
Ucapan Maryati yang terdengar biasa saja itu, ternyata membuat Tomi berfikir untuk terus berusaha agar tetap bisa hidup. Berbagai macam pekerjaan dia lakukan demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Di saat semuanya berjalan sewajarnya, tiba-tiba saja, mereka di timpa musibah, putra kembarnya Juni menghembuskan nafas terakhir di malam itu, Maryati pun menangis histeris, bayi yang terlihat sehat dan lincah itu, tiba-tiba saja pergi meninggalkan mereka sekeluarga.
Hanya selisih dua minggu, menyusul pula Juna, yang meninggal dunia di rumah sakit. Mesti tampak lemah, namun Maryati berusaha untuk tetap tegar, karena saat itu ada bayi mungil yang akan segera lahir ke dunia.
Satu bulan setelah kepergian Juni dan Juna, Maryati pun melahirkan seorang bayi perempuan lagi, sama dengan Tia, Leni juga lahir dengan kondisi prematur.
Bahkan Leni mesti di rawat dalam Incubator terlebih dahulu, sampai kondisi pisiknya membaik.
“Ibu Yati!” panggil seorang perawat dengan suara lantang.
“Saya Sus.”
“Ibu di suruh menghadap dokter di ruangannya.”
“Ada apa ya Sus?” tanya Maryati ingin tahu.
“Saya nggak tahu, Bu. Tapi Ibu bisa tanyakan langsung pada dokternya nanti.”
“Baiklah,” jawab Maryati sambil melangkah pergi menuju ruang dokter.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Maryati langsung saja masuk kedalam ruangan itu, dr. Ramlan yang menangani masa persalinan Maryati mencoba bicara pada wanita muda itu.
“Ibu yang bernama Yati?”
“Benar dok.”
“Duduklah dulu.”
“Baik dok.”
“Begini Bu, kalau saya perhatikan dari data kelahiran yang selama ini Ibu lakukan, sepertinya Ibu mengalami sedikit masalah di dalam kandungan Ibu.”
“Masalah, masalah apa dok?”
“Di usia Ibu yang terbilang masih terlalu muda, semestinya Ibu jangan memperapat kehamilan, karena bayi yang ada di dalam kandungan Ibu, bisa tidak sehat.”
“Tapi Ibu sendiri nggak bisa memberi jarak kehamilan Ibu ini.”
“Kalau Ibu mau, kami dari rumah sakit bersedia memberi Ibu obat untuk memperlambat masa kehamilan Ibu.”
“Baiklah,” jawab Maryati pelan.
Atas persetujuan Maryati, lalu pihak rumah sakit menyuntikan obat, agar masa kehamilannya bisa sedikit di perlambat.
Tiga bulan usia Leni berjalan, kehidupan mereka semakin sulit, semuanya serba susah untuk di dapat, Maryati dan ke tiga orang anaknya kadang tak makan apa-apa dalam seharian.
__ADS_1
Untuk itulah Tomi datang ke kantor pusat untuk memastikan kerja yang selama ini tak pernah dijalankannya.”
Setibanya di kantor pusat seorang TU datang menghadap pada Tomi sembari menyodorkan selembar surat yang telah berisi pernyataan.
Dengan tenang Tomi pun membaca isi surat itu, yang di bawahnya ada tanda tangan pimpinan pusat.
“Untuk setiap bulannya, Bapak bisa mengambil uang pensiun Bapak di kantor ini.”
“Ooo, baiklah,” jawab Tomi sambil berlalu meninggalkan kantor tempat dia bertugas selama ini.
Wajah kusut Tomi langsung di perlihatkan pada Maryati ketika dia tiba di rumah. Sementara itu Maryati hanya diam saja, melihat gelagat suaminya itu.
“Aku sudah berhenti dari tugas!” ujar Tomi datar.
“Kenapa berhenti?” tanya Maryati dengan suara ketus.
“Mereka mempensiunkan ku dari tugas.”
Maryati diam saja, dia tak banyak bicara saat itu, karena apapun yang telah mereka alami, semua itu pasti atas kehendak Allah.
“Karena saat ini aku sudah berhenti bertugas, jadi aku ingin pulang ke rumah orang tua ku di kota Padang.”
“Abang ingin pulang ke Padang?”
“Benar sayang.”
“Lalu bagai mana dengan aku dan anak-anak?”
“Ooo, begitu.”
“Asalkan tetap bersabar, kita pasti menemukan jalan yang tepat untuk kembali berkumpul.”
“Terserah Abang, lagian aku udah terbiasa dari dulu hidup menderita begini, jika pun kelak Abang nggak menjemput ku bersama anak-anak, itu nggak menjadi masalah.”
Walau berat terasa Maryati untuk menerima kenyataan itu, namun dia terpaksa harus menjalaninya. Sesuai dengan Keinginan Tomi, dengan uang pensiun yang tak seberapa dia pun kembali pulang ke kota asalnya.
Seraya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, Maryati berusaha untuk tidak melihatkan rasa sedih yang dirasakannya.
Dalam keadaan yang sangat sulit itu Tomi tega menelantarkan istri dan ke tiga orang anaknya di kota besar, padahal waktu itu Leni sedang mengalami kelumpuhan.
Di stasiun Senen, Maryati kembali menemui Ayah angkatnya, di Desa Cempaka. Dia datang secara diam-diam, agar Ayahnya tak merasa terkejut dengan kehadirannya.
“Ayah!” teriak Maryati ketika melihat Ayahnya sedang duduk sendirian di depan rumah.
Bersama Ayahnya itu, ada seorang wanita muda dan seorang anak kecil, yang saat itu sedang asik memperhatikannya.
“Kau pulang nduk?” tanya Darman seraya menjawab salam Maryati.
__ADS_1
“Iya Ayah.”
“Mana suami mu, apakah dia nggak ikut kesini?”
“Saat ini Bang Tomi sedang pulang ke Padang, Ayah.”
“Pulang ke Padang? kenapa kalian nggak ikut nduk?”
“Kata Bang Tomi, jika dia telah mendapat pekerjaan di sana, baru dia kembali kesini untuk menjemput kami.”
“Ooo, iya. Perkenalkan, Ini Ibu mu dan Ini putra kami.”
“Ibu,” lalu tangan lembut Maryati menyalami perempuan yang tampak begitu sangar berdiri di samping Ayahnya.
“Ada keperluan apa kamu datang nduk?” tanya Darman pada putri angkatnya itu.
“Aku saat ini kehabisan modal Ayah, aku ingin pinjam modal usaha pada Ayah, nanti kalau aku udah punya uang, maka utang Ayah akan segera ku lunasi.”
“Kau ini bicara apa toh nduk? Ayah nggak pernah keberatan memberi mu uang, lagian kau nggak perlu mengembalikannya pada Ayah, yang paling terpenting kalian semua sehat.”
“Alhamdulillah, kami sekeluarga sehat Ayah.”
“Diah, tolong kau ambilkan uang celengan ku itu!” perintah Darman pada istri barunya.
“Celengan yang mana sih Bang?” tanya Diah sedikit kesal.
“Celengan yang ada di samping lemari.”
“Emangnya untuk apa sih Bang?”
“Aku mau memberikan uangnya pada Yati, putri ku.”
“Enak saja, emangnya dia itu siapa? Datang-datang langsung minta uang, kalau mau, cari sendiri dong! jangan berharap dari orang tua yang sudah tak berdaya.”
“Diah, kau ini lagi bicara apa sih, kalau ngomong mbok ya di jaga.”
“Dijaga apanya Pak? aku ini kan istrimu, ya tolong di hargai sedikit dong.”
“Kau itu memang istri ku, tapi dia ini putriku, aku berhak memberikan apa saja yang dia inginkan.”
“Putri! emangnya dia itu pernah mengurus mu! aku yang selalu mengurus mu, bukan dia!” ujar Diah dengan suara keras.
“Maafkan aku Bu, sebenarnya aku nggak bermaksud membuat kalian bertengkar.”
“Kalau kau nggak bermaksud membuat kami bertengkar, ya tunggu apa lagi, pergi sana! jangan ganggu hidup keluarga ini lagi.”
‘”Baiklah, kalau Ibu nggak mengizinkan aku datang ke rumah ini lagi, maka aku pun nggak bakalan datang.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*