
Di saat kebahagiaan sedang menyelimuti keluarga Maryati, beberapa bulan kemudian, Andi datang bersama seorang gadis kerumah Ibu nya.
“Siapa dia Andi?” tanya Maryati ingin tahu.
“Kami ingin menikah Bu.”
“Kau serius, ingin menikah?”
“Iya Bu, aku serius,” jawab Andi.
"Tapi saat ini, kita nggak punya uang nak, lagian kan masih ada Nisa yang belum berumah tangga."
"Kalau aku harus menunggu Kakak menikah, kelamaan dong, Ibu."
"Apa kau nggak kasihan pada kakakmu?"
" Tapi Bu, keluarga Ria sudah mendesak ku, mereka menginginkan pernikahan ini secepatnya dilaksanakan."
Maryati tak bisa berbuat apa-apa, selain memberi Restu untuk pernikahan putra bungsunya itu. Sesuai dengan keinginan Andi, pernikahannya pun di restui oleh Maryati dan Tomi, hanya saja dalam adat Maryati, jika seorang adik menikah duluan dari Kakaknya, maka adiknya harus membayar uang atau membelikan pakaian untuk Kakaknya.
Mesti Andi mengetahuinya, namun dia tetap saja tak mau membelikan Nisa seperangkat pakaian sebagai syarat, karena telah melangkahi Kakaknya.
Anisa sedikit sedih, karena Andi telah mengabaikan adat yang telah lama mereka junjung tinggi. Mesti demikian Nisa tak mau egois, dia bahkan merelakan Andi melangkahinya tanpa memberi apa pun padanya.
Mereka pun menikah dengan selamat dan lancar, walau pernikahan itu tidak di laksanakan dirumah Maryati, namun dia tetap mendukung dan mengikhlaskan pernikahan anaknya.
Setelah menikah, Andi tinggal di kota Padang, istrinya yang berprofesi sebagai biduan, setiap malam selalu pergi untuk mengisi acara. Andi dengan setia selalu menemani Ria dalam setiap penampilannya.
Satu tahun pernikahan mereka Andi di karuniai seorang bayi perempuan yang cantik. Mesti mereka berdua sama-sama bekerja dan punya kesibukan masing-masing, namun Andi memiliki kesulitan tersendiri dalam keuangan keluarganya.
“Gimana ini Bang, pagi ini kita sudah tak punya beras untuk dimasak.”
“Cobalah dulu kau pinjam beras di rumah tetangga kita.”
“Aku malu Bang, karena hutang yang kemaren belum aku bayar.”
“Kenapa nggak di bayar Ria, bukankah Abang sudah memberi mu uang.”
“Tapi uangnya itu sudah habis Bang.”
“Sudah habis? untuk membayar apa uang itu?”
“Ya, membayar hutang lah Bang!”
“Membayar hutang? hutang siapa? apakah selama ini kau suka menumpuk hutang?”
“Hutang makan kita semua Bang.”
__ADS_1
“Jadi Ibu dan adik mu juga makan bersama kita?”
“Iya Bang.”
“Kenapa kau nggak bilang selama ini Ria, kalau Ibu dan adik mu juga makan bersama kita?”
“Aku takut kalau Abang marah pada ku nantinya.”
“Untuk apa aku mesti marah, aku nggak pernah marah pada mu, karena aku sangat senang bisa membantu keluarga mu, membantu adik-adik mu yang yatim itu. Tapi jika kau memberitahukan hal ini sedari dulu, tentu aku bisa mencari uang tambah untuk mereka.”
“Benar Abang nggak marah sama sekali?”
“Iya sayang, Abang nggak marah, justru Abang senang bisa membantu keluargamu.”
“Terimakasih Bang.”
Mesti Andi sangat baik pada keluarga Ria, namun keluarga Ria tak sadar dengan kebaikan Andi pada mereka. Mereka semua merasa bebas dengan yang mereka nikmati, sementara Ria, dia sendiri tahu kalau suaminya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka semua.
Bukan hanya Ibunya saja yang makan bersama Andi, tapi keempat orang adiknya pun ikut menikmati penghasilan Andi.
Setelah sekian tahu menikah, Andi bahkan tak punya uang simpanan sedikit pun, semua uangnya habis untuk biaya hidup keluarga Ria.
Malam itu, Andi bicara pada Ria. Andi ingin mencari rumah kontrakan yang letaknya lebih dekat dari tempat kerja.
“Emangnya kita ngontrak di mana Bang?” tanya Ria ingin tahu.
“Kita cari di sekitar tempat kerja, Abang.”
“Mereka tentunya nggak perlu ikut dengan kita kan, tapi kau bisa membantu mereka sekali-kali. Lagian, di rumah mu masih ada Joni dan Leon yang bisa menafkahi Ibu dan adik-adik mu.”
“Baiklah, nanti akan ku bicarakan masalah ini dengan Ibuku.”
“Iya, silahkan.”
Ria yang telah mendapat perintah dari Andi untuk pindah rumah, dia pun langsung menemui Ibunya dan minta izin.
“Kalian mau pindah rumah?”
“Iya Ma,” jawab Ria singkat.
“Pindah kemana Ria?”
“Mencari rumah kontrakan yang lebih dekat dengan tempat kerja Abang.”
“Kenapa mesti pindah nak?”
“Itu semua keinginan Bang Andi Bu.”
__ADS_1
“Apakah dia marah, karena Ibu numpang makan bersama kalian?”
“Nggak kok Bu."
“Lalu kenapa mesti pindah rumah, di sini saja kan aman, kalian nggak perlu membayar uang kontrakan lagi.”
“Emang iya sih, tapi ini semua permintaan Bang Andi, Bu.”
“Jangan-jangan, ini semua alasan suami mu saja, karena dia tak ingin membantu keluarga kita ini.”
“Ibu jangan berpikiran seperti itu, Bang Andi itu sangat baik Bu, lagian mesti pun kami pindah rumah, kan aku bisa datang ke rumah ini sesering mungkin.”
“Ah itu hanya alasan kalian saja. Agar kau ketahui Ria, Ibu nggak setuju kalau kalian pindah rumah.”
Ria hanya diam saja, ketika Ibunya marah, namun keputusan Andi telah bulat, untuk segera pindah rumah. Sehingga mau tak mau Cika terpaksa harus memberinya izin.
Di rumah kontrakan barunya, Ria dan Andi hidup tenang apa adanya, di rumah barunya pula, Andi bisa menabung uang gajinya sedikit demi sedikit setiap hari.
Saat kebahagian mulai menjelma dalam keluarga Andi, hidup bahagia bersama istri dan putrinya yang cantik, dia pun mendapat masalah baru. Bima yang selama ini membantu Andi dalam bekerja, dia mulai melakukan kecurangan.
Kecurangan yang dia lakukan tidak sedikit, hal itu membuat toko tempat mereka bekerja mengalami kerugian, karena suku cadang yang di jual Bima pada pelanggan mereka adalah barang palsu. Semua pelanggan menjadi komplain dan menuntut toko Ahong untuk segera di tutup.
Ahong sangat marah dan malu, mesti dia telah mengganti semua barang palsu itu dengan yang asli, tapi pelanggan merasa kecewa.
“Sekarang kalian harus jujur, siapa yang telah punya ulah seperti ini?” tanya Ahong ingin tahu.
Tak seorang pun yang mau angkat bicara, semuanya diam membisu. Andi yang tak tahu masalah yang sebenarnya, dia semakin bingung saat itu.
Setelah rapat di akhiri, Ahong tak juga tahu, siapa pelaku yang sebenarnya, karena tak seorangpun yang saat itu berani buka mulut. Tapi Ahong tak kehabisan akal, dia terus menyelidikinya secara diam-diam.
Andi yang saat itu bekerja di bagian gudang, Bima pun mencoba menawarkan kerja sama dengan Andi, untuk mengganti sparepart asli dengan palsu.
“Kalau kau mau, kau bisa terima tawaran Abang dek.”
“Aku nggak mau Bang, biarlah hidup apa adanya, dari pada kaya tapi makan uang haram.”
“Jangan sombong kau Andi, kau kira Abang nggak tahu kehidupan mu selama ini?”
“Kalau Abang tahu, kehidupan ku sangat sulit, mestinya Abang nggak menjerumuskan aku ke dalam jurang yang bisa merusak masa depan ku.”
“Siapa yang telah menjerumuskan mu dek, Abang justru ingin membantu perekonomian keluarga kalian.”
“Aku nggak mau Bang, biarlah hidup susah, tapi aku sangat bahagia.”
“Siapa bilang hidup susah bikin kita bahagia, itu munafik namanya.”
Andi diam saja, karena Andi tahu, perbutan yang di lakukan oleh Abangnya tersebut, sangat berbahaya sekali dan dapat merusak kepercayaan Ahong padanya.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*