Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 29 Buka usaha baru


__ADS_3

“Kau yang nggak tahu malu, sudah jelas dia itu suami orang lain kenapa kau mesti mengganggunya juga.”


“Kata siapa dia itu suami mu, kau dengar sendiri kan, kalau dia tak kenal dengan mu!”


“Kau benar-benar laki-laki tak punya hati Bang.”


Mendengar suara ribut-ribut, Marni pun datang menghampiri kedai rujak itu. di dalam kedai itu Marni melihat Maryati dan Rendi sedang bertengkar. Di samping Rendi ada seorang wanita lain, yang tangannya selalu memegang tangan Rendi.


“Rendi?” ujar Marni terkejut.


“Hah, ini perempuan siapa pula Bang?” tanya wanita itu pada Rendi.


“Nggak tahu,” jawab Rendi berbohong.


“Apa katamu Ren? kau nggak kenal dengan Ibu?”


“Iya, Ibu siapa?”


“Ooo, ternyata kau sudah lupa ingatan ya? baik, coba kau bayangkan ini!” ujar Marni seraya menyiram wajah Rendi dengan segelas air yang terletak di atas meja.


“Baru bekerja sebagai penarik becak, tapi kesombongan mu melebihi pejabat Ren. Heh, kau tahu sendiri kan," ujar Marni pada perempuan itu. "Kalau dia itu suami putri ku, lihat ini anak pria yang tak berguna itu, mulai sekarang, jangankan untuk menyentuh anak ini, untuk melihatnya pun kau nggak bakal ku izinkan.”


“Nggak bisa gitu dong!”


“Ayo sayang, kita pergi. Nggak ada gunanya mengharapkan laki-laki yang tak berguna seperti dia, lihat saja nanti, suatu saat kau pasti datang kerumah ku untuk memohon!” ujar Marni seraya menarik paksa tangan Maryati.


Betapa sakit hati Maryati menerimanya, terasa tak kuat dia menanggung beban seberat itu, namun takdir hidup telah menetapkan hal itu padanya. Hari-hari kini di jalani Maryati bersama putra kesayangannya.


Dua bulan telah berlalu, putra Maryati terus tumbuh menjadi anak yang sehat, mesti tanpa dampingan seorang Ayah, namun dia punya Nenek dan Kakek yang selalu menyayanginya.


Setelah empat bulan berlalu, Maryati terus berfikir, untuk masa depan anaknya, dia tak ingin putra satu-satunya tumbuh dalam belas kasihan orang lain. Untuk itu dia pun mencoba mencari jalan keluar yang baik.


“Ibu, sekarang Bima sudah tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat, mesti tanpa bimbingan Ayahnya. Namun lama-kelamaan aku terus berfikir untuk tidak membebani Ayah dan Ibu lagi.”


“Apa maksud mu, nduk?” tanya Marni tak mengerti.


“Aku ingin pergi dari Desa ini Bu.”


“Pergi kemana nduk, pergi kemana?”

__ADS_1


“Kalau Ayah dan Ibu mengizinkan, aku ingin berjualan di stasiun kereta api.”


“Stasiun Senen?”


“Iya Bu,” jawab Maryati seraya menganggukkan kepalanya.


“Kau mau jualan apa nak?” tanya Darman pada Maryati.


“Aku ingin buka warung kopi Yah.”


“Lalu bagai mana dengan anak mu?”


“Dia akan ikut bersama ku.”


“Aduh, itu sangat berbahaya sekali nak, apa lagi stasiun kereta itu, sagat rawan sekali dengan kejahatan.”


“Insya Allah, aku akan menjaga Bima dengan baik Yah.”


“Kalau begitu, semuanya Ayah serahkan pada Ibu mu. Biarlah Ibu mu yang akan memutuskannya nanti.”


“Sebenarnya Ibu nggak keberatan nduk, tapi masalahnya, jika kalian pergi pasti rumah Ibu terasa begitu sepi sekali, kamu tahu sendirikan, kalau selama ini Ibu sangat merindukan suara tangisan seorang bayi dirumah ini.”


“Apakah kau sudah memikirkannya dengan benar nduk?”


“Sudah Yah.”


“Baiklah, kalau memang itu udah menjadi keputusan mu, Ayah dan Ibu nggak bisa berbuat apa-apa. kapan kau akan memulai rencana mu itu, nduk?”


“Kalau Ayah dan Ibu mengizinkan ku, rencananya besok aku akan melihat tempatnya terlebih dahulu.”


“Baiklah, kalau kau nggak keberatan, Ibu bersedia menemanimu melihat tempatnya besok.”


“Terserah Ibu saja.”


Tekat Maryati sudah bulat, keinginannya untuk keluar dari Desa Cempaka telah direncanakannya jauh hari, bersama Marni Ibu angkatnya, Maryati pergi mencari tempat berjualan di stasiun Senen.


Setelah tempat di dapatkan, lalu diapun membayar uang kontrakannya selama dua tahun, Marni tak merasa keberatan sedikitpun untuk mengeluarkan uang ratusan ribu untuk membayar sewa kontrakan di stasiun itu.


“Ibu, uang sewa kontrakan yang Ibu keluarkan, akan ku bayar nanti pada Ibu setelah aku berhasil.”

__ADS_1


“Nggak usah di bayar nak, Ibu ikhlas kok, asalkan kalian berdua bisa hidup dan berdagang dengan baik disini.”


“Makasih Bu, tanpa Ibu dan Ayah, pasti aku telah menjadi gembel di dunia ini.”


“Jangan bicara seperti itu nak, Allah itu maha berkehendak, apa pun yang telah dia rencanakan, semuanya itu pasti mengandung hikmah yang tak pernah kita duga.”


“Ibu benar, menderita selama puluhan tahun, akhirnya aku mendapat kebahagian sesudah itu, namun saat ini aku kembali di uji dengan kenyataan hidup yang begitu berat untuk di lalui. Setelah ini, aku masih berharap agar Allah memberiku nikmat yang tak terduga.”


“Aamiin…! asalkan kau tabah, kau pasti mendapatkan apa yang kau inginkan nduk.”


“Insya Allah, Bu. Insya Allah.”


Dengan semangat baru, Maryati mulai menjalani hari-harinya, bersama putra tunggalnya yang masih berusia lima bulan, Maryati tak pernah mengeluh.


Selain membuka warung minuman Maryati juga menjual makanan ringan, jika ada yang berpesan makanan, Maryati pun bersedia melayaninya.


Di tempat lain, seorang perwira TNI, mendapat tugas di Jakarta, bersama istrinya. Di Jakarta mereka membuka warung nasi Padang. Mesti belum memiliki momongan namun Tomi dan Yana tetap yakin kalau suatu saat Allah akan menganugerahi titipan pada mereka berdua.


Siang dan malam Tomi dan Yana bekerja tiada henti. Setiap saat ada saja para pembeli yang datang untuk menikmati masakan Tomi yang sangat lezat.


Setelah pulang bertugas, Tomi selalu membantu Yana untuk memasak, mesti saat itu mereka memiliki lima orang pembantu yang bisa di andalkan, namun Tomi tak pernah melepaskan sepenuhnya hasil racikan tangannya pada orang lain.


Sebagai seorang istri pada umumnya, Yana tak pernah mengabaikan suaminya, mesti sesibuk apapun, Yana selalu melayani suaminya dengan tangannya sendiri. Hal itulah yang membuat Tomi selalu menghormati dan menghargainya.


Malam itu saat mereka berdua telah selesai berdagang, hasil jualan pun di hitung dengan teliti dan baik, agar tak ada kekeliruan dalam berjualan.


“Gimana sayang, apakah hasil pendapatan kita hari ini beruntung?” tanya Tomi pada Yana.


“Alhamdulillah, hari ini hasil penjualan kita beruntung lebih, Bang.”


“Syukurlah, ingat sayang jangan lupa sisihkan untuk di sedekahkan.”


“Tentu Bang,” jawab Yana dengan suara lembut.


Karena begitu ramai pembeli masakan padang yang di jual Tomi, hasil yang mereka dapatkan sangat memuaskan, setiap hari ada saja uang yang di dapat Yana untuk membeli emas, semua perhiasan itu selalu di pakainya. Sehingga orang memberi Yana gelar Toko Mas, berjalan.


Warga memberi Yana gelar seperti itu, karena memang Yana selalu saja mempamerkan setiap perhiasan yang di belinya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2