Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 51 Tuduhan Mayar yang jahat


__ADS_3

Lama kelamaan Mayar melihat perut Maryati semakin membesar, dia pun mencoba bertanya, apakah Maryati hamil atau tidak, dengan jujur Maryati membenarkan apa yang di tanya Mayar kepadanya.


Mayar begitu marah ketika dia tahu kalau Maryati sedang hamil. Mayar kesal dan melempar kepala Maryati dengan gelas, sehingga gelas itu pun pecah dan kepala Maryati terluka karena sobekan kaca gelas itu.


“Memang nggak tahu diri kau ya Yati, udah bersyukur kau kami tampung di rumah ini, sekarang kau cari masalah dengan keluarga ku, katakan anak siapa yang ada dalam kandungan mu itu!” bentak Mayar dengan kasar.


Maryati diam saja, dia tak mau bicara sedikit pun, mesti semua orang di rumah itu telah menyiksanya. Karena Maryati tak mau menjawab pertanyaan yang di ajukan Mayar, perempuan itu pun menjadi kesal dan menarik rambut Maryati, serta membenturkan kepalanya ke meja.


Bima yang saat itu sedang berada di luar. Langsung bergegas menghampiri Ibunya dan menampar Mayar dengan kuat sekali.


Tamparan Bima yang bersarang di pipi Mayar membuat mata perempuan itu sedikit kabur, dengan sempoyongan, Mayar pun pergi menjauhi mereka tanpa bicara sepatah katapun.


Di pelukan Bima, Maryati hanya bisa menangis sedih, air matanya tak pernah berhenti mengalir.


“Kenapa Bibi menyakiti Ibu lagi?” tanya Bima ingin tahu.


“Ibu malu untuk mengatakannya nak.”


“Ya sudah, kalau Ibu malu, maka Ibu simpan saja sendiri, Ibu harus sabar ya, kita harus tetap kuat demi Tia dan Leni.”


“Iya nak.”


Sebenarnya ingin sekali Maryati mengatakan pada Bima, kalau saat itu dia sedang hamil, tapi Maryati merasa malu untuk mengatakannya.


Malam itu di saat semua orang sedang tertidur pulas, Maryati melihat Tomi masuk kedalam rumah dalam keadaan mabuk, hati Maryati semakin terasa sakit sekali.


Siangnya, Maryati mencoba bicara dengan Bima secara baik-baik, agar dia mau membujuk Ayahnya agar berhenti berjudi dan mabuk-mabukan.


Apa yang di katakan Maryati langsung di sampaikan Bima pada Ayahnya, saat Tomi sedang duduk sendirian di depan rumah.


“Ayah aku mau bicara,” ujar Bima pelan.


“Bicaralah, apa yang ingin kau sampaikan pada Ayah.”


“Tidak kah kasihan Ayah melihat Leni dan Tia menderita?”


“Apa maksud mu?”


“Jika Ayah mengizinkan, aku ingin bekerja, mencari uang untuk ongkos kami ke Jakarta.”


“Kalian mau kembali ke Jakarta?”


“Iya Ayah.”


“Kenapa ingin kembali ke Jakarta nak.”


“Ayah lihat sendiri kondisi Ibu saat ini, semakin hari tubuhnya semakin kurus dan dekil. Ayah perhatikan aku, Tia dan Leni. Kami sangat menderita sekali, agar Ayah ketahui, Bu Lini lah yang sering memberi ku makan selama ini.”

__ADS_1


“Apakah kau nggak bohong, Bima?”--


“Apakah Ayah melihat ada tampang seorang pembohong di wajah ku? yang pembohong itu Ayah, yang jahat dan kejam itu juga Ayah, Ayah seorang pria yang tak bertanggung jawab. Membiarkan istri dan anaknya kelaparan di rumah orang tuanya sendiri.”


Ucapan Bima bagai sebilah pisau yang menusuk jantung Tomi, mesti yang bicara itu adalah putranya, namun Tomi berkata benar. Setelah Bima pergi, lalu Tomi mengumpulkan semua pakaiannya dan diapun pergi tanpa bicara sepatah kata pun pada Maryati dan keluarganya.


Berhari-hari Tomi tak pulang kerumah, hal itu membuat Maryati bagaikan seorang pengembara yang tersesat di rumah Ibunya sendiri. Setelah kepergian Tomi, Mayar dan adik-adiknya lebih leluasa lagi menyiksa Maryati.


Dalam kondisi yang sudah tak berdaya, mereka terus saja memaksa Maryati untuk bekerja. Kini tubuh Maryati semakin kurus, hanya tinggal kulit pembalut tulang, begitu juga dengan Leni, dia bahkan tak bisa lagi menggerakkan tangannya yang lemah.


Pagi itu ketika Maryati di paksa pergi mencuci pakaian Mayar dan adik-adiknya ke sungai, yang ada di belakang rumah. Sekilas Maryati melihat seorang Ibu sedang mencuci kain seprai yang sangat bagus.


Sontak hal itu membuat Maryati terkejut, karena hanya dia yang punya kain seprai yang bercorak halus dan bermotifkan indah itu dan kain seprai itupun tak pernah dia keluarkan dari dalam koper miliknya.


“Maaf, kain seprai Ibu sangat bagus sekali.”


“Ini kain seprai asli buatan Jawa.”


Jawaban si Ibu membuat jantung Maryati terasa berhenti berdetak, Maryati begitu yakin, kalau kain seprai itu adalah miliknya.


“Kain seprai asli Jawa?”


“Iya.”


“Ibu dapatkan kain seprai ini dari siapa?”


“Apa! Ibu beli kain seprai ini dari Mayar?”


“Iya, kenapa?”


“Itu kain seprai milik ku yang telah di curinya.”


“Ya ampun! jadi kain seprai ini hasil curian!”


“Kain seprai itu ku bawa dari Jawa beberapa waktu yang lalu.”


“Tapi bukan hanya satu ini, yang Ibu beli, bahkan para tetangga lainnya pun juga ikut membelinya dari Mayar.”


Mendengar penjelasan dari Ibu itu, Maryati langsung berlari pulang kerumah, setiba dirumah dia membuka kunci koper miliknya, ternyata benar saja dugaannya, kalau semua kain seprai dan kain panjang miliknya telah habis di jual Mayar bersama adik-adiknya.


Maryati pun menangis histeris, tak di sangka, selain kejam mereka juga menghabisi semua barang milik Maryati yang masih tersisa.


“Ada apa Bu? kenapa menangis?”


“Mereka telah menjual semua kain kita nak.”


“Siapa maksud Ibu?”

__ADS_1


“Mayar dan adiknya, mereka semua telah menjual barang milik Ibu ke orang lain, uhuk, uhuk, uhuk…!”


“Ibu yang sabar ya, semoga saja Allah akan menghukum mereka semua.”


Tapi hanya kain itu yang masih tersisa nak, semuanya habis dicuri orang."


"Ikhlaskan saja Bu, semoga kita mendapatkan ganti yang lebih baik dari pada ini."


Mesti terasa begitu sakit, Maryati mencoba untuk mengikhlaskan semua yang telah mereka ambil.


Beberapa bulan setelah kejadian itu, Maryati merasakan sakit perut yang sangat luar biasa, Bima yang tahu kalau Ibunya sedang hamil, dia yakin sekali, kalau Ibunya pasti hendak melahirkan.


Dengan cepat, Bima langsung berlari membangunkan Ibu Lini yang ada di depan rumah Leli, dengan kuat pintu rumah itu di gedor oleh Bima.


Lini yang merasa seseorang sedang menggedor pintu rumahnya, diapun bergegas untuk bangun dan membukakan pintu.


“Siapa?” tanya Lini seraya memastikan siapa yang datang.


“Aku Bu, Bima.”


“Bima? ada apa malam-malam begini menggedor pintu rumah Ibu?”


“Tolonglah Bu, mungkin saat ini Ibu ku hendak melahirkan.”


“Ibu mu hendak melahirkan?”


“Iya Bu, ku mohon tolong bantu Ibu ku.”


“Tapi dirumah itu, kan ada Nenek dan Bibi mu, kalau nanti Ibu yang kesana, Nenek mu bisa marah pada mu.


“Tolonglah, Bu. Aku mohon.”


“Baiklah, mari kita lihat keadaan Ibu mu.”


Dengan tergesa-gesa, Bima menarik tangan Lini untuk memasuki rumah Leli yang begitu luas.


“Yang mana kamar Ibu mu, Bima?” tanya Lini ingin tahu.


“Itu Bu, disana!” tunjuk Bima kearah Ibunya yang merintih kesakitan.


“Astagfirullah, jadi kalian berempat hanya tidur di atas tikar sobek ini?”


“Iya Bu.”


Betapa tersentuh hati Lini, ketika dia melihat Maryati dan kedua putrinya tidur di atas tikar yang sudah robek dan kotor.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2