Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 31 Pertemuan Maryati dengan Tomi


__ADS_3

“Ya sudah, kayaknya capek membahas sesuatu dengan mu. Stop di depan sana Pak!” teriak Yoga seraya menghentikan laju kendaran bus yang mereka tumpangi.


Ternyata bukan kali itu saja, Tomi mendatangi daerah stasiun, dia bahkan berulang kali mendatangi warung Maryati. Ketika para pelanggan banyak yang berdatangan, Tomi mencoba membantu Maryati untuk menggendong Bima yang masih bayi agar tidak rewel.


“Makasih, Bang. Sepertinya Abang sering sekali datang ke warung ku ini?”


“Iya, setelah selesai bertugas, Abang nggak punya kegiatan, jadi Abang menyempatkan diri datang ke warung mu, sekaligus untuk melihat bayi mu yang masih mungil ini.”


“Emangnya Abang nggak punya istri?”


“Udah berpisah.”


“Kenapa berpisah?”


“Karena nggak punya anak.”


“Emangnya udah berapa lama menikah?”


“Lebih dari dua puluh tahun.”


“O ya, waktu yang sangat lama sekali.”


“Iya,” jawab Tomi dengan suara yang hampir tak terdengar oleh Maryati.


Semenjak pembicaraan mereka waktu itu, hati Tomi merasa sedikit lega, dia tak lagi memikirkan Maryati, karena Maryati sudah mulai mendekatkan diri padanya, mesti hanya sebatas bicara biasa.


Karena sering bertemu, lama kelamaan mereka berdua pun sudah terlihat semakin akrab. Pagi itu, Tomi memberanikan diri bertanya pada Maryati tentang suaminya yang tak pernah di lihatnya di warung itu.


“Kenapa bertanya begitu? Abang penasaran ya?”


“Iya, karena setiap Abang ke warung ini, Abang nggak pernah melihat suami mu di sini.”


“Sebenarnya kami sudah lama bercerai. Sudah enam bulan yang lalu.”


“Berarti seumuran putra mu?”


“Iya, saat aku mengandung Bima, dia sudah meninggalkan kami.”


“Tega sekali dia. Apakah karena perempuan lain?”


“Iya, dia selingkuh dengan wanita cantik di Desa ku.”


“Saat ini, apakah Ayah Bima sudah menikah dengan wanita itu?”


“Aku nggak tahu, tapi semenjak ku tinggalkan Desa itu, aku belum pernah kembali kesana.”


“Ooo, begitu.”

__ADS_1


“Apakah Abang seorang Tentara?”


“Iya, kebetulan aku bertugas di Jakarta.”


“Udah berapa lama?”


“Udah sangat lama.”


Pada pembicaraan mereka yang kedua, Tomi melihat ada peluang untuk bisa mendekati Maryati, untuk itu Tomi terus saja mendekati Maryati melalui putranya Bima.


Jika Tomi punya kesempatan, dia selalu saja datang menemui Maryati, bahkan jika Tomi habis gajian dia pun datang dengan membawa begitu banyak mainan untuk Bima.


Maryati sudah berulang kali menolaknya, namun Tomi tak menggubris perkataan Maryati. Terkadang jika Tomi tak bertugas, Tomi pun mengajak Maryati pergi bertamasya sejenak, menghilangkan rasa lelah yang bergelayut di pundaknya.


“Kau terlihat terlalu lelah Yati.”


“Iya Bang, kalau bukan aku, lalu siapa lagi yang akan mencari nafkah untuk anak ku ini.”


“Kalau Yati nggak keberatan, Abang mau mencarikan biaya hidup untuk kalian berdua.”


“Nggak usah, aku masih sanggup kok, lagian aku nggak mau bergantung pada orang lain.”


“Gimana kalau kita menikah saja, kau nggak lagi bersusah payah mencari nafkah seperti ini kan.”


“Hm…!” seraya menarik nafas panjang, Maryati terdiam sejenak.


“Kenapa sih, mesti aku Bang?”


“Karena Yati telah memiliki seorang putra, jika dalam pernikahan kita, Allah belum memberi kita anak, Abang sudah merasa bahagia, karena ada Bima yang akan kita besarkan bersama.”


Setiap hari Tomi datang dan memberi semangat hidup untuk Maryati, lama kelamaan Maryati pun tak punya alasan untuk menolaknya. Mesti saat itu dia belum siap untuk menikah, tapi demi Bima yang butuh seorang Ayah, akhirnya Maryati menerima ajakan Tomi untuk menikah.


Di hadapan wali hakim, Tomi resmi menikah dengan Maryati. Pria yang berstatus seorang tentara ini, ternyata berhati mulia, setelah selesai mengemban tugasnya sebagai aparatur Negara, Tomi selalu kembali kerumah membantu Maryati.


Bersama Tomi, Maryati hidup sangat bahagia sekali, apa lagi ada Bima yang sangat lucu tumbuh bersama mereka berdua. Mesti bukan anak kandung sendiri, namun Tomi sangat menyayangi Bima.


Kadang Bima, malah nggak ingin di gendong oleh Ibunya, jika sedang rewel, dia memilih di gendong oleh Tomi yang sangat menyayanginya.


Hari-hari mereka jalani penuh dengan kegembiraan, hingga dua tahun pernikahan mereka Maryati pun di karunia seorang anak. Namun sayang di usianya dua minggu, bayi itu pun berpulang Rahmatullah.


Bayi yang mungil itu pun di beri nama Maryana. Mesti kehilangan putri pertamanya, tomi tak merasa kesal pada Maryati. Semua itu di jadikan pelajaran yang berharga dalam rumah tangganya.


Sementara Maryati yang kehilangan putrinya, siang malam dia menangis, mesti Tomi sudah berusaha untuk membujuknya namun Maryati tetap merasa kehilangan.


“Kamu yang sabar sayang, karena kemalangan itu tak dapat kita tahan, walau kita punya kekuatan sekalipun, kita ini tetap seorang hamba yang lemah tak berdaya.”


“Aku mengerti Bang.”

__ADS_1


“Baguslah, lain kali kita harus berhati-hati lagi dalam merawatnya.”


“Iya, Bang.”


Ketika masa berkabung masih menyelimuti hati mereka berdua, ternyata Allah memberi kejutan yang tiada mereka sangka sama sekali, kalau dalam rahim Maryati telah bersemayam seorang jabang bayi.


Menunggu Sembilan bulan sepuluh hari, Maryati pun melahirkan anak ketiganya. Kelahiran bayi yang ditunggu oleh Tomi itu pun menangis ketika sang bidan memandikannya.


“Selamat Pak, bayinya laki-laki.”


“Alhamdulillah,” dengan senang hati Tomi menggendong bayi laki-laki itu.


“Kau akan memberi nama siapa pada bayi kita ini Bang?” tanya Maryati pelan.


“Aku akan memberinya nama Ridwan, semoga kelak dia menjadi anak yang sholeh dan bertemu dengan kedua orang tuanya di syorga.”


“Aamiin…!”


Seperti putri pertamanya, Maryana, putra kedua Maryati pun ikut menyusul Kakaknya di usia baru berjalan satu bulan. Duka mendalam menyelimuti keluarga Tomi dan Maryati, mereka berdua merasa begitu kehilangan.


Satu bulan setelah Maryati kehilangan putra keduanya, mereka pun berencana untuk berkunjung rumah orang tua angkat Maryati di Desa Cempaka.


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, sampailah Maryati dan suaminya di Desa tersebut, tapi sangat di sayangkan, ketika menemui rumah itu, ternyata Marni, Ibu yang sangat berjasa pada dirinya telah meninggal dunia, satu bulan yang telah lalu.


“Kenapa Ayah nggak mengabari aku Yah?" tanya Maryati dengan deraian air mata.


“Gimana cara Ayah mengabari mu nak, kamu kan tahu sendiri, Kalau Ayah nggak tahu tempat tinggal mu, bukankah hari itu kau pergi bersama Ibu kesana?”


“Benar Yah.”


“Kalau begitu, hanya kau dan Ibu mu yang tahu tempat tinggal kalian.”


“Ayah benar, aku lupa memberitahu Ayah tempat tinggal ku.”


“Nggak apa-apa, yang terpenting Ayah sehat selalu, jadi kalian nggak perlu mencemaskan Ayah.”


“O iya, ini siapa Yati?” tanya Pak Darman pada Yati.”


“Maaf Ayah, aku jadi lupa untuk memperkenalkannya pada Ayah. Sebenarnya dia ini suami ku Yah.”


“Benar dia ini suami mu?”


“Benar Ayah, nggak mungkin aku berbohong pada Ayah.


Karena Maryati memperkenalkan suaminya pada Darman, maka Darman langsung menyambut uluran tangan Tomi tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2