Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 27 Kehilangan Maryati


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, seperti biasa Rendi selalu mengantar dan menjemput para langganannya, hal itu juga sudah di ketahui oleh Maryati.


Namun malam itu Rendi belum juga kembali, padahal malam sudah semakin larut. Maryati menanti kedatangan Rendi dengan gelisah di depan pintu bersama Ayah dan Ibunya.


Bukan hanya Maryati yang gelisah saat itu, tapi Darman dan Marni juga resah menantikan kedatangan Rendi.


Sekitar pukul tiga dini hari, sebuah becak meluncur dengan kencang menuju rumahnya, Marni yang melihatnya sangat kaget sekali.


“Nak Rendi? kenapa pulang begitu larut? lihat istrimu, dia menunggu dengan rasa sedih dan gelisah.”


“Maafkan aku Bu, aku tadi di ajak teman.”


“Di ajak teman? di ajak kemana nak?”


“Nggak ada Bu, cuma main-main aja kok.”


“Ooo, begitu. Ya sudah, kalau begitu masuklah, istrimu pasti senang.”


“Baik Bu,” jawab Rendi seraya masuk kedalam kamarnya.


Saat Rendi masuk kedalam kamarnya, Maryati langsung memeluk suaminya itu, perasaan cemas yang tadinya terasa mengganjal di dalam hati, saat itu telah sirna ketika melihat suaminya muncul di depan pintu kamar.


“Abang pergi kemana? aku sangat cemas sekali.”


“Tadi Abang di ajak teman.”


“Teman, teman dari mana?”


“Dari Jakarta.”


“Ooo, tapi kenapa Abang nggak ngasih tahu aku dulu, kalau Abang akan pergi.”


“Baiklah, besok kalau Abang di ajak teman lagi, Abang pasti beri kabar Yati.”


“Ya sudah, sekarang Abang mau makan?”


“Nggak usah, tadi mereka telah membelikan Abang makanan.”


“O gitu ya.”


Maryati yang polos, dia pun memahami apa yang di ucapkan suaminya, dengan senang hati Maryati mengajak suaminya tidur.


Setelah malam itu, kejadian serupa juga terjadi lagi di malam-malam berikutnya, hingga berulang-ulang kali. Marni yang melihat kejanggalan ini, berusaha menasehati Maryati agar tidak terlalu mempercayai ucapan Rendi.


“Emangnya kenapa sih Bu?”


“Sayang, pria itu nggak semuanya bisa di percaya, kadang karena kita polos dan lugu, makanya dia bisa berbuat semena-mena pada kita.”


“Ibu memang benar, sejak kejadian malam itu, Bang Rendi sering pulang larut malam, tapi setiap kali ku tanya, dia selalu bilang pergi bersama teman.”


“Apakah kau pernah bertanya, teman seperti apa yang selalu mengajak suami mu itu?”

__ADS_1


“Nggak Bu, maksud Ibu apa ya?”


“Teman itu banyak nak, ada teman pria dan ada pula teman wanita.”


Mendengar kata teman wanita, jantung Maryati terasa hampir terlepas dari gagangnya. Dia pun terhenyak duduk di atas Kasur.


“Kalau nggak, begini saja. Nanti malam kalau suami mu pulang, coba kau cium pakaiannya, jika pakaiannya berbau parfum yang berbeda dengan yang biasa dia pakai, berarti suami mu itu pergi bersama wanita lain.”


“Astagfirullah, kenapa aku bisa ceroboh begini, sungguh hal ini di luar dugaan ku Bu, aku terlalu mempercayainya selama ini.”


“Ingat, Yati. Sebentar lagi, kau akan melahirkan, bayi di dalam kandungan mu butuh sosok Ayah yang baik dan bertanggung jawab.”


“Baik Bu, makasih, Ibu telah mengingatkan ku.”


“Iya nak, kalau begitu Ibu ke kamar dulu.”


“Baiklah,” jawab Maryati sembari terdiam di tepi ranjangnya.


Seperti yang telah di ajarkan oleh Ibunya, Maryati mencium bau tubuh Rendi ketika dia sedang tertidur lelap di sisinya. Saat itu baru Maryati sadar, kalau di tubuh suaminya tercium bau parfum yang lain.


“Ya Allah, apa yang telah kau lakukan di luar sana Bang? kenapa kau mesti membohongi aku?”


Saat itu juga Maryati pun menangis histeris disisi Rendi, suara tangis Maryati membuat Rendi terbangun dari tidurnya.


“Ada apa sih sayang? kenapa malam begini kau menangis?”


Mesti terdengar jelas oleh Maryati, namun dia terus saja menangis tanpa harus menggubris ucapan suaminya. Suara tangisan Maryati sangat mengganggu tidur Rendi, sehingga dia merasa sedikit kesal.


Yati tetap saja bungkam, hatinya terasa sakit ketika tahu kalau Rendi telah mengkhianati dirinya. Pagi hari saat bangun Maryati tak lagi melayani kebutuhan suaminya, dia langsung pergi ke kamar mandi dan diam di sana selama beberapa jam.


“Yati kemana sih Bu?”


“Ibu nggak tahu nak.”


“Kemana dia, pagi-pagi buta telah pergi menghilang.”


“Apakah dia nggak bicara pada mu sebelum pergi, nak?”


“Nggak Bu.”


“Setahu Ibu, Yati nggak pernah keluar rumah, apa lagi di pagi hari begini, atau jangan-jangan?”


“Jangan-jangan apa Bu?”


“Jangan-jangan dia kabur dan pergi dari rumah Ibu.”


“Nggak mungkin Bu.”


“Kenapa nggak mungkin?”


“Karena Yati itu cinta berat pada ku, dia nggak akan bisa hidup tanpa aku Bu.”

__ADS_1


“Benarkah?”


“Iya Bu.”


“Sepertinya untuk kali ini, ucapan mu itu nggak sesuai lagi dengan yang kau ucapkan.”


“Maksud Ibu?”


“Kau lihat sendiri kan nak, kalau istrimu telah pergi dari rumah ini, tanpa bicara sepatah pun pada mu.”


Tak tenang dengan apa yang di ucapkan oleh Ibu mertuanya, Rendi langsung keluar dari rumah itu, dia berusaha mencari keberadaan Maryati kemana-mana. bahkan hampir ke setiap sudut Desa.


Hingga siang tiba, Rendi tak menemukan istrinya. Perasaannya pun tampak begitu kacau, sudah setengah hari dia tak menarik becak, sementara Yati belum juga di temukan. Dengan perasan sedih, Rendi pun kembali pulang kerumah.


“Gimana nak, apakah kau telah menemukan Yati?”


“Belum Bu.”


“Oh ya Allah, kau pergi kemana nak? kenapa hingga siang begini kau belum juga kembali?”


Melihat Ibu mertuanya terus menangis tiada henti, Rendi pun kembali keluar untuk mencari keberadaan Yati. Setelah Rendi pergi, Marni memeriksa kamar Rendi. Hingga ke setiap sudut ruangan itu.


Betapa terkejutnya Marni ketika melihat Maryati telah tergeletak pingsan tak sadarkan diri, dengan berlarian keluar rumah Marni berteriak-teriak minta tolong pada warga.


“Ada apa Bu? kenapa berteriak-teriak minta tolong?” tanya Pak Hasan yang saat itu sedang melintas di depan rumah Marni.


“Tolongin putri ku, Pak.”


“Emangnya ada apa dengan putri Ibu?”


“Dia tergeletak pingsan di kamar mandi.”


“Oh, ya Allah.”


Pak Hasan dengan di bantu beberapa orang warga langsung masuk kedalam kamar Maryati untuk melarikan perempuan itu kerumah sakit. Ketika tubuh Maryati mereka angkat, warga melihat begitu banyak darah yang keluar.


“Sepertinya Yati mau melahirkan Bu Marni.”


“Benarkah, Bu?”


“Iya, kalau begitu cepatlah, bawa semua peralatan persalinannya ke Puskesmas.”


“Baiklah,” jawab Marni sembari mempersiapkan seluruh kebutuhan Maryati selama proses persalinan.


Benar saja, setelah sore, Maryati pun sadar dari pingsannya, dia pun merintih menahan rasa sakit, bidan bersama perawat lainnya mencoba membantu persalinan Maryati.


Sementara itu di luar, di ruang tunggu beberapa orang warga tampak beramai-ramai menantikan kelahiran jabang bayi Maryati.


Di kursi tunggu tepat di depan pintu kamar Maryati tampak Darman dan Marni menunggu dengan resah, mereka semua berharap Maryati bisa melahirkan bayinya dengan selamat.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2