Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 33 Kesabaran tak terbatas


__ADS_3

“Yang sabar sayang, kita pasti punya jalan untuk itu.”


“Kau selalu saja bicara seperti itu Bang, seakan kau nggak punya beban sama sekali, aku lelah Bang.”


“Jadi aku mesti gimana lagi sayang?”


“Kau bekerjalah yang bagus, kumpulkan uang, agar aku bisa melahirkan dengan tenang di rumah sakit nantinya.”


“Baiklah, tapi aku mesti bekerja di mana?”


“Lho, emangnya tempat Abang bekerja semalam itu gimana?”


“Mereka telah memecat ku.”


“Aku di pecat?”


“Iya sayang.”


“Kenapa bisa di pecat?”


“Aku nggak tahu, tiba-tiba saja pemilik tempat itu memecat ku.”


“Baiklah, kalau begitu Abang cari pekerjaan yang lain saja, yang penting halal dan dapat di makan oleh anak-anak kita.”


“Baik sayang.”


Mesti Maryati tak pernah bersikap kasar pada suaminya, namun Tomi selalu saja memanfaatkan kebodohan istrinya itu, untuk hal-hal yang tak pernah di duganya.


Pagi itu ketika Maryati bangun, dia tak mendapatkan Tomi berada di dalam kamarnya, Maryati mencari hingga kemana-mana.


“Apakah Ayah mu nggak pulang semalaman nak?” tanya Maryati pada Bima.


“Aku nggak tahu Bu.”


“Ayah mu ini benar-benar keterlaluan nak, dia suka sekali menipu Ibu, di kira Ayah mu, Ibu nggak tahu kalau ditipunya,” gerutu Maryati kesal.


“Ibu carilah dulu di sekitar sini, siapa tahu Ayah, bertemu.”


“Baik sayang.”


Sesuai perintah Bima putranya, Maryati mencari keberadaan Tomi di sekitar komplek stasiun. Maryati mencari Tomi hingga berjalan cukup melelahkan.


“Kang, apakah Kakang melihat Bang Tomi?” tanya maryati pada sahabat Tomi yang sering mengajaknya bermain kartu.


“Tomi?”


“Iya, Kang.”

__ADS_1


“Apakah kamu nggak tahu di mana keberadaan suami mu itu?”


“Semalaman dia nggak pulang, Kang.”


“Baiklah, jika akang ketemu, nanti akan Akang suruh dia pulang.”


“Baik Kang, kalau begitu aku permisi dulu.”


“Iya.”


Semenjak hari itu, Tomi tak lagi pernah pulang kerumah, sudah satu minggu berlalu, bahkan sudah hampir satu bulan, Tomi belum juga kembali.


Tak tahan dengan perlakuan Tomi kepadanya, dalam keadaan hamil berat, Maryati pun mencoba mencari keberadaan suaminya itu, hingga berkeliling komplek.


Lelah mencari keberadaan Tomi, Maryati pun duduk di pinggir rumah seorang warga, yang kebetulan saat itu dia baru pulang dari pasar.


“Eh ada Yati! kenapa duduk di luar, ayo masuk kedalam!” ajak perempuan pemilik rumah itu, yang melihat Maryati tersandar lemah di pinggir rumahnya.


“Nggak usah Mbak, biar aku disini saja,” jawab Maryati dengan suara lembut.


“Emangnya kau mau kemana Yati?”


“Aku lagi nyariin Bang Tomi, Mbak.”


“Tomi?”


“Iya, sudah hampir satu bulan dia nggak pernah pulang kerumah.”


“Bermain judi?”


“Iya, apakah kau nggak tahu, kalau suami mu itu selalu berada di atas loteng rumah ku.”


“Apa? jadi Bang Tomi saat ini ada di atas loteng rumah Mbak?”


‘Iya, mereka semua hanya turun jika hendak buang air dan makan.”


Betapa sakit hati Maryati mendengar kabar itu, dengan sekuat tenaga, dia pun naik ke atas loteng rumah lantai dua tersebut. ternyata benar apa yang di katakan perempuan tua itu, Tomi bersama keenam orang temannya sedang asik bermain kartu remi.


Di hadapan semua orang Maryati pun menangis histeris, dia tak kuasa memendam perasaan kecewanya saat itu, Tomi yang dia jadikan suami, untuk melindungi dirinya ternyata hanya bisa menyakiti.


“Udah sayang, udah! malu di lihat semua orang," bujuk Tomi seraya menenangkan istrinya.


“Aku lebih malu lagi jika melihat mu berhari-hari duduk di sini bermain judi. Apakah kau nggak mikir, bagai mana nasib anak-anak kita nanti jika kau terus seperti ini, Bang.”


“Maafkan aku sayang, maafkan aku. baiklah, aku akan segera pulang kerumah.”


Mesti Tomi berjanji pulang kerumah, namun itu hanya untuk sementara saja, di hari-hari berikutnya lagi, dia pun kembali bersama para teman-temannya bermain judi.

__ADS_1


Siang itu mendadak perut Maryati sakit, para tetangga berusaha memberikan bantuan padanya dengan melarikan Maryati ke rumah sakit.


Bima yang saat itu masih berusia sepuluh tahun berusaha mencari keberadaan Ayahnya yang sedang asik bermain judi.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Bima menghampiri Ayahnya, di atas loteng rumah seorang warga.


“Bima!” ujar Tomi saat melihat Bima datang menghampirinya.


“Ayah, cepat kerumah sakit, Ibu mau melahirkan, saat ini dia udah di bawa warga ke rumah sakit.”


“Ibu mu mau melahirkan nak?”


“Iya Ayah.”


“Baiklah, kalau begitu mari kita kerumah sakit, untuk menanti kelahiran adik mu,” jawan Tomi seraya menggandeng tangan Bima.


Lima jam Maryati bertaruh nyawa antara hidup dan mati untuk dapat melahirkan si buah hatinya ke dunia. Usaha yang dia lakukan pun ternyata membuahkan hasil yang baik, saat itu Maryati melahirkan dua orang anak kembar, keduanya laki-laki.


Maryati tampak tersenyum manis ketika si buah hatinya berada di dalam pelukan hangatnya.


“Bayi Ibu kembar, keduanya laki-laki,” ujar seorang perawat pada Maryati.


“Iya Sus, terimakasih.”


“Iya sama-sama, jangan lupa memberinya ASI ya Bu.”


“Iya Sus.”


Tiga hari setelah Maryati melahirkan dia pun segera di bawa pulang oleh Tomi, karena mengingat biaya rumah sakit yang tidak sedikit. Mesti demikian Maryati tetap menuruti kemauan suaminya.


Hanya dua hari Tomi sanggup mengurus istrinya, setelah itu dia pun kembali ke meja judi bersama teman-temannya yang lain.


Kesabaran yang di miliki Maryati saat itu memang tak bisa di anggap remeh, dia bahkan tak pernah menuntut apapun dari suami yang selalu membuat hidupnya menderita. Walau siang malam dia bermandikan air mata, tapi tak sedikit pun keluhan yang terucap dari bibirnya.


Mencari nafkah sambil mengurus keempat orang anak sekaligus, sebenarnya itu bukanlah perkara mudah, bagi seorang Ibu yang masih muda seperti Maryati. Namun semua kesulitan itu hanya di kembalikan Maryati pada sang pencipta.


Bermunajat kepada Allah, itu telah di lakukan Maryati, di kala semua anak-anaknya tertidur dengan lelap.


“Hanya kepada engkau ya Allah, aku mengadukan semua kesulitan hidup ini, suami yang selama ini ku harapkan bisa menjadi tulang punggung keluarga, saat ini dia sedang khilaf, dan mengikuti jalan yang salah, bantu dia ya Allah, agar kembali ke jalan mu.”


Rintihan suara tangisan itu, sering dia lakukan di tengah malam. Di hadapan Allah yang maha pengasih Maryati mengadukan segalanya.


Suatu ketika keluarga kecil itu sedang di uji dengan penyakit yang sangat mengerikan, kepala salah seorang putra kembarnya mengalami pembengkakan.


Untuk itu, mau tak mau Maryati harus membawa anaknya kerumah sakit untuk mejalani perawatan.


Maryati harus pasrah dengan semua ini, dia bersama ketiga orang anaknya yang lain terpaksa harus tidur di teras rumah sakit yang dingin dan kotor.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2