Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 107 Penyakit yang di derita Tomi


__ADS_3

“Sekarang begini saja, karena Bang Rijal nggak mau membayar uang kita, gimana kalau kita kembali pulang ke rumah.”


“Baiklah, aku setuju kalau kita pulang sekarang,” jawab Nisa pelan.


“Kalian nggak nginap?” tanya Maryati ingin tahu.


“Lain kali saja Bu, besok Bang Adit lagi banyak pekerjaan.”


“Padahal udah satu minggu kalian nggak pulang ke rumah ini lho.”


“Ini ada sedikit uang belanja untuk Ibu, sabtu depan kami datang lagi dan nginap di sini.”


“Baiklah.”


“Ayah, aku dan Bang Adit mohon pamit,” ujar Nisa pada Ayahnya.


“Lho, kok kalian pulang? kenapa nggak nginap?”


“Hari sabtu kami akan datang lagi dan kami nginap di sini, Yah.”


“Ooo, gitu.”


“Assalamu’alaikum, Yah, Bu.”


“Wa’alaikum salam,” jawab Maryati dan Tomi serentak.


Mesti tak memberi uang banyak pada mereka berdua, bagi Maryati dan Tomi, kehadiran mereka semua melebihi uang yang mereka berikan. Tapi sayang anak-anak Maryati justru semakin menjauh dari kedua orang tuanya, di saat mereka merasa jaya dan bisa berdiri di atas kaki sendiri.


Mereka lupa betapa menderitanya Maryati dan Tomi membesarkan dan merawat mereka semua, hingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sukses dan berilmu pengetahuan.


“Rasanya, baru kemaren kita menggendong mereka semua, tapi hari ini mereka telah lepas dan bisa berdikari sendiri,” ucap Maryati pelan.


“Mesti mereka semua telah lepas dan bisa berdikari sendiri, tapi mereka semua telah jauh meninggalkan kita Yati, bahkan mereka tak pernah menoleh kebelakang mesti sekali.”


“Apakah kita telah salah mendidik mereka Bang?”


“Kita nggak salah mendidik mereka Yati, kita telah berikan segalanya, kita telah ajarkan ilmu agama pada mereka, kita sekolahkan mereka agar bisa berilmu dan nggak menjadi orang bodoh. Tapi justru dengan kepintaran yang mereka miliki itu, yang telah menjerumuskan diri mereka sendiri.”


“Iya, mereka melupakan kita, orang yang telah bersusah payah merawat dan membesarkannya. Bahkan mereka dengan tega menghardik dan membentak ku,” ucap Maryati dengan linangan air mata.


“Jika saja mereka semua tahu, kalau kau Ibu yang kuat dan tangguh, serta berjasa banyak dalam hidup mereka, apakah mereka mau berbuat baik pada mu?”


“Entahlah Bang, aku nggak tahu. Saat ini aku udah pasrah dengan apa yang terjadi dalam hidup ku, aku nggak akan menuntut banyak pada mereka semua, biarlah takdir yang akan menjagaku kemana aku pergi.”

__ADS_1


Semenjak hari itu Tomi jatuh sakit, sakit yang membuatnya tak dapat berbuat apa-apa, Nisa dan Adit sering datang menjenguk mereka berdua, Tomi juga telah mereka bawa ke rumah sakit untuk di rawat.


Lalu Maryati mengumpulkan semua anak-anaknya untuk mengabarkan penyakit yang telah di derita oleh Ayah mereka.


“Emangnya Ayah sakit apa Bu?” tanya Tia ingin tahu.


“Ayahmu mengidap penyakit kencing batu, kata dokter, dia harus segera di operasi, kalian sebagai anak-anaknya tentu punya kewajiban dalam merawat dan mengobati Ayah kalian. Apa lagi kalian semua telah mampu dan hidup berkecukupan.”


“Siapa bilang hidup kami mampu,” jawab Tia memecah kebuntuan suasana.


Maryati hanya diam saja saat Mutia berbicara, tapi matanya yang tajam telah memperlihatkan amarah pada putri sulungnya itu. tampak Tia tertunduk diam saat itu.


“Emangnya berapa biaya operasi Ayah itu Bu?” tanya Adit ingin tahu.


“Ibu nggak tahu, kita harus menanyakan hal itu terlebih dahulu pada orang yang pernah menjalani operasi tersebut.”


“Pasti biayanya sangat mahal, kalau biaya operasinya mahal tentu kami nggak bisa membantu operasi Ayah,” jawab Tedi.


“Ibu kira biaya operasi itu murah ya, biaya operasi itu mahal Bu, kita mesti punya uang banyak baru bisa melakukan operasi,” timpal Ana dengan suara lantang.


“Ana, ini bukan urusanmu! sebaiknya kau duduk saja yang manis dan jaga anakmu agar diam.”


“Ibu kenapa sih! sepertinya Ibu paling nggak suka kalau lihat Ana.”


“Lihat saja cara Ibu bicara dengan Ana, kasar sekali!”


“Jadi menurutmu Ibu ini kasar! lalu bagai mana dengan mu, yang dengan lantang menghardik dan memarahi Ibu di depan istrimu?-”


“Aah, itu kan udah menjadi masa lalu Bu, kenapa sih diungkit-ungkit lagi.”


“Ibu nggak mengungkitnya, bukankah tadi kau sendiri yang bilang kalau Ibu ini kasar.”


“Haah, udahlah! sekarang Ibu urus aja sendiri!” bentak Tedi seraya menampar meja di hadapan semua yang ada.”


“Heh, Tedi! kau ini kenapa kasar sekali pada Ibu,” ujar Tia pada Tedi adiknya.


“Kakak bilang aku kasar, lalu bagai mana dengan Kakak, apakah Kakak nggak pernah mengasari Ibu.”


“Udah, udah! kalian ini kenapa sih.”


Karena Maryati mulai marah, lalu mereka semua kembali duduk kecuali Tedi dan Ana. Keduanya telah pergi meninggalkan Ibunya beserta yang lain.


“Lalu bagai mana, dengan biaya operasi Ayah kalian itu?” tanya Maryati pada anak-anaknya.

__ADS_1


“Saat ini, aku lagi di belit hutang Bu, jadi aku nggak bisa membantu operasi Ayah,” ujar Tia.


“Aku juga nggak bisa ikut membantu operasi Ayah Bu, karena saat ini keuangan kami sedang menipis,” lanjut Leni kemudian.


“Kalau kalian nggak mau membantu operasi Ayah, lalu siapa yang akan membantunya? apa menurutmu Ibu yang kalian harapkan?”


“Tapi aku ini memang nggak punya uang Bu, setiap bulan, gaji kami habis di potong untuk bayar hutang.”


“Ibu nggak mau tahu apa alasan kalian, sekarang keputusan ini Ibu serahkan pada kalian semua.”


“Ibu ini gimana sih, kok Ibu nggak pernah percaya sama kami, kalau saat ini kami itu nggak punya uang,” ujar Leni dengan dahi berkerut.


“Terserah apa alasan kalian, Ibu nggak mau tahu.”


Lalu Maryati pun pergi meninggalkan anak-anaknya, Maryati merasa sakit hati dengan sikap anak-anaknya yang tak pernah perduli pada orang tua, mesti saat itu Ayahnya sendiri telah membutuhkan pertolongan mereka semua.


“Gimana nih? Ibu itu benar-benar keras kepala ya,” ujar Leni.


“Ibu itu nggak keras kepala Kak."


“Kalau nggak keras kepala lalu apa namanya?”


“Ibu itu menunjukan pada anak-anaknya, bagai mana agar anak-anaknya itu dapat berbuat baik dan bertanggung jawab pada kedua orang tuanya.”


“Alah! sok tahu kamu Nisa.”


“Kalau menurut Kakak ucapan ku salah, ya terserah, tapi aku hanya sekedar mengingatkan Kakak, kalau Ibu itu nggak keras kepala, tapi kalianlah yang keras hati.”


“Heh, Nisa! Kakak bicara seperti itu, kerena Kakak emang nggak punya uang saat ini.”


“Kalau kalian nggak punya uang, lalu siapa yang akan membantu operasi Ayah.”


“Kan ada kalian yang membantu, anak kesayangan Ibu dan Ayah.”


“Kalau pun aku punya uang, aku nggak bakalan sanggup membayar semua biaya operasi Ayah.”


“Itu makanya jangan sok kamu.”


“Aku bukannya sok Kak, tapi kalau kita semua mau membayar uang operasi Ayah secara patungan, tentu biaya operasinya akan terkumpul banyak, setelah itu berapa kurangnya, kita akan musyawarahkan lagi.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2