
Tanpa berlama-lama lagi, Pak Kades langsung menemui tetua Desa, untuk membahas masalah pernikahan Maryati dengan Rendi. Kesepakatan pun di dapat pada pertemuan itu, kemudian Rendi di suruh untuk datang melamar Maryati secara resmi.
Malam itu rumah Pak Kades sangat ramai sekali, para warga ikut berdatangan membantu semua keperluan yang dibutuhkan, setelah pertemuan malam itu usai, maka kesepakatan pun di buat antara kedua belah pihak.
Saat itu pernikahan mereka akan dilangsungkan dua hari lagi, untuk itulah semua warga Desa Cempaka beramai-ramai membantu Pak Kades mengerjakan segala sesuatunya.
Tak tanggung-tanggung, Pak Kades bahkan mengeluarkan biaya yang begitu banyak untuk acara pernikahan Maryati dengan Rendi. Padahal Pak Kades baru mengenal Maryati selama satu tahun, namun kasih sayang mereka tercurah habis pada gadis baik itu.
Acara peresmian mereka, berjalan dengan lancar tanpa mengalami hambatan, Pak Kades sangat senang sekali dapat menikahkan putrinya itu.
“Ayah, hari ini aku telah resmi menikah dengan Bang Rendi, gimana menurut Ayah, apakah aku harus tinggal dirumah kontrakan Bang Rendi atau tetap tinggal disini bersama Ayah?” tanya Maryati.
“Kenapa mesti pergi nduk? walau pun kalian telah resmi menikah, kau masih tetap menjadi putri Ayah yang sangat Ayah sayangi.”
“Iya nduk, kalian nggak usah pergi, nanti biar Ibu akan suruh orang lain untuk membesarkan kamar kalian biar agak sedikit luas.”
“Ibu, bukan masalah kamarnya, yang kita bahas saat ini, kalau soal kamar, aku akan menerima apa adanya.”
“Kalau bukan masalah kamar, lalu kenapa kau mesti meninggalkan Ibu nduk.”
“Baiklah, kalau itu yang Ibu inginkan, aku janji, aku akan tetap tinggal disini bersama Bang Rendi.”
“Nah gitu dong, Ibu dan Ayah mu pasti merasa senang, karena rumah ini akan ramai nantinya dengan suara tangis dan gelak tawa anak-anak kalian.”
“Ah..! Ibu…!” ucap Maryati sedikit malu.
Di usia yang masih terbilang muda belia, Maryati telah menyandang status sebagai seorang istri, bersama Rendi orang yang pertama kali dia jumpai. Hal itu telah membuat masa keremajaannya berakhir.
Hidup bersama Rendi membuat Maryati mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya, selain penyayang, Rendi selalu memperhatikan Yati setiap saat, sehingga hari-hari mereka berdua terasa sangat menyenangkan.
Lima bulan setelah pernikahan mereka, Yati di nyatakan positif hamil. Bukan hanya Rendi yang menjadi senang saat itu, Darman dan Marni juga mendapat imbas dari kebahagiaan mereka.
Setiap hari Yati selalu memperlihatkan wajah cerianya di hadapan semua anggota keluarga, terutama suaminya yang bekerja keras untuk dirinya.
Mesti demikian Yati sebagai seorang istri tetap menjaga martabat suaminya di hadapan semua orang, selama tinggal di rumah Pak Kades, baik sebelum menikah mau pun sesudah menikah, Yati jarang sekali menampakkan diri keluar rumah.
Akan tetapi, gadis manis ini selalu ramah jika bertemu dengan siapa saja, walau Yati tak mengenalnya sama sekali, namun dia tetap mengucapkan salam jika bertemu orang yang lebih tua darinya.
Karena saat itu Yati sedang mengalami ngidam anak pertamanya, keinginannya selalu saja berada di luar nalar, kadang Rendi tak habis pikir dengan permintaan istrinya yang agak sedikit aneh itu.
__ADS_1
Malam itu, Yati berkeinginan sekali makan rujak. Mesti lelah, Rendi mencoba menuruti keinginan istrinya itu, di tengah malam yang gelap Rendi terus mendayung becaknya untuk mencarikan rujak pesanan Maryati.
Mesti Rendi telah mencari kebanyak tempat, namun hasilnya tetap sama, kalau rujak mereka semua, sudah habis terjual. Rendi pun mencoba kembali pulang dengan tangan kosong, namun Maryati merasa kecewa. Hingga pagi pun, Yati terus saja menangis.
Keesokan harinya, saat malam telah kembali menyelimuti siang, Yati kembali meminta rujak pada Rendi. Dengan senang hati Rendi pun keluar rumah untuk mencarikan rujak yang di minta istri tercintanya.
Beruntung saat itu masih ada seorang pedagang rujak yang masih buka, sehingga Rendi pun membeli satu porsi rujak. Saat memberikan uang pada penjual rujak, penjual itu tak memiliki uang kembaliannya.
“Ya udah kalau mbak nggak punya uang kembaliannya, ya nggak apa-apa, mbak ambil saja sisanya.”
“Tapi uangnya masih sisa banyak lho.”
“Nggak apa-apa, ambil aja.”
Lalu Rendi pun bergegas kembali pulang kerumah seraya membawa rujak pesanan istrinya, dengan tubuh menggigil kedinginan karena hujan, Rendi pun mencoba mengetuk pintu rumah itu dengan pelan.
Marni yang saat itu masih beres-beres di dapur dia langsung bergegas membukakan pintu.
“Lho, nak Rendi, kenapa basah kuyup begini?”
“Aku lupa bawa mantel Bu.”
“Ooo, gitu. Tunggu sebentar Ibu akan ambilkan handuk untuk mu.”
“Iya, sama-sama.”
Setelah Rendi selesai mengeringkan badannya, dia pun bergegas masuk kedalam kamar, tampak istrinya telah tertidur dengan lelap sekali. Sebenarnya Rendi sedikit ragu untuk membangunkan Maryati, tapi takut pesanannya keburu nggak enak, akhirnya Rendi berusaha untuk membangunkan istrinya itu.
“Apa sih Bang?” tanya Maryati ketika hidungnya di colek oleh Rendi.
“Ini, rujak pesanan mu.”
“Perasaan aku nggak ada pesan rujak.”
“Ah, kamu serius sayang? aku udah capek lho, mencari hingga begitu jauh.”
“Tapi aku nggak selera!”
“Cobalah dimakan sedikit aja.”
__ADS_1
“Baiklah,” jawab Maryati dengan suara lembut.
Saat rujak itu dimakan oleh Maryati, dia pun langsung merasa mual dan muntah, hingga muntahnya itu mengenai Rendi dan seluruh kain seprai yang telah tertata rapi.”
“Oh sayang, maafkan aku ya, sepertinya aku nggak sengaja.”
“Nggak apa, biar nanti aku yang bersihkan.”
“Baiklah,” jawab Maryati sembari kembali tidur.
Melihat sikap istrinya yang aneh itu, Rendi hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia pun kemudian membersihkan kamar dan pakaiannya yang terkena muntah Maryati.
“Lho nak Rendi, bawa kain apa itu?” tanya Marni ketika melihat Rendi membawa begitu banyak kain kotor ke kamar mandi.
“Eh Ibu, ini tadi Yati muntah lagi, jadi kena semua deh!”
“Kamu yang sabar ya nak, kata Ibu-ibu yang pernah hamil, menghadapi istri yang lagi ngidam itu memang butuh kesabaran. Karena, kalau dia minta sesuatu, dituruti salah nggak dituruti pun juga salah.”
“Ibu benar, kadang kita menjadi emosi di buatnya.”
“Tapi kamu tenang saja, kata tetangga sebelah, hal itu hanya terjadi sampai kandungan Yati berusia empat bulan.”
“Ooo, sampai empat bulan ya Bu?”
“Katanya begitu.”
“Oh biarlah Bu, lagian kenapa mesti emosi, toh dia itu kan sedang mengandung.”
“Benar nak, benar sekali.”
“Ya udah Bu, kalau begitu aku ke kamar dulu.”
“Iya nak, kainnya biar Ibu saja yang rendam nantinya.”
“Baik Bu.”
Tinggal bersama keluarga yang baik, Rendi merasa sangat senang sekali, apalagi semenjak Yati menjadi istrinya, semua kebutuhan Rendi telah di siapkan Yati sebelum Rendi memintanya.
Bukan hanya itu saja, setiap Rendi pulang menarik becak, Yati selalu memijat seluruh tubuh suaminya dengan senang hati.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*