Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 6 Kehamilan Kenanga


__ADS_3

Kepergian Ningrat membuat seluruh penduduk Desa merasa kehilangan, karena selama ini Ningrat begitu baik pada mereka semua.


Setelah jasad Ningrat di sholat kan lalu mereka bersama-sama mengantarkannya ke pemakaman. Setelah selesai di makamkan selama tujuh hari tujuh malam mereka mengadakan pengajian dan memberi makan anak yatim serta menyantuni fakir miskin.


Satu minggu setelah kepergian Ningrat, Arya pun mengadakan acara do’a bersama, dalam acara ini Arya sengaja mengundang anak yatim piatu, fakir miskin dan anak-anak terlantar, setiap mereka mendapatkan dua porsi nasi bungkus serta satu pundi uang.


Siapa saja yang datang, pasti mendapatkan bagian mereka, lima puluh orang tukang masak telah di persiapkan untuk menyediakan nasi bungkus.


Benar saja, mulai dari matahari terbit sampai terbenam, tak henti-hentinya orang yang datang mengharapkan bagian mereka masing-masing. Selama tiga hari tiga malam Arya melayani mereka semua dengan senang hati.


Tidak tanggung-tanggung, dalam pembagian sedekah itu, Arya hampir mengeluarkan separoh hartanya. Mesti demikian Arya ikhlas mengeluarkannya, sebagai sedekah untuk Ayah dan Ibunya.


Begitu banyak harta yang di keluarkan untuk bersedekah, namun Arya tetap tampak tenang, harta yang begitu banyak habis ternyata mendapat balasan dari sang pencipta, nama Arya yang belum terkenal di kalangan masyarakat langsung melambung.


Semua orang memperbincangkan dirinya, yang suka berderma dan membantu sesama. Arya paling tak tega, jika ada orang yang datang meminta-minta di depan rumahnya.


Walau demikian Arya tetaplah Arya yang punya sifat lembut dan suka berderma, begitu juga dengan istrinya mereka berdua sama-sama berhati mulia.


Tak terasa waktu terus bergulir, kehidupan mereka berdua semakin hari semakin jaya, Arya bahkan sanggup menggaji begitu banyak karyawan, bukan karena dia orang kaya, tapi semua karyawan yang dia pekerjakan adalah orang-orang terlantar dan tidak mampu.


Mesti bergelimang harta, namun mereka berdua belum juga di karunia anak, Kenanga merasa gelisah sekali, dia takut kalau suatu ketika Arya mempertanyakan kehamilannya.


Siang itu, Kenanga bahkan tak mau keluar dari kamarnya, hal itu langsung di kabarkan para pekerjanya pada Arya.


“Benarkah?”


“Iya Den.”


“Sekarang Neng ada di mana Mang?”


“Masih di dalam kamarnya Den.”


“Ya Allah, apa yang terjadi dengan Kenanga, tadi pagi sebelum aku pergi kerja, dia terlihat baik-baik saja kok, kenapa tiba-tiba saja dia tak keluar kamar, ya?” tanya Arya pada dirinya sendiri.


“Jadi, gimana Den?”


“Baiklah, kalau begitu aku akan pulang Mang, Mamang tolong awasi mereka bekerja sebentar.”


“Baik Den,” jawab Mang Burhan seraya berdiri di tempat Arya mengawasi para pekerja.


Kebun teh milik Arya yang begitu luas, tak pernah menyulitkannya untuk mengawasi para pekerja, tanpa di awasi pun mereka tetap bekerja dengan kesadaran mereka masing-masing.

__ADS_1


Selain kebun teh yang begitu luas, Arya mempunya perkebunan kelapa dan cengkeh serta toko serba ada yang begitu banyak berdiri hampir di setiap pasar tradisional.


Setibanya Arya di rumah, dia pun langsung bergegas menemui Kenanga di dalam kamar.


“Ada apa sayang? apakah kau sakit?” tanya Arya dengan perasan kuatir sekali.


Mesti saat itu Kenanga mendengarkan apa yang di tanyakan Arya padanya, namun dia tetap saja diam membisu. Merasa tak tenang dengan sikap Kenanga, Arya mencoba untuk menghampirinya.


“Ada apa sayang? kenapa seperti ini?”


Lalu Kenanga memeluk tubuh Arya dengan erat sekali, hal itu membuat Arya merasa heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba saja berubah itu.


“Bicaralah, apa yang telah mengganjal hati mu? sehingga kau terlihat begitu sedih sekali.”


“Apakah Mas nggak pernah menginginkan seorang bayi hadir diantara kita?”


“Tentu sayang, tentu. Siapa yang tak menginginkan seorang anak, tapi kalau Allah belum berkenan apa salahnya kalau kita tetap bersabar dan berdoa.


Mendengar penjelasan dari suaminya, hati Kenanga sedikit lega, dia sadar kalau Arya tak akan menuntut banyak soal keturunan pada dirinya.


“Jadi Mas, akan bersabar, sampai Allah memberi keturunan pada kita?”


“Iya sayang, kamu nggak usah cemas aku nggak akan menuntut banyak pada mu, kau senang dan sehat saja, itu telah membuat aku bahagia.”


Semenjak hari itu, Kenanga tampak begitu ceria, dia sering membantu Arya mengawasi para pemetik teh di kebunnya.


Dua bulan setelah itu, Kenanga pun di landa sakit, dia tak mau makan dan tak ingin keluar rumah. Seluruh pintu dan jendela di tutup rapat sekali, sehingga tak ada cahaya mentari yang masuk kedalam kamarnya.


Setelah satu minggu tak keluar rumah, Arya merasa kuatir sekali, lalu dia memanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaan Kenanga. Sesuai dengan penyakit yang di derita Kenanga, dokter itupun tampak tersenyum manis.


“Aku sakit apa dok?” tanya Kenanga ingin tahu.


“Ibu nggak sakit apa-apa kok.”


“Haah, masa aku nggak sakit apa-apa, dok.”


“Iya Bu, saat ini Ibu sedang hamil satu bulan. Selamat ya,” ujar dokter itu memberi ucapan selamat pada Kenanga.


“Benarkah itu dok?” tanya Kenanga tak percaya.


“Benar Bu. nggak mungkin aku berbohong bukan?”

__ADS_1


“Lalu, kenapa aku begitu takut terkena cahaya matahari dok?”


“Itu biasa di alami oleh Ibu-ibu yang sedang hamil Bu.”


“Benarkah?”


“Iya Bu, nanti sewaktu kandungan Ibu telah berusia genap tiga bulan, hal seperti itu akan berangsur-angsur menghilang.”


“Ooo, begitu ya."


“Iya Bu.”


Setelah selesai memeriksa Kenanga, dokter itu pun langsung keluar dari dalam kamar, di luar Arya telah menunggu dengan gelisah sekali, takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan pada istri tercintanya.


“Gimana keadaan istri saya dok?” tanya Arya tak sabaran.


“Alhamdulillah, istri Bapak sehat-sehat saja kok.”


“Benarkah? lalu kenapa dia seperti orang sakit?”


“Istri Bapak saat ini sedang mengandung.”


“Apa! istri saya sedang mengandung dok?”


“Benar Pak, saat ini usia kandungannya baru berjalan satu bulan, tolong Bapak jaga kesehatannya, beri banyak sayur agar bayi di dalam kandungannya tetap sehat terjaga.”


“Baik dok, baik,” jawab Arya senang.


Karena begitu senangnya Arya langsung berlari masuk kedalam kamar, dia memeluk tubuh istrinya dengan lembut.


“Akhirnya, buah penantian kita berhasil sayang, saat ini ternyata kau sedang mengandung.”


“Iya, Kang Mas.”


“Karena ini bayi pertama kita, aku menyarankan kau nggak usah pergi ke kebun lagi untuk mengawasi para pekerja. Kau jaga bayi yang sudah lama kita nantikan ini dengan baik sayang.”


“Baik Kang Mas,” jawab Kenanga dengan suara pelan.


Seperti yang di sarankan suaminya, Kenanga pun tak pergi kemana-mana, dia selalu berada di rumah setiap hari merawat dengan hati-hati kandungannya yang semakin membesar.


Setelah usia kandungan Kenanga masuk bulan ke tujuh, Arya pun mengadakan acara tujuh bulanan, mereka mengadakan do’a bersama serta membagikan sedekah untuk para gelandangan dan orang miskin serta anak-anak yatim piatu.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2