Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 36 Kedatangan Maryati


__ADS_3

“Nduk, jangan bicara seperti itu.”


“Maafkan aku Ayah, nampaknya Ibu tak mau menerima kehadiran ku di rumah ini.”


“Bagus kalau kau tahu diri,” timpal Diah, seraya memalingkan wajahnya ke arah pintu.


“Diah! kau nggak boleh seperti itu pada putri ku.”


“Putri siapa maksudmu? bukankah dia itu putri angkat mu!”


“Itu menurut pendapat mu, tapi dia itulah yang selama ini telah membuat istriku bahagia.”


Mendengar pertengkaran keduanya, Maryati berusaha untuk mendamaikannya, karena dia tak ingin kedua orang tuanya itu bertengkar hanya karena dirinya.


“Baiklah, baik. Asalkan kalian nggak bertengkar lagi, sebaiknya aku pergi saja, Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam,” jawab Diah kasar


Mesti Diah menjawab salam yang di ucapkan Maryati, namun mereka kembali bertengkar.


“Kau keterlaluan Diah, sebelum kita menikah, Yati sudah menjadi bagian dari keluarga ku, sekarang hanya karena keegoisan mu, dia pun pergi meninggalkan ku.”


“Kalau memang dia itu anak yang berbakti, kenapa dia meninggalkan Ayahnya sendirian terpuruk tak berdaya!”


“Kau salah Diah, sebelum kedatangan mu ke rumah ini, Yati sudah pernah datang untuk mengajak ku tinggal bersamanya, tapi aku menolak, karena saat itu aku masih dalam masa tugas sebagai Kades.


“Haah..! sudahlah, nggak guna kau baca lagi keburukan putri angkat mu itu.”


“Menurut pandangan mata ku, kau tak kalah memiliki sifat buruk dari pada dia.”


‘Kurang ajar, dasar laki-laki nggak berguna.”


Sumpah serapah yang di ucapkan dia secara spontan membuat Darman merasa kaget, seumur hidupnya baru kali pertama seorang wanita menyumpahi dirinya.”


“Baiklah, mulai saat ini kau ku ceraikan! kemasi semua barang mu, dan keluarlah secepatnya dari rumah ku ini,” ucap Darman seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela luar.


“Kau serius menceraikan aku Kang?” tanya Diah tak percaya.


“Iya, aku harap jangan pernah kembali lagi kerumah ini.”


“Apa maksud kata-kata mu itu Kang? Apakah kau nggak kasihan melihat Rizik hidup tanpa seorang Ayah.”


“Buat apa aku kasihan pada Rizik, bukan kah dia itu punya Ayah kandung.”


“Tapi Ayahnya sudah pergi dengan wanita lain Kang.”


“Aku nggak perduli.”


“Ku mohon Kang, jangan usir kami dari rumah ini. Aku janji, akan menerima Yati dengan lapang dada.”


“Udah terlambat, sekarang Yati telah pergi, apakah kau tahu, di mana tinggalnya saat ini? nggak kan?”


“Jadi apa yang mesti kami lakukan untuk menebus kesalahan ini Kang.”


“Keluar dari rumah ini secepatnya!”


Ketegasan Darman pada istrinya Rodiah, membuat perempuan itu tidak berdaya, mesti Rodiah telah berulang kali meminta maaf, tapi Darman tetap saja mengusirnya dari rumah itu.

__ADS_1


Bersama Rizik putranya Rodiah pun keluar dari rumah mantan Kades tersebut.


“Kau begitu kejam Kang, kau bahkan nggak memberi ku kesempatan sedikit pun untuk memperbaiki kesalahan yang telah ku perbuat.”


“Percuma saja, jika seorang istri telah berani bicara kasar pada suaminya, suatu saat kata-kata itu pasti akan di ulanginya lagi.”


“Bukan kah tadi aku udah minta maaf pada mu!”


Tanpa menjawab sepatah katapun, Darman langsung menutup pintu rumahnya dengan kuat. Sehingga hal itu membuat Rodiah terpaksa harus pergi.


“Ibu, sebenarnya kita ini mau kemana?” tanya Rizik pada Ibunya yang tampak menangis sambil berjalan.


“Kemana saja, kapan perlu kita langsung menuju neraka.”


“Emangnya neraka itu rumah siapa Bu?”


“Rumah dedemit!” gerutu Rodiah yang saat itu mulai kesal.


“Rupanya dedemit itu tinggal di neraka ya Bu.”


“Udah!” teriak Rodiah seraya meremas rambutnya dengan kedua jemari tangannya.


“Ibu kenapa kesal? kan aku cuma nanya, dedemit itu tinggal di neraka atau tidak!


kalau iya jawab iya, kalau nggak Ibu nggak perlu kesal seperti itu."


“Diaaam…!”


“Baiklah, kalau Ibu menginginkan aku diam, maka aku akan segera tutup mulut.”


“Kenapa aku begitu ceroboh ya, jika saja aku mau sedikit bersabar, sampai hak waris rumah jatuh ketangan ku, pasti aku nggak akan keluar dari dalam rumah itu,” gumam Rodiah pelan.


Ketika Rodiah terus saja berkhayal dengan semua angan-angan kosongnya, Rizik terus saja berjalan tek tentu arah.


Dia meninggalkan Ibunya yang termenung sendirian. Ketika sebuah angkot hendak menabraknya, Rodiah baru sadar, kalau Rizik putranya tak lagi ada bersamanya.


“Rizik! Rizik! Rizik!” teriak Rodiah yang terus berlari kesana kemari mencari keberadaan putranya.


Sementara itu Rizik yang merasa telah lelah berjalan, dia pun baru sadar, kalau dia telah terlepas dari tangan Ibunya. Rizik menangis histeris di antara keramaian kota.


“Ibu, Ibu, Ibu…!huk, uhuk, huk!”


Kebetulan saat itu Maryati bersama ketiga orang anaknya, sedang menantikan becak untuk pulang kerumahnya, tanpa sengaja Bima melihat Rizik sedang menangis.


“Bu, lihat! bukankah itu anak Kakek yang kita datangi tadi?”


“Iya, kau benar nak, lagi ngapain dia disini?” tanya Maryati pada Bima.


“Entahlah Bu, tapi sepertinya dia sedang menangis, Bu.”


“Mari kita hampiri nak.”


Lalu mereka berempat menghampiri Rizik yang terus saja menangis sambil memanggil Ibunya. Banyak orang yang memperhatikan namun mereka tak kenal dengan Rizik.


“Kamu kenapa menangis nak?” tanya Maryati ingin tahu.


“Tadi aku bersama Ibu ku, tapi aku nggak tahu Ibu pergi kemana saat ini?”

__ADS_1


“Bukan kah kau tadi yang berada di rumah Pak Darman?”


“Iya Bu, Pak Darman itu adalah Ayah ku, tapi dia juga telah mengusir Ibu dari rumah."


“Jadi kalian di usir dari rumah oleh Pak Darman?”


“Iya Bu.”


“Kenapa bisa diusir?”


“Karena Ayah dan Ibu bertengkar.”


“Ooo.”


Maryati sadar, kalau pertengkaran mereka berdua, pasti di picu karena kehadiran dirinya di rumah itu.


“Baiklah, kalau begitu, biar Ibu antar kau pulang kerumah Pak Darman.”


“Gimana kalau Ibu ku mencari nantinya?”


“Dia pasti mencari mu kerumah Pak Darman.”


“Baiklah.”


Tanpa merasa keberatan sedikit pun Maryati langsung mengantar Rizik kerumah Ayahnya di Desa Cempaka. Melihat kedatangan Maryati bersama Rizik, Darman menjadi heran sekali.


“Lho, kenapa Rizik ada bersama mu nak?” tanya Pak Darman heran.


“Tadi aku menemuinya di terminal Ayah, aku melihatnya sedang menangis, sepertinya Rizik terpisah dari Ibunya.”


“Apa benar begitu nak?”


“Iya Yah, tadi itu Ibu ada di belakang ku, tapi Ibu udah nggak kelihatan lagi?”


“Aduh, pergi kemana dia, kenapa dia begitu tega meninggalkan putranya sendirian di tengah pasar.”


“Huhuhu…! lalu aku bagai mana Ayah.”


“Tenanglah nak, kita tunggu saja di sini, nanti Ibu mu pasti kembali untuk mencari keberadaan mu di rumah ini.”


“Kalau Ibu nggak kembali gimana Ayah?”


“Kalau Ibu nggak kembali juga menjelang besok, maka Ayah akan mencari Ibumu.”


“Benarkah Ayah?”


“Benar sayang, sekarang berhentilah menangis.”


“Baik Ayah,” jawab Rizik sedikit tenang.


“Yati.”


“Iya Ayah.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2