Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 85 Konflik tak berujung


__ADS_3

“Kita harus bagi rata semua harta yang telah kita dapat.”


“Bagi aja sendiri, aku nggak mau ikut di dalamnya.”


Karena perdebatan kecil itu tak kunjung menemukan titik penyelesaiannya, Leni pun mengambil keputusan sendiri.


“Sekarang begini saja, kalau Abang masih ingin berpisah dengan ku, Abang ambillah semua harta yang telah Abang beli, biar Reno bersama ku. Tapi ingat, setelah itu jangan pernah Abang temui kami lagi.”


“Kenapa?”


“Karena aku akan pergi jauh dari sini, aku akan mencari kehidupan ku sendiri, menikah dan punya anak bersama pria lain yang kaya dan dapat membahagiakan aku dan putra ku.”


“Enak saja kau bicara seperti itu, coba saja sampai hal itu terjadi, maka akan ku bunuh pria itu.”


“Terserah mu!” jawab Leni seraya pergi meninggalkan Rijal sendirian di rumah.


Saat Leni pergi, Rijal berfikir dua kali untuk meninggalkan Leni, karena di hati Rijal, Leni adalah perempuan yang sangat dia cintai, Rijal benar-benar takut Leni akan jatuh ke tangan pria lain.


Leni yang telah keluar dari rumah, dia langsung pergi kerumah Ibunya, saat itu Maryati sedang memasak di dapur bersama Nisa.


“Ada apa Len? kenapa wajahmu cemberut?” tanya Maryati ingin tahu.


“Aku bertengkar dengan Bang Rijal Bu.”


“Kenapa?”


“Aku marah, karena dia tak pernah memberiku uang. Semua keperluan dapur memang sudah dia penuhi, tapi kalau aku nggak pegang uang sedikit pun, rasanya nggak ada gunanya.”


“Emangnya apa alasan suami mu, nggak memberi mu uang?”


“Dia nggak memberiku alasan sama sekali, tapi aku yakin dia itu sengaja melakukan semua itu, agar Ibu dan keluarga ini nggak lagi datang kerumah untuk meminta uang pada ku.”


“Ya Allah, Len! kapan Ibu dan adik-adik mu meminta uang ada keluarga mu, nggak pernah kan?”


“Aku tahu itu Bu.”


“Lalu apa lagi masalahnya?”


“Tapi Bang Rijal menuduh ku selama ini memberi uang pada Ibu.”


“Ya, kasih tahu dong padanya, kalau kau nggak pernah memberi kami uang sepersen pun.”


Leni diam saja, karena saat itu dia tak punya jawaban untuk membahas masalah itu pada suaminya.


“Kurang ajar sekali suami mu itu Len, mana dia sekarang?”


“Di rumah, kami mau bercerai, Bu.”

__ADS_1


“Ya Allah! kalian mau bercerai untuk membahas hal yang nggak pernah terjadi?”


“Bang Rijal itu selalu saja mencurigai ku, Bu.”


“Ya udah, mana dia, biar Ibu yang bicara dengannya.”


“Nggak perlu Bu, saat ini dia sudah mengemasi barang-barangnya.”


“Kalian ini benar-benar bikin kepala Ibu pusing tahu nggak! masalah Tia saja belum selesai, sekarang masalah mu pula yang muncul, Oh Tuhan…!” gumam Maryati seraya pergi berlalu.


“Kakak yang sabar ya, setiap ujian itu pasti ada hikmahnya.”


“Tapi, Kakak rasanya udah nggak tahan lagi Nisa, Abang mu itu selalu saja mencurigai Kakak.”


“Sekarang Bang Rijal mana Kak?”


“Dia sedang di rumah, sebentar lagi dia juga akan pergi.”


Mendengar ucapan Leni, Nisa pun pergi menuju rumah Leni, perlahan Nisa menghampiri rumah itu, semua terlihat sepi, tak seorang pun yang berada di dalamnya.


“Pergi kemana Bang Rijal ya? apakah dia sudah minggat, tapi kalau dia minggat, kenapa tas pakaiannya masih berada di dalam rumah?” tanya Nisa pada dirinya sendiri.


Tak ingin penasaran, Nisa langsung masuk kedalam untuk menyelidiki keberadaan Rijal. Ketika Nisa mengintip kedalam kamar Kakaknya, ternyata Nisa menemukan Rijal sedang tertidur nyenyak.


“Walah! katanya mau minggat! kok malah tidur sih?”


“Kata Kak Leni, kalian mau bercerai dan Abang akan segera keluar dari rumah ini, tapi kenapa Abang masih berada disini?”


“Abang udah memutuskan, kalau kami berdua nggak jadi bercerai Nisa. Tolong panggilkan Kakak mu, Abang mau bicara dengannya.”


“Baiklah.” jawab Nisa segera pergi meninggalkan Rijal.


Jarak antara rumah Leni yang tak begitu jauh dari rumah Ibunya membuat Nisa segera tiba. Leni yang melihat kedatangan Nisa dia pun tak sabaran untuk mendengarkan informasi yang telah di dapat.


“Gimana Nisa? apakah Abang mu udah berangkat?”


“Belum Kak, Bang Rijal saat ini sedang tidur nyenyak di rumah Kakak. Kata Bang Rijal, dia sudah memutuskan untuk tidak jadi pergi.”


“Kenapa?”


“Karena Bang Rijal tak sanggup hidup tanpa Kakak dan putranya yang tampan ini.”


“Huuh…! dasar pengecut, di gertak seperti itu saja, nyalinya langsung ciut dan takut.”


“Kenapa mesti di gertak, kalau Kakak berani, langsung aja ambil keputusan untuk pisah. Selesai kan?”


“kau kira segampang itu?”

__ADS_1


“Kalau nggak segampang itu bercerai, lalu kenapa orang dengan mudahnya mengucapkan kata cerai? itu menandakan kalau perceraian itu sangat mudah di lakukan. Buktinya saja kalian berdua, saat bertengkar langsung saja membahas masalah perceraian.”


“Semuanya karena Abang mu, dia sangat marah, kalau kalian datang ke rumah untuk meminta sesuatu. Coba saja keluarganya yang datang, semuanya harus di beri nggak boleh bilang nggak ada, apa nggak kesal di buatnya.”


Ucapan Leni memang benar. Akan tetapi, sewaktu mereka bersama, Leni juga nggak pernah berbagi sedikit uang pun pada Ibu dan adiknya, bahkan Leni membelanjakan semua uangnya tanpa pernah berbagi pada kedua orang tuanya.


Sore itu saat Maryati hendak ke dapur, dia masih melihat Leni sedang asik bermain dengan putranya di sana.


“Kau belum kembali Len?” tanya Maryati ingin tahu.


“Belum Bu.”


“Kenapa?”


“Karena saat ini Bang Rijal masih berada di rumah, Bu.”


“Lalu kalau dia berada di rumah, kau nggak kembali kerumah?”


“Aku malas Bu, sebelum dia berjanji akan memberiku uang, sesuai dengan keinginan ku, maka aku nggak bakalan pulang kerumah.”


Karena pertengkaran itu Leni masih saja berada di rumah Ibunya, meski pun Maryati dan Tomi telah menasehatinya, mereka berdua belum juga kembali baikan.


Maryati jadi semakin pusing, lalu dia mendatangi Rijal yang saat itu baru pulang dari tempat kerjanya. Maryati tampak duduk diam di depan rumah Rijal. Sementara itu Rijal yang berada di dalam rumahnya segera keluar untuk menemui Ibu mertuanya tersebut.


“Ada apa Bu?” tanya Rijal seakan-akan tak punya kesalahan apa pun.


“Semestinya Ibu yang bertanya, kalian ini sebenarnya kenapa sih? satu di sini yang satunya lagi di sana. Ibu jadi pusing tau nggak.”


“Leni yang mencari masalah duluan Bu.”


“Masalah apa yang telah di lakukan Leni, sehingga membuatmu begitu kesal?”


“Dia selalu meminta uang lebih pada ku, padahal selama ini dia sendiri tahu, kalau gaji ku nggak seberapa.”


“Benar seperti itu?”


“Benar Bu.”


“Emangnya selama ini kau memberi uang berapa pada Leni setiap bulannya.”


“Nggak banyak sih, tapi ada.”


“Sama Ibu sendiri kau berbohong, kau kira Ibu nggak tahu, kalau selama ini, Leni nggak pernah kau kasih uang.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2