Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 53 Kemalangan


__ADS_3

“Kurang ajar! kau, Oh!” Leli bahkan tak sanggup lagi melanjutkan makiannya, karena saat itu dadanya terasa begitu sakit.


Tanpa meminta izin pada anak-anak Leli, Bidan Rora dan dr Irvan, langsung masuk kedalam. Mayar yang melihat mereka masuk, mencoba untuk menghalanginya. Namun dr.Irvan mencoba mengancam, akan melaporkan mereka semua ke polisi.


Di dalam ruangan itu dr.Irvan memeriksa keadaan Maryati yang sudah tak sadarkan diri. Selain memeriksa Maryati, dokter itu pun memeriksa kondisi Tia dan Leni yang sudah tak berdaya, sementara itu di samping mereka ada bayi kecil yang baru lahir.


Melihat kondisi mereka yang sangat parah, bidan Rora sampai meneteskan air mata, perlakuan Leli sungguh sudah di luar batas.


“Bima, untuk sementara waktu, kau berikan obat ini pada Ibu dan kedua adikmu, besok pagi, Ibu akan datang lagi ke sini.”


“Baik, Bu.”


“Kamu yang sabar ya nak, jaga Ibu mu baik-baik.”


“Iya Bu. Tapi, saat ini kami nggak punya uang untuk membayar biaya obat.”


“Seluruh biaya pengobatan Ibumu gratis kok.”


“Benarkah Bu?”


“Iya nak. Nanti setelah Ibu mu bangun, tolong beri dia makan yang banyak, agar pisiknya semakin kuat.”


“Iya Bu.”


Bidan Rora pun kemudian pergi meninggalkan Maryati dan yang lainnya. Namun ketika bidan itu telah menjauh, Bima pun mengejarnya.


“Ibu bidan!” seru Bima dengan suara lantang.


“Bima, ada apa?” tanya Rora ingin tahu.


“Gimana cara aku memberi Ibu makan dengan kenyang Bu, sementara kami sudah beberapa tahun ini nggak pernah di kasih makan oleh mereka.”


“Ah, kamu serius Bima?”


“Iya Bu,” jawab Bima setengah berbisik.


“Keterlaluan sekali mereka, menyiksa orang tanpa belas kasihan.”


“Bu, Ibu!”


“Ada apa Bima?”


“Ku mohon, Ibu jangan memarahi mereka.”


“Kenapa Bima? bukankah mereka telah membuat Ibu dan adik mu menderita?”


“JIka Ibu memarahi mereka, maka Ibu dan kedua adik ku yang akan menjadi sasaran kemarahan mereka Bu.”


“Gimana, kalau kelakuan Nenek mu itu kita laporkan saja ke Polisi.”


“Jangan Bu.”

__ADS_1


“Kenapa jangan nak?"


“Aku nggak mau mereka semua mendekam di penjara, semuanya sudah terjadi, biarlah nasib malang ini kami yang tanggung.”


“Baiklah, Ikutlah dengan Ibu, akan Ibu belikan kalian makanan.”


“Tapi aku nggak bisa meninggalkan Ibu lama-lama di rumah.”


“Kenapa nak?”


“Nanti mereka menyiksa Ibu ku lagi.”


“Udah sakit begitu, mereka masih mau menyiksa Ibu mu?”


“Iya Bu.”


Kemudian bidan Rora membelikan Bima dua bungkus nasi, serta menyelipkan uang di kantong Bima.


“Kau simpan uang ini baik, baik, nanti jika Ibu mu sudah kuat, maka kalian pergilah dari rumah itu, kalian cari Ibu, ini alamat rumah Ibu,” bisik Rora di telinga Bima.


“Baik Bu, terimakasih.”


“Ya sudah, cepat pulang, Ibu mu pasti sudah sadar.”


“Baik Bu.”


Seraya berlari kencang, Bima langsung masuk kedalam rumah Neneknya. Benar apa kata bidan Rora, kalau Ibunya sudah sadarkan diri.


“Ibu, makanlah nasi ini, biar aku suap kan.”


“Ibu harus makan, kalau Ibu nggak ada lagi di dunia ini, lalu siapa yang bakal melindungi kami.”


“Ada Allah yang selalu terjaga nak.”


“Tapi penghuni rumah ini, orang yang tak mengerti arti tuhan Ibu. Makanlah sedikit, agar Ibu punya tenaga.”


“Baiklah sayang.”


Satu persatu, nasi itu pun masuk kedalam perut Maryati, tangan lembut Bima telah menyelamatkan dirinya yang tak berdaya.


“Kau dapat makanan ini dari siapa nak?”


“Ibu bidan yang membelikannya. Ibu bidan juga memberi aku uang Bu, katanya jika kita punya kesempatan dan Ibu sudah sembuh, maka dia menyuruh kita lari dari rumah ini.”


“Kau simpanlah uang itu baik-baik nak.”


“Iya Bu.”


Melalui tangan Bima yang lembut, Maryati, Tia dan Leni pun dapat makan dengan kenyang sore itu.


Malam nya di saat semua orang tertidur dengan lelap, Maryati terbangun dari tidurnya, hatinya begitu merintih, melihat kondisi bayinya yang baru lahir, sejak pertama lahir sampai malam itu, Maryati bahkan belum pernah mendengar suara tangisannya.

__ADS_1


Mesti masih bernafas, namun bayi itu sangat lemah sekali, di saat itu Maryati duduk dan mengangkat tubuh bayi itu.


“Menagislah nak, Ibu mohon, menangislah untuk yang terakir kalinya, Ibu ingin tahu, kalau bayi yang Ibu lahirkan dengan bersusah payah, ternyata normal dan tak kurang satu pun.


Bayi itupun di cium Maryati berulang-ulang kali. Seraya bermunajat kepada Allah yang maha pengasih.


“Ya Allah, air susu ku pun tak lagi bisa mengalir, karena pedihnya penderitaan ini, namun aku sebagai hamba mu yang tak berdaya, hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini. Malam ini, aku bermunajat pada mu Ya Allah, ambilah kembali nyawa bayi ku ini, agar dia tak menderita seperti aku dan ketiga anak ku ini.”


Dengan deraian air mata, Maryati tak kuasa melihat bayi mungil itu lagi, saat itu juga dia mendengar suara petir menggelegar, dan hujan pun turun seketika, lalu sayup-sayup, Maryati mendengar suara tangisan bayi malang itu.


“Pergilah nak, Ibu mengikhlaskan kepergian mu, pergilah bersama tuhan mu, Ibu nggak bakalan sanggup melihat mu hidup tersiksa seperti saudaramu.”


Di saat Maryati terus bicara, sebenarnya bayi mungil itu telah tiada, Bima yang mendengar suara ibunya yang terus bermohon, mencoba bangkit dan duduk di samping bayi itu.


Tanpa sengaja, Bima merasakan tubuh bayi itu terasa dingin, lalu Bima menyentuh nadinya, kemudian Bima pun menangis memeluk tubuh Ibunya.


“Udah Bu, udah, adik ku udah pergi, Ibu tak perlu bicara lagi.”


“Benarkah Bima?”


“Benar Bu, kenapa Ibu melakukan semua ini?"


“Ibu sudah nggak kuat sayang.”


“Ibu harus kuat, bukankah bidan Rora memberi kita uang, jika Ibu telah sembuh, kita akan keluar dari rumah ini Bu.”


“Kita akan kemana nak?”


“jangan pikirkan itu dulu Bu, yang paling penting kita harus keluar dari rumah ini. O iya, bidan Rora juga berpesan, kalau kita telah keluar dari rumah ini, maka kita disuruh ke rumahnya.”


“Tapi rumah Bidan itu di mana nak.”


“Ibu tenang saja, aku punya alamatnya.”


“Ibu harus janji pada ku, kalau sebentar lagi, kita akan keluar dari rumah ini bersama-sama Bu. Ibu mau kan, janji, janji ya Bu.”


“Baiklah sayang, Ibu janji.”


Pagi-pagi sekali, Bima langsung mengabari berita kemalangan itu pada Bu Lini.


“Kau yakin kalau adik mu sudah meninggal nak?”


“Iya Bu, dia meninggal tadi malam.”


“Baiklah, biar Ibu sampaikan pada semua warga.”


“Baik, terimakasih Bu.


Dengan terkulai lemah, Maryati mencoba bangkit dan duduk di samping bayinya yang telah meninggal, air mata duka yang saat itu mengalir, tak kuasa untuk di bendung nya.


Semua warga telah berbondong-bondong datang ke rumah Leli, namun perempuan itu tak tahu sama sekali kalau cucu yang tak dikehendakinya telah meninggal dunia.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2