
Dengan linangan air mata, Ria mencoba menggigit roti yang ada di tangannya, hatinya benar-benar sedih saat itu, karena akan berpisah untuk selamanya dengan pria yang sangat dia cintai dan sayangi.
Hingga larut malam pun Ria masih juga menangis sedih, air matanya terasa tak kuasa untuk di bendung, rasanya perasaan Ria berkecamuk tak menentu. Ica putri kecil Ria yang tertidur pun terbangun saat mendengar suara tangisan Mamanya.
“Mama kenapa menangis?” tanya Ica heran.
“Mama sedih nak.”
“Sedih? sedih kenapa? apakah karena Mama berpisah dengan Papa?”
“Iya sayang,” jawab Ria pelan.
“Kenapa ya Ma, Papa mengusir kita semua, padahal Mama kan nggak bersalah pada Papa?”
“Semua itu karena Nenek mu, dia menghasut Papa agar membenci Mama dan mengusir kita dari Desa ini.”
“Nenek? apa menurut Mama, Nenek kita itu jahat?”
“Iya, dia itu seorang ***** sihir yang jahat.”
‘Hiii, kalau begitu aku jadi takut bila bertemu dengan Nenek sihir itu.”
“Iya, kalau Ica bertemu dengan Nenek sihir itu, ludahi saja wajahnya, biar tahu rasa dia.”
“Baik Ma.”
Wilda yang tak sengaja mendengarkan percakapan mereka berdua malam itu, jantungnya terasa bergetar kuat, Wilda tak menyangka, kalau Ria begitu tega menghasut putrinya sendiri untuk berbuat Jahat pada Neneknya.
“Ibu sepertinya, Ria telah menghasut putrinya sendiri untuk berbuat jahat pada Neneknya.”
“Darimana kau tahu Wil?”
“Ku dengar sendiri dari percakapan mereka malam tadi.”
“Menurutmu, apa mungkin Bu Yati sekejam itu pada menantunya, jika dia nggak bersalah?”
“Ku rasa itu hanya sandiwara Ria saja Bu, soalnya selama ini, Bu Yati itu kan merasa tertindas oleh perlakuan Ria.
“Kalau begitu tunggulah sebentar Wil, Ibu mau kerumah Bu Yati, untuk mendengarkan informasi yang sebenarnya.”
“Baik Bu, tapi Ibu jangan lama-lama ya?”
"Iya, Ibu cuma sebentar aja kok."
Seraya bergegas Marni berlari untuk menemui Yati yang saat itu sedang berada di rumahnya. Ketika melihat Marni datang, Maryati menyambutnya dengan baik dan ramah.
“Assalam’alaikum, Bu Yati.”
“Wa’alaikum salam, eh ada Marni. Tumben, ada keperluan apa Mar, pagi-pagi begini sudah datang bertamu, sepertinya ada hal penting yang ingin di sampaikan.”
“Iya Bu Yati.”
“Kalau begitu silahkan duduk dulu,” ajak Maryati pada Marni.
Seraya duduk, Marni melihat ada bekas luka di wajah Maryati, bekas itu selalu di pandang Marni, tapi dia tak tahu bekas luka apa itu.
__ADS_1
“Wajah Ibu kenapa? kok seperti bekas cakaran?”
“Iya, ini bekas cakaran kuku Ria.”
“Hah! benar itu bekas cakaran kuku Ria?”
“Benar Mar, kemaren kami sempat bertengkar dengannya, dia menuduh aku telah menghasut semua warga agar membencinya. Padahal Marni tahu sendiri kan, jangankan untuk menghasut semua warga, untuk keluar rumah saja aku bahkan nggak pernah."
“Jadi, Ria tahu dari mana kalau Ibu yang telah menghasut semua warga untuk membencinya?”
“Nggak tahu Mar.”
“Saat ini, Ria kemana Bu?”
“Andi telah menceraikannya dan mengusir Ria dari rumah ini.”
“Kapan dia perginya Bu?”
“Kemarin sore. Aku juga nggak nyangka, kalau hal buruk itu bakalan terjadi secepat itu. Sepertinya kejadian sore itu tak pernah kami konsep sebelumnya.”
“Wah, kasihan sekali dengan anak-anaknya ya, Bu?”
“Sebenarnya aku bisa saja memaafkannya, tapi Andi sudah terlanjur emosi waktu itu, jadi dia langsung menceraikan istrinya tanpa berfikir terlebih dahulu.”
“Kalau menurutku, tindakan Andi itu sudah benar Bu, itu artinya dia sangat mencintai Ibunya ketimbang istrinya sendiri.”
“Tapi Mar, gara-gara aku, Andi kehilangan istrinya.”
“Itu bukan gara-gara Ibu, tapi itu kesalahan Ria yang jahat pada Ibu mertua sebaik Ibu.”
“Maaf Bu, kalau boleh aku berkata Jujur, maka aku akan bicara.”
“Ya silahkan Mar, kenapa mesti takut?”
“Saat ini Ria bersama kedua anaknya sedang berada di rumahku, aku sengaja memberinya tumpangan semalam karena kasihan dengan kedua anak-anaknya yang masih kecil.”
“Benarkah itu Bu?”
“Ya Bu Yati.”
“Oh, syukurlah.”
“Tapi kendalanya ada Bu, Ria nggak punya uang untuk ongkos mereka pulang ke Padang.”
“Benarkah dia nggak punya uang untuk ongkos pulang?”
“Katanya begitu Bu.”
Mendengar cerita dari Marni hati Yati merasa sedih, lalu dia memanggil putranya Andi untuk meminta uang.”
“Uang untuk apa Bu?”
“Saat ini Ria, belum pulang ke Padang nak.”
“Kenapa dia belum pulang Bu, bukankah dia udah ku usir dari rumah ini.”
__ADS_1
“Katanya dia nggak punya uang untuk ongkos pulang ke Padang.”
“Dia itu bohong Bu, masa dia nggak punya uang, dia justru membawa uang banyak saat ini, di tambah lagi dengan uang tabungan ku yang ku taruh di dalam kamar, semuanya ludes mereka bawa.”
“Kira-kira ada berapa isi tabungan mu itu Andi?”
“Sekitar lima jutaan.”
“Nah Ibu dengar sendirikan, kalau saat ini Ria membawa begitu banyak uang bersamanya,” ujar Maryati dengan suara datar.
“Lalu kenapa dia bilang nggak punya uang ya?”
“Dia itu ingin membohongi Ibu, karana hanya dengan alasan seperti itu, Ibu mau menampungnya lebih lama lagi.”
Marni yang telah merasa di tipu oleh Ria, dia pun langsung pulang ke rumahnya. Wilda yang melihat kedatangan Ibunya dia pun bergegas untuk menghampiri.
“Gimana Bu? apakah Ibu telah mendapatkan jawabannya?”
“Sudah Wil, ternyata, Ria itu membohongi kita, nak.”
“Membohongi kita gimana maksud Ibu?”
“Rupanya Ria lah yang bersalah, bukan Bu Yati. Ria juga telah bertengkar dengan Bu Yati, serta mencakar wajah Ibu mertuanya hingga berdarah.”
“Benar begitu ceritanya Bu.”
“Iya nak, Ibu mendapatkan informasi ini, langsung dari mulut Bu Yati sendiri.”
“Ya Allah, ternyata Kak Ria yang bersalah, bahkan dia sampai tega mencakar wajah Bu Yati.”
Saat lagi asik bercerita di dapur rumahnya, tiba-tiba saja Ria muncul dari balik pintu, hal itu membuat jantung Marni dan Wilda terasa hendak lepas.
“Kalian lagi cerita apa? kok seperti sedang membicarakan sesuatu?” tanya Ria ingin tahu.
“Eh, Ria. Kamu itu kalau ke dapur yang ngomong, jangan diam-diam gitu, Ibu kan jadi terkejut.”
“Maaf, kalau kedatangan ku membuat Ibu terkejut. O iya Wil, kamu jadi kan menemui Bang Andi untuk minta uang?”
“Tadi Ibu udah kesana, tapi Andi nggak punya uang lagi untuk ongkos mobilmu.”
“Kurang ajar, dasar suami nggak berguna, menceraikan istri bisa, tapi nggak mau memberinya uang untuk pulang.”
“Tapi Andi bilang, kau telah membawa semua uang yang ada di bawah kasur serta tabungan.”
“Aku memang udah mengambil semua uang itu Bu, tapi kalau hanya uang segitu, mana bisa untuk ongkos pulang ke Padang.”
“Apa katamu? uang lebih dari lima juta nggak bisa untuk ongkos ke Padang? yang benar saja kamu!”
“Maksud Ibu apa?” tanya Ria tak mengerti.
“Kata Andi, dalama tabungannya itu ada berisi uang sebanyak lima juta rupiah, berarti saat ini kau membawa uang banyak untuk biaya hidup mu selama di Padang.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1