
Saat Leonathan hendak meraih jari kelingking Luciana. Tiba tiba saja tangan Luciana berada di sisi lain. Dan Leonathan tidak berhasil memegang tangan Luciana.
Namun, tangan Luciana kembali di letakkan disamping tangan Leonathan kembali. Dan Luciana melirik Leonathan, dan terlihat kalau Leonathan terus menatap ke arah tangan Luciana.
Luciana pun tersenyum tipis, dan langsung meraih tangan Leonathan, lalu menggenggamnya. Leonathan dan Luciana bertatapan, dan Luciana tersenyum kepada Leonathan.
"Kalau kamu mau pegangan seperti ini. Katakan saja," ucap Luciana kembali tersenyum, dan langsung menatap ke depan kembali, sambil menggenggam tangan Leonathan.
Disisi lain. Leonathan tersenyum tipis melihat Luciana dari samping. "Luciana tahu apa yang aku inginkan. Jadi begini rasanya disayang istri." Ucap batin Leonathan.
Sesampai di restoran. Leonathan dan Luciana langsung turun dari mobil, dan saat sudah turun. Luciana kembali menggenggam tangan Leonathan, dan lagi lagi Leonathan menatap ke arah Luciana. Luciana pun ikut menatap wajah Leonathan, dan Luciana tersenyum kembali.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam restoran, dan semua pembeli yang ada menatap wajah Luciana dan Leonathan, karena ada beberapa pembeli yang kenal dengan Leonathan. Dan memuji keromantisan pasangan tersebut.
Luciana dan Leonathan langsung duduk berhadapan. "Pesanlah makanan yang kamu inginkan," ucap Leonathan dengan lembut.
Pelayan pun datang, dan mencatat makanan yang dipesan oleh Leonathan dan Luciana. Setelah memesan makanan dan minuman. Pelayan pun kembali ke dapur.
Sedangkan Luciana dan Leonathan, saling bertatapan kembali, dan wajah Leonathan sedikit memerah.
"Apa kamu tidak bekerja?" tanya Luciana sambil melipat kedua tangannya.
"Saya tidak bekerja, karena ingin meluangkan waktu untuk kamu." Jawab Leonathan.
"Kenapa manggilnya begitu, kenapa saya. Kan biasanya di rumah Aku. Apa karena di sini banyak orang. Hm?" tanya Luciana dengan pelan, sambil menaikkan alisnya.
"Bukan seperti itu. Omong omong, apa tidak ada yang sakit di kepala kamu kan?" jawab Leonathan sekaligus bertanya.
"Tidak kok. Aku baik baik saja, dan kenapa kamu meletakkan bunga tulip di depan kamar. Mana semua itu bunga kesukaanku lagi." Jawab Luciana, sambil tersenyum tipis.
"Agar kamu mau memaafkan saya. Apa itu salah?" jawab Leonathan.
"Gak kok sayang. Itu semua baik dan bagus. Terima kasih banyak sayang." Mengedipkan sebelah matanya.
"Astaga, wanita ini benar benar membuatku gila." Ucap batin Leonathan langsung memalingkan wajahnya yang kembali memerah.
__ADS_1
"Hahahahah, dia benar benar menggemaskan ketika salting. Aku jadi ikut salting melihatnya." Dalam hati Luciana, dan pipinya ikut sedikit memerah.
Pesanan merekapun datang, dan langsung di letakkan di atas meja. "Ini pesanannya kak," ramah pelayan tersebut.
"Terima kasih banyak," ucap Leonathan dan Luciana bersamaan.
"Sama sama kak. Kalau begitu, saya permisi," menundukkan kepalanya, dan langsung meninggal tempat tersebut.
Makanan yang di pesan oleh Luciana, adalah udang pedas manis. Leonathan pun langsung membukakan kulit udang tersebut untuk Luciana.
Luciana yang melihatnya pun tersenyum tipis, "akhirnya aku bisa bersama dengannya. Aku menyesal, karena di masa lalu aku mengabaikannya. Sekarang, aku tidak akan mengabaikannya lagi." Ucap batin Luciana terus menatap wajah Leonathan yang fokus mengupas kulit udang.
Setelah mengupasnya. Leonathan langsung meletakannya di atas piring Luciana. "Makanlah udang ini," ucap Leonathan kepadanya.
Luciana pun langsung memakannya, dan Leonathan juga ikut memakan makanannya. "Bagaimana rasanya?" tanya Leonathan sambil menatapnya kembali.
"Hm, enak," jawab Luciana sambil mengunyah makanannya.
"Ouh ya, nanti sore aku dan Alvino akan makan bersama. Apa kamu mau ikut?" menawarkannya.
"Tapi kamu izinin kan?" tanya Luciana kembali, sambil menaikkan alisnya.
"Iya, saya izinin. Tapi jangan pulang kemalaman, dan baby Bing, biar aku saja yang jemput. Karena aku ingin menjemputnya." Jawab Leonathan tersenyum tipis.
"Terima kasih banyak sayang," kembali tersenyum manis di depan Leonathan.
"Jangan tersenyum seperti itu lagi," ucap Leonathan kepadanya.
"Eh, apa kamu tidak suka. Apa kamu memang tidak suka denganku?" tanya Luciana mengubah ekspresinya menjadi sedih.
"Bukan begitu. Senyuman itu hanya untukku saja. Di sini banyak orang, dan aku tidak mau kalau yang lainnya melihat senyuman indah istriku ini." Jawab Leonathan tidak menatap wajah Luciana, karena wajahnya yang sedikit memerah.
Luciana pun sedikit kaget dengan jawaban Leonathan. Raut wajah Luciana tambah bahagia, karena mendengar jawaban Leonathan.
"Dia benar benar sudah berubah. Dia jadi sangat romantis. Apa aku akan tahan dengan sikapnya yang seperti ini." Ucap batin Luciana yang pipinya sedikit memerah juga.
__ADS_1
Selesai makan. Leonathan dan Luciana langsung bersiap siap untuk pulang, dan Luciana menunggu Leonathan yang sedang membayar.
Setelah itu. Luciana dan Leonathan keluar dari restoran, sambil menggandeng tangan kembali. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil. Luciana mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang, dan ia adalah Alvino.
"Halo kak, ada apa?" tanya Alvino di dalam telepon tersebut.
"Apa kita bisa bertemu sekarang saja dik. Di taman belakang rumah. Karena kakak lagi gak ingin keluar rumah." Jawab Luciana.
"Tapi kakak bilang bisa. Kenapa tiba tiba tidak bisa. Apa ini semua karena suami kakak yang melarang kakak?" tanya Alvino dengan jelas.
"Bukan seperti itu adik kakak sayang. Kakak hanya ingin tidak keluar saja. Tiba tiba saja kakak mager untuk keluar rumah. Kalau kamu tidak mau juga tidak apa apa. Lain waktu saja kita bertemu." Jawab Luciana dengan jelas juga.
"Yaudah deh kak. Ini aku langsung ke sana. Dah kak," langsung mematikan ponselnya.
Luciana menatap wajah Leonathan, "apa kamu tidak penasaran dengan apa yang aku bicarakan bersama Alvino?" tanya Luciana kepada Luciana.
"Untuk apa aku penasaran. Itu kan kepribadianmu. Mana mungkin aku kepo dengan semua itu." Jawab Leonathan sambil menatapnya juga.
"Terima kasih banyak sayang," bahagia Luciana dan mengecup pipi Leonathan, lalu kembali duduk dengan tenang.
Disisi lain. Leonathan memegang pipinya, yang bekas kecupan Luciana, dalam keadaan pipinya yang memerah, dan salting.
"Dia sangat berani. Tapi dia lucu dan menggemaskan," ucap batin Leonathan.
Sesampai rumah. Luciana dan Leonathan langsung turun dari mobil bersamaan. Di dalam rumah, Luciana pun duduk di sofa dengan tenang, dan memegang perutnya yang kekenyangan, karena Leonathan memesan banyak makanan untuknya.
"Ada apa dengan kamu. Apa perutmu sakit?" tanya Leonathan yang cemas kembali.
Luciana pun menatap wajah Leonathan yang berdiri, "aku tidak sakit sayang. Tapi kekenyangan. Habisnya kamu mesan banyak makanan. Jadinya aku kekenyangan." Jawab Luciana sambil menghela nafas panjang.
"Maafkan aku, karena aku sudah membuatmu kelelahan," ucap Leonathan kembali meminta maaf, dan langsung duduk disamping Luciana.
"Kamu
__ADS_1