
Mendengar penjelasan Marni, Ria tak dapat mengelak lagi, bersama kedua anaknya Ria langsung keluar dari rumah Marni dan pergi ke terminal menunggu mobil berangkat menuju kota Padang.
Di atas mobil, Ria hanya diam saja, Ica dan Fadil yang melihat Mamanya diam, merekapun tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah mereka bertiga sampai, Ria bersama kedua anaknya langsung turun dari mobil dan bergegas menuju rumah Mamanya.
“Ma. Aku pulang!” ucap Ria seraya menangis sedih.
“Lah, kenapa kau pulang sendiri nak? mana Andi?”
“Dia sudah menceraikan ku, Ma.”
“Apa! Andi menceraikan mu?”
“Iya Ma.”
“Kok bisa bercerai? apakah kalian bertengkar?”
“Semua itu karena Ibunya yang bodoh itu Ma.”
“Apakah Ibunya ikut campur urusan rumah tangga kalian?”
“Iya Ma, Bang Andi sangat menyayangi Ibunya itu, apapun yang di katakan Ibunya, dia pasti menurutinya, aku bahkan tak di beri kesempatan untuk yang kedua kalinya, tiba-tiba saja dia menceraikan aku,” ucap Ria berbohong.
“Kurang ajar kau Andi, kau tega memperlakukan putri ku seperti itu.”
“Lalu bagai mana dengan pernikahan kami ini, Ma?”
“Tenang saja, nanti akan Mama urus semua ini dengan Paman mu, Mama nggak bisa terima perlakuan Andi ini, yang telah berbuat tak adil pada kamu dan anak-anaknya.”
Ria sangat senang sekali, karena Mamanya perduli dengan urusan rumah tangga mereka berdua, namun Ria merasa terbebani oleh ucapannya sendiri, karena saat itu di telah membohongi Mamanya.
“Kalau seandainya Mama kesana, apakah perempuan tua itu mau menerima aku kembali dan menyatukan pernikahan ku dengan Andi. Entahlah, aku nggak bisa terlalu berharap,” gumam Ria dalam kesendiriannya.
Secara bersamaan, Maryati yang telah di sakiti Ria, dia tampak duduk di depan rumahnya, lalu Andi datang menghampiri Ibunya.
“Kenapa Ibu melamun?”
“Nggak ada, Ibu merasa gerah aja di dalam.”
“Maafkan kesalahan Ria ya, Bu.”
“Iya, Ibu udah memaafkannya kok.”
“Aku nggak menyangka sama sekali, kalau dia begitu kasar dan jahat pada Ibu.”
“Ibu juga begitu, nak. Ibu kira selama ini Ria begitu peduli sama Ibu, karena setiap dia datang kerumah ini meminta sesuatu, Ibu selalu memberikannya. Tapi ternyata, dia menyimpan dendam pada Ibu.”
“Semoga saja dengan perceraian ini, dapat membuatnya sadar dan berpikir jauh ke depan Bu.”
“Ya semoga saja begitu,” jawab Maryati seraya menarik nafas panjang.
__ADS_1
Siang itu, setelah mereka berdua selesai berbicara, lalu Maryati pergi ke kebun. Disaat bersamaan Anisa bersama suaminya datang kerumah Maryati, karena pintu rumah di kunci, mereka berdua langsung pergi kerumah Kakaknya. Kebetulan saat itu Rijal dan Leni sedang berada di rumah.
“Assalamua’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” jawab Rijal seraya tersenyum. “Tumben, lagi mimpi apa kalian, kok hari ini mampir ke rumah ku?”
“Kenapa? nggak boleh kami mampir?”
“Nggak biasanya, pasti saat ini kalian punya urusan penting?”
“Abang benar sekali, kami datang memang punya urusan penting dengan Abang,” jawab Adit memperjelas maksudnya pada Rijal.
“Urusan apa itu?”
“Abang mungkin sudah lupa dengan kerja sama kita waktu itu.”
“Kerja sama yang mana?” tanya Rijal tak mengerti.
“Apakah Abang benar-benar lupa atau pura-pura lupa?”
“Aku serius, kerja sama kita yang mana sih, Adit?”
Saat mendengar pengakuan Rijal yang lupa dengan kerja sama yang mereka lakukan berdua, pandangan mata Nisa dan Adit langsung beradu.
“Rasanya nggak mungkin dia bisa lupa, bukankah kejadian itu baru beberapa bulang yang lalu?” tanya Nisa pada Adit.
“Entahlah sayang, aku juga nggak tahu.”
“Tapi Bang, rasanya baru kemaren kalian berdua bekerja sama membuka lahan kosong untuk membuat kebun cabe, masa sih Abang langsung lupa.”
“Gimana, udah ingat?” tanya Anisa memperjelas maksudnya.
“Ya aku udah ingat saat ini, tapi kebun cabe yang kita kelola hari itu mengalami kebangkrutan, aku merugi besar waktu itu, semua cabe yang di panen mengalami penyakit aneh.”
“Penyakit aneh gimana maksud Abang?”
“Semua cabe yang siap di panen mengalami kebusukan permanen sehingga cabe itu nggak laku di jual.”
“Ah, nggak mungkin, masa hanya dalam satu minggu, cabe yang sehat dan siap di panen langsung busuk, itu nggak masuk akal namanya.”
Tak percaya dengan ucapan Rijal, Nisa langsung masuk kedalam rumah untuk menemui Leni. Saat itu Leni sedang melipat kain cuciannya.
“Nisa? kapan kau datang?”
“Barusan.”
“Tumben ke sini, biasanya kan langsung ke rumah Ibu?”
“Aku dan Bang Adit sengaja datang ke sini untuk meminta uang hasil panen cabe hari itu.”
“Hasil panen cabe kita hari itu mengalami kerugian, kita hanya mendapat untung sedikit, keuntungannya di pergunakan Abang untuk memperbaiki rumah kami yang rusak.”
__ADS_1
“Jadi uang bagian ku mana?”
“Uang itu kami pakai untuk sementara waktu. Tapi semua hutang Adit sudah kami bayar dan kami lunasi.”
“Hutang yang mana? rasanya kami nggak pernah punya hutang, kalau pun ada itu hanya delapan ribu rupiah.”
“Iya, hutang delapan ribu itu telah kami lunasi.”
“Jadi nggak ada lagi sisanya sama sekali?”
“Nggak semuanya sudah habis.”
“Kalian ini gimana sih, berbulan-bulan suami ku bekerja, kalian nggak memberi sedikit keuntungannya pada kami?”
"Habis gimana lagi, uang nya sudah nggak ada."
“Aku yakin, baju yang Kakak pakai, mobil remote yang di mainkan oleh Reno serta semua jendela kaca yang baru kalian pasang, itu semua adalah keuntungan dari hasil panen cabe yang di kerjakan oleh Bang Adit.”
Leni hanya diam saja, saat Nisa berkata seperti itu, karena apa yang di katakan Nisa saat itu memang benar, Rijal dan Leni telah memanfaatkan semua keuntungan mereka berdua menjadi hak miliknya pribadi.
“Kalian benar-benar keterlaluan, kalian makan air tetas keringat suami ku sendirian,” ujar Nisa kesal.
“Udahlah Nisa, biarkan mereka menelannya sendiri, serahkan saja semuanya pada Allah. Ayo kita pulang, nggak ada gunanya berdebat hal yang nggak ada di depan mata.”
Dengan rasa kesal Adit dan Nisa keluar dari rumah Rijal, untung saja Maryati sudah kembali dari kebunnya, sehingga Anisa bisa meluapkan kekesalannya di rumah Ibunya sendiri.
“Ada apa nak, kok kelihatan marah gitu?”
“Aku benar-benar kesal, Bu.”
“Kesal sama siapa?”
“Kesal sama Bang Rijal dan Kak Leni.”
“Jadi begini Bu, hasil panen yang telah mereka dapat dari kerja sama kami waktu itu, habis ludes mereka makan sendiri,” ucap Adit yang saat itu ikut-ikutan kesal.
“Hari itu, Ibu juga sudah mengingatkan Leni masalah keuntungan yang telah mereka dapat dari hasil kerja sama kalian, tapi sepertinya Leni mengabaikan ucapan Ibu.”
“Beginilah jadinya Bu, sebenarnya aku nggak terima dengan semua ini, mereka berdua jelas-jelas sudah menipu kami.”
“Ibu yakin, saat ini mereka nggak punya uang untuk mengganti semua uang kalian.”
“Ibu benar, mereka memang nggak punya uang untuk mengganti uang kami yang telah mereka pakai.”
“Udahlah, biarkan saja mereka memakannya, toh nggak ada berkahnya juga kan?”
“Tapi hati kita kan menjadi sakit Bang.”
“Mesti gimana lagi sayang, kalau pun kita berdebat sama mereka, mereka juga nggak punya uang untuk mengganti uang kita itu kan?”
Anisa termenung duduk di atas kursi, dia begitu kecewa sekali pada Leni dan Rijal yang telah mengambil haknya. Hati Nisa begitu sakit, karena dengan uangnya, Leni dapat membeli pakaian baru, mainan anaknya serta memperbaiki rumahnya yang rusak.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*