
“Apakah Bang Arman nggak pernah pulang kerumah ini Bang?” tanya Tia ingin tahu.
“Entahlah Tia, bukankah semenjak kau melahirkan, Abang selalu berada di rumah sakit.”
“Lalu kemana dia perginya?”
“Entahlah, barang kali dia telah melarikan diri.”
“Kenapa dia mesti melarikan diri Bang?”
“Karena semua warga yang barangnya telah di curi suami mu, mereka semua mendatangi rumah sakit untuk meminta ganti rugi.”
“Hah, benarkan Bang?”
“Iya Tia, tapi kau nggak perlu khawatir, semuanya akan kita tanggulangi.”
“Tapi bagai mana caranya Bang?”
“Apakah, semua barang yang di curi Arman masih berada di dalam rumahmu?”
“Iya, triplek dan seng yang di curi itu masih berada di dalam kamar kami, tapi kalau mangga aku nggak tahu lagi, apakah masih ada atau sudah pada busuk.”
“Kalau buah-buahan, kita masih bisa mengganti rugi, tapi kalau peralatan yang dia curi selain itu, kita pasti merasa keberatan Tia.”
“Pergilah Abang ke rumah, carilah barang yang telah mereka curi dan segeralah kembalikan pada pemiliknya.”
“Baik Tia, nanti siang Abang akan kerumah mu.”
Arman benar-benar sudah keterlaluan, dia bahkan mengambil barang apa saja yang dia lewati, tanpa merasa bersalah sama sekali.
Kelakuan Arman yang telah kelewat batas, di laporkan Ruslan pada Ayahnya. Hal itu membuat Tomi geram dan kesal. Seminggu setelah kabar itu terdengar di telinga Tomi, pria itu langsung pergi ke Padang untuk menjemput Tia.
“Maafkan Ayah nak, Ayah terpaksa menjemput Tia untuk di bawa ke rumah.”
“Kenapa Yah, bukankah Tia dan anaknya baik-baik saja?”
“Bukan itu masalahnya nak, Arman itu orang gila, nanti karena sakit hatinya, dia akan mencelakai adikmu, untuk itu biarlah Tia pulang saja ke rumah.”
“Kalau begitu kata Ayah, aku pun nggak bisa memaksanya.”
“Baiklah, besok pagi, Ayah akan membawa Tia pulang kerumah.”
Tia yang mendengar kalau dirinya akan kembali pulang ke rumah orang tuanya, tampak biasa-biasa saja, karena saat itu Tia merasa pasrah dengan apa yang bakal terjadi pada dirinya.
Keesokan harinya, Tomi membawa Tia kembali pulang bersamanya. Di rumah tempat tinggal kedua orang tuanya, ada Anisa yang sangat menyayangi anak Tia.
__ADS_1
Sampai putra Tia berusia delapan bulan, Arman Ayah kandungnya tak juga pernah datang menemuinya, Tia yang terus menerus bersedih membuat Maryati bingung. Mesti Maryati telah berusaha untuk memberinya semangat dan dukungan, tapi Tia masih saja bersedih.
Tak berapa lama kemudian, Tia memutuskan untuk mencari kesibukan dengan bekerja apa saja, yang penting dia bisa melupakan Arman yang telah jahat padanya.
Saat itu ada seorang Ibu yang berniat ingin menolong Tia mencari pekerjaan sebagai buruh di sebuah perkebunan. Tia pun tak menolaknya, dia malah sangat senang dengan pertolongan Ibu tersebut.
Mulai hari itu, Tia pun pergi bekerja dan meninggalkan Ravi bersama dengan Anisa. Berbulan-bulan Tia tak pernah pulang kerumah semenjak dia mendapat pekerjaan barunya. Ravi yang masih kecil terpaksa harus meminum air susu buatan.
“Kenapa ya Bu, Kak Tia nggak pernah pulang kerumah?”
“Sebenarnya Ibu juga merasa kesal sekali padanya, dia seperti tak menyayangi anaknya sendiri.”
“Gimana kabar Kak Tia ya Bu?”
“Entahlah, sebaiknya kita do’akan saja, semoga dia baik-baik saja di sana.”
Semenjak meninggalkan rumah, Mutia memang tak pernah kembali pulang, bahkan dia sengaja melupakan anak kandungnya sendiri. Maryati hanya bisa menangis sedih karena perlakuan putrinya itu. jangankan untuk putranya, untuk kedua orang tuanya saja, Tia tak pernah mengingatnya lagi.
“Kamu yang sabar Yati, barang kali kita saat ini sedang di uji oleh Allah,” ujar Tomi saat melihat Maryati menangis didalam kamarnya.
“Iya Bang,” jawab Maryati singkat.
Tak ada bedanya dengan Bima, putra yang selalu perduli pada Ibunya sedari dulu, tapi setelah dia menikah dan berumah tangga. Bima bahkan menyakiti hati Maryati.
Hal serupa juga di alami Maryati semenjak Tia berumah tangga, dia bahkan tak ingat dengan Ibu dan putranya sendiri.
“Apakah kau udah memikirkannya nak?”
“Udah Bu, pria itu baik kok Bu.”
“Tentu saja dia baik nak, karena dia punya tujuan tertentu.”
Mendengar ucapan Maryati, Leni pun tak banyak bicara, dia hanya menyerahkan semuanya pada Ayah dan Ibu yang dia cintai.
Tapi karena itu permintaan Leni, Maryati dan Tomi terpaksa mengikuti kemauan anaknya itu, pesta pernikahan pun di laksanakan dengan sederhana.
Di hadapan penghulu dan di saksikan oleh orang banyak, Leni resmi menikah dengan pria yang dia cintai. Sama halnya dengan Bima dan Tia, Leni ternyata juga telah mengecewakan Ibunya sendiri.
Ketika kehidupan Leni sedang sempit, sementara dia butuh biaya yang banyak, lalu Leni datang pada Maryati yang saat itu sedang tidur di dalam kamarnya.
“Ibu, bangunlah.”
“Ada apa sayang?”
“Dulu semasa aku gadis, aku pernah membelikan Ibu satu sak semen dan beberapa kodi seng. Saat ini aku sedang butuh biaya, gimana kalau semuanya ku minta kembali Bu.”
__ADS_1
Maryati yang saat itu sedang tidur siang, langsung berdiri karena terkejut. Dia tak percaya sama sekali kalau Leni sampai berani meminta apa yang telah dia berikan pada orang tuanya.
“Apa maksud mu Len, Ibu nggak ngerti?”
“Saat ini hidup ku sangat sulit sekali, jadi aku minta apa yang dulu pernah ku berikan pada Ibu.”
“Emangnya kau pernah memberi apa pada Ibu?”
“Satu sak semen dan satu kodi atap seng.”
“Cuma itu yang kau berikan pada Ibu kan?”
“Iya Bu.”
“Kalau di jumlahkan, berapa semua harganya nak?” tanya Maryati.
Mendengar ucapan Maryati yang sangat lembut, hati Leni begitu senang, bahkan dia berlari pulang dengan cepat untuk menjumlahkan semua yang pernah di berikan pada Ibunya. Setelah hasil di dapat Leni pun berlari mendatangi Maryati.
“Semuanya berjumlah Sembilan ratus ribu Bu.”
“Baiklah, sekarang coba kau jumlahkan sebanyak apa air susu yang mengalir dalam tubuh mu.”
“Maksud Ibu?”
“Jumlahkan dulu, baru bertanya.”
“Mana bisa aku menjumlahkannya Bu.”
“Kenapa nggak bisa?”
“Karena air susu itu sudah hilang.”
“Hilang? hilang kemana?”
“Nggak tahu.”
“Nggak mungkin hilang begitu saja. Pasti kau tahu kemana perginya.”
“Air susu itu sudah menjadi darah dan menjadi daging Bu.”
“Ya, Ibu tahu itu, sekarang Ibu minta kembali air susu yang telah menjadi daging itu pada mu.”
Mendengar permintaan Ibunya, Leni sadar, kalau jasa Ibunya tak bisa di ganti atau di kembalikan ke bentuk semula. Begitu juga dengan apa yang telah dia berikan pada Ibunya tak mungkin di minta kembali.
Setelah Leni berfikir sejenak, lalu dia pun kembali pulang kerumahnya tanpa bicara sepatah kata pun, Maryati yang melihat anaknya pergi secara diam, dia juga tak mau menggubrisnya.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*