Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 113 Ramuan untuk Bima


__ADS_3

Dengan senang hati, Dira langsung pulang kerumahnya, untuk memastikan kapan malam jum’at kliwon itu, Dira mencoba melihat kalender yang tergantung di dinding rumahnya.


“Hm, ternyata malam jum’at kliwon jatuh pada malam jum’at satu lagi. Tak apalah, lebih baik aku menunggu dari pada mesti ke buru-buru,” gumam Dira pelan.


Ketika telah tepat pada malam yang di maksud, Dira mulai berdandan yang rapi dan menor, agar Bima bersedia bercumbu malam itu dengannya.


Seperti perintah sang dukun, saat Dira mandi wajib, dia mulai mengerjakan apa yang di perintahkan kepadanya.


“Hm, dengan cara seperti ini, kau tentu tak lagi ingat jalan pulang Bang,” ucap Dira seraya tersenyum manis.


Untuk hari pertama, Dira langsung meneteskan air itu untuk di minuman suaminya, dan begitulah setiap paginya. Hanya tiga kali minum, Bima langsung seperti orang linglung, bahkan Bima sulit untuk meninggalkan rumahnya.


“Kenapa nggak berangkat kerja sih Bang?”


“Sayang, aku sepertinya berat sekali untuk berangkat kerja hari ini.”


“Kalau Abang nggak kerja, lalu kita dan anak-anak mesti makan apa sih Bang?”


“Baiklah, aku akan bekerja hari ini.”


“Tapi jangan hanya untuk hari ini Bang, untuk seterusnya dong.”


“Baiklah, baik. Aku akan bekerja setiap hari dengan rajin.”


“Nah gitu dong! Itu baru suami yang sayang sama istri dan anak-anaknya.”


Setelah Bima pergi bekerja, lalu Dira mengambil obat yang telah di buatnya sendiri, penasaran dengan obat itu, lalu Dira mencoba menciumnya.


Saat ramuan itu di cium, Dira sangat mual, karena obat itu begitu busuk sekali, mesti Dira tahu, kalau ramuan yang di buatnya sangat busuk, namun Dira tetap menggunakan air itu untuk menaklukan hati Bima.


Dua bulan setelah ramuan itu di minum Bima, tampak dengan jelas di mata Dira kalau suaminya terlihat kurus dan pucat, lama kelamaan Bima pun mengalami batuk darah.


“Kamu kenapa Bang?” tanya Dira heran.


“Entahlah sayang, sudah beberapa hari ini, aku sepertinya jatuh sakit.”


“Sakit, ah nggak! kening Abang terasa biasa-biasa saja.”


“Lalu kenapa aku mengalami batuk darah?”


“Mungkin Abang sembarang makan kali di tempat kerja!”


“Ah nggak, Abang justru nggak pernah makan, di luar sana selain masakan mu.”


“Atau mungkin Abang terlalu lelah barang kali.”


“Kalau itu, baru aku percaya,” jawab Bima pelan.


Setelah Bima jatuh sakit, Dira pun berusaha mencarikan obat untuk suaminya, namun obat yang di berikan pada Bima, membuat Bima semakin parah dan bahkan dia tak lagi mau makan.”


“Kamu kenapa sih Bang? kenapa sakit mu semakin hari semakin parah?” tanya Dira yang tak mengerti dengan penyakit yang di derita oleh Bima.


“Entahlah sayang, sepertinya saat ini aku sudah sekarat.”


Bersamaan dengan kejadian itu, Rijal dan Leni kebetulan sedang pergi ke Padang untuk membeli sesuatu. Karena mereka ingin bermain dulu di kota Padang, lalu mereka berdua mampir dirumah Bima.

__ADS_1


Dira menyambut mereka dengan senang hati, bahkan Dira sampai menghabiskan begitu banyak uang untuk memenuhi kebutuhan mereka selama di Padang.


“Bang Bima mana kak?” tanya Leni ingin tahu.


“Bang Bima sedang sakit Len, sudah lebih tiga minggu.”


“Emangnya Abang sakit apa Kak?”


“Dia mengalami muntah darah Len.”


“Apa? Abang mengalmi muntah darah?”


“Iya.”


“Udah berapa hari Kak?”


“Udah hampir satu bulan, tapi akhir-akhir ini penyakitnya semakin parah.”


Mesti penyakit yang di derita Bima semakin parah, namun Dira tetap memberi ramuan itu pada Bima setiap paginya.


“Sebenarnya kalian berdua ini dari mana sih?”


“Kami lagi mencari pupuk untuk sawit Kak.”


“Pupuk untuk sawit?”


“Iya.”


“Apakah udah dapat?”


“Percuma saja Len, sebelum ini Bang Bima juga sakit, lalu Kakak membawanya berobat ke dukun kampung. Alhasil, Bang Bima pun cepat sembuh."


"Ooo begitu."


"Apa lagi ini penyakit batuk darah, siapa tahu ada orang yang sengaja memberi makanan yang beracun, pasti rumah sakit nggak akan mampu mengobatinya.”


“Emangnya Bang Bima sebelum ini sakit apa sih Kak?”


“Bang Bima mengalami lumpuh permanen, seluruh tulang di tubuhnya remuk dan menyatu jadi satu.”


“Hah, Kakak serius?”


“Iya Len, sebenarnya Kakak mengira itu semua perbuatan Ibu, karena saat Ibu pulang, dia sempat bertengkar dengan Bang Bima.”


“Ah, Ibu nggak kan mungkin berbuat seperti itu pada anaknya, Kak,” jawab Leni membantahnya.


“Tapi aku yakin juga, kalau semua itu adalah perbuatan Ibu,” timpal Rijal.


“Kok Abang menuduh Ibu seperti itu?”


“Mana tahu kan, lagian kita kan nggak serumah dengan Ibu, tentu kita nggak mengerti pergerakan Ibu entah kemana.”


“Tapi aku nggak percaya kalau Ibu yang melakukannya.”


“Udah, udah! kalau memang bukan Ibu yang melakukannya, nggak apa-apa, lagian Bang Bima telah sembuh kok, jadi kalian nggak perlu cemas lagi.”

__ADS_1


“O iya Kak, aku numpang ke kamar mandi boleh nggak?”


“Tentu sayang, kamar mandi lagi kosong kok.”


“Baiklah.”


“Apa kalian punya rencana untuk nginap malam ini Len?” tanya Dira ingin tahu.


“Rencana sih, Iya.”


“Nggak, kalau kalian mau nginap, biar kakak bereskan dulu ruangan kosong belakang.”


“Boleh, nanti biar aku bantu ya Kak.”


“Boleh,” jawab Dira dengan lembut sekali.


Bersama Rijal, malam itu Leni nginap dirumah Bima. Bukan hanya sekali, Leni bahkan melihat Bima batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


“Apa yang Abang rasakan saat ini Bang?”


“Dada Abang terasa panas dan sakit, Len.”


“Apakah Abang udah berobat ke rumah sakit?”


“Kak Dira nggak mau membawa Abang ke rumah sakit.”


“Jadi selama ini, Abang hanya berobat di mana?”


“Abang hanya minum jamu yang di beli Kak Dira di apotik.”


“Ooo, gitu.”


Sebenarnya Leni merasa kasihan sekali melihat Bima mengeluarkan darah setiap dia batuk, namun dia pun tak dapat berbuat apa-apa.


Pagi itu, saat Leni sedang menyapu rumah Bima dan membersihkan ruang kamar Kakaknya, Leni menemukan sesuatu di bawah kolong tempat tidur Bima.


Sebuah botol kecil dan berisi air berwarna hitam di dalamnya, Leni merasa penasaran, lalu di bukanya tutup botol itu secara perlahan. Betapa terkejutnya Leni saat tutup botol terbuka, keluarlah aroma yang sangat busuk sekali, bahkan Leni sampai muntah setelah menciumnya.


Penasaran dengan penemuannya, Leni langsung membawa botol itu keluar dan memberi tahukannya pada Dira.


“Botol apa ini Kak? airnya sangat busuk sekali.”


“Botol obat,” jawab Dira dengan santai.


“Obat apa?” tanya Leni penasaran.”


“Obat Kakak, untuk menyuburkan Rahim.”


“Ooo, baunya itu luar biasa busuknya.”


“Namanya obat yang telah di pram beberapa hari, tentu baunya sangat busuk Len,” jawab Dira dengan tenang.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2