saya nggak berani melakukannya.”
“Kenapa? Bapak takut?”
“Saya takut para pelanggan saya akan lari ke pedagang lain.”
“Bapak nggak perlu menawarkan yang palsu dulu, Bapak tawarkan saja pada mereka yang aslinya, tapi kalau mereka merasa keberatan atau nggak punya uang, maka Bapak baru menawarkan yang palsu ini pada mereka.”
Sebenarnya ucapan Bima ada benarnya juga, karena tak semua orang yang sanggup membeli produk yang asli. Terkadang mereka tak punya uang untuk itu.”
“Baiklah, untuk sementara saya akan terima tawaran mu, tapi jika saya kesulitan nantinya, maka barang dan suku cadang yang kau tawarkan akan saya kembalikan lagi.”
“Baiklah, saya terima tawaran Bapak itu,” jawab Bima seraya berjabatan tangan dengan Rizik.
Kesepakatan mereka buat, surat perjanjian mereka tanda tangani di antara kedua belah pihak. Kemudian Rizik berangkat dengan mobilnya menuju Desa tempat tinggalnya.
Mamad terkejut, lalu diapun melakukan rem mendadak. Rizik yang saat itu sedang duduk di samping Mamad , kepalanya terbentur ke kaca dan mengeluarkan sedikit darah.
“Ada apa ini Mad?” tanya Rizik ingin tahu.
“Sepertinya ada mobil truk yang sedang melintas di depan kita Pak.”
“Betul mereka sedang melintas?”
“Sepertinya begitu.”
Sambil menunggu mobil selesai berbelok, tiba-tiba saja Ahong sudah berdiri di depan mobil mereka.
“Sepertinya ada Pak Ahong di depan kita Pak.”
“Ngapain dia berdiri di sana Mad?”
“Barang kali dia menginginkan kita turun dari mobil, Pak.”
“Oh begitu. Baiklah, saya akan turun dulu sebentar, kau tetaplah di sini.”
“Baik Pak,” jawab Mamad dengan suara lembut.
__ADS_1
Lalu Rizik pun keluar dari mobil untuk menemui Ahong yang berdiri di depan mobilnya.
“Bapak sengaja menghalangi mobil saya?” tanya Rizik pada Ahong.
“Nggak, kebetulan saja mobil itu lagi muter. Gimana, apa benar Bima melakukan kecurangan itu?”
“Anak itu memang pintar, dalam situasi kacau begini ini, dia bisa dengan cepat memutar haluan kapalnya, sehingga dia dan semua para penumpangnya bisa selamat.”
“Maksud Pak Rizik?”
“Saat ini dia memakai cara lain, untuk menjual produk palsunya itu.”
“Cara lain gimana maksud Bapak?”
“Dia menyuruh aku menawarkan produk yang asli dulu pada pelanggan, jika para pelanggan merasa keberatan dengan harga yang mahal, baru saya tawarkan produk yang palsu.”
“Apakah tawaran itu Bapak terima?”
“Iya, menurut logika saya, apa yang di katakan Bima itu bisa masuk akal.”
“Boleh saya lihat barangnya Pak?”
“Ya tentu,” jawan Rizik seraya membuka pintu mobil kampas miliknya.”
Dengan hati-hati sekali, Rizik membongkar karton pembungkus suku cadang miliknya. Lalu dia mengambil satu suku cadang yang palsu untuk di tunjukan pada Ahong.
“Terlihat sangat mirip sekali, jika kita tak hati-hati dalam menganalisa, kita pasti bisa tertipu di buatnya.”
“Benar sekali.”
“Tapi yang saya heran kan, dari mana dia mendapatkan barang palsu sebanyak ini, pasti ada yang menjadi distributornya.”
“Ya, tentu saja ada.”
“Saya perhatikan Bima ini semakin lama semakin cerdik dan licik.”
“Kalau begitu Bapak harus berhati-hati dengannya.”
“Ya tentu,” jawab Ahong seraya terdiam sejenak.
“Gimana Pak, apakah saya sudah bisa melanjutkan perjalanan saya?”
“Ya silahkan.”
Sepeninggal Rizik, Ahong langsung kembali ke tokonya, karena semenjak kejadian itu, Ahong mulai waspada dan tak mau meninggalkan tokonya.
Ketika Ahong masuk kedalam ruangannya, dia memerintahkan seseorang untuk menyuruh Andi menghadap ke ruangannya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*