Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku

Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku
Episode 61: Minuman


__ADS_3

Tiba tiba ada yang mengetuk pintunya. "Masuk." Ucap Luciana sambil mengetik di laptopnya.


Seseorang pun masuk, dan ia adalah Alvino. "Kakak." Bahagia Alvino, langsung menghampiri Luciana.


Sontak Luciana langsung menatapnya. "Alvino, kenapa kau ada di sini?." Tanya Luciana menatapnya.


"Tentunya karena aku merindukan kakak dong. Kelihatannya kakak sangat sibuk ya." Jawab Alvino sekaligus bertanya.


"Iya nih, banyak pekerjaan yang harus kakak selesaikan. Omong omong, apa hari ini kamu tidak ke universitas?." Tanya Luciana kembali.


"Tidak kak, ini bukan jadwalku untuk ke universitas. Oh ya kak, bagaimana keadaan rumah." Jawabnya sambil duduk di sofa dengan santai.


"Entahlah. Tapi, kemarin itu kakak ditelepon oleh ayah, katanya suruh menginap di sana. Ya kakak gak bisa menolaknya deh, dan kakak akan menginap sehari saja dengan suami kakak." Ucap Luciana sambil mengerjakan berkasnya.


"Kenapa harus dengan suami kakak itu. Kenapa tidak mengajakku saja, kan aku ini adik kakak. Aneh nih kakak." Iri Alvino, langsung melipat kedua tangannya.


"Hahahahah, masa sama kakak ipar sendiri cemburu sih. Namanya juga suami kakak, dan waktu itu kakak tidak sempat mendekatkan suami kakak dengan keluarga kita. Jadinya, ini adalah waktu yang tepat. Walaupun kakak juga tidak ingin ke sana sih, tapi kan yang di rumah ada ayah kandung kita adik kakak yang tersayang." Ujar Luciana sambil tersenyum.


"Yaudah deh, terserah kakak aja deh. Bagaimana soal fashion show nya kak. Apa berjalan dengan baik?." Tanya Alvino kembali.


"Tentu saja berjalan dengan baik. Dan kamu tahu, kakak yang sudah membeli Perusahaan yang dulunya di rebut oleh Min Soo dan Min Hwa. Sekarang, kakak memiliki dua perusahaan." Jawab Luciana sambil menaikkan alisnya.


"Dan kamu tahu, kakak juga membuat Gita menjadi karyawan bawahan, dan dia bukan pemilik perusahaan itu. Kakak mengganti nama perusahaan tersebut, dengan nam Perusahaan Princess Gown. Bagaimana, hebat bukan." Menceritakannya.


"Apa, kakak melakukan itu semua sendirian. Astaga, kakak benar benar hebat. Gila sih kakak." Kagum Alvino langsung terduduk, dan menatap wajah Luciana.


"Luciana gitu lho, hahahahah." Tertawa Luciana.


"Pasti dia ngebatin terus tiap hari itu kak, lihat kelakukan kakak ini. Hahahah, nanti kakak dapat pahala. Hahaha." Tertawa puas Alvino.

__ADS_1


"Kamu ini, kita kan bukan Islam. Ada ada saja deh kamu. Hahahah." Kembali tertawa Luciana.


"Ouh ya kak, sebentar lagi kan hari kelulusanku kak. Dan aku bingung mau bekerja di mana nanti. Apa aku bisa bekerja di perusahaan kakak ini. Kan aku adik kakak yang paling imut dan tampan." Tanya Alvino langsung memasang wajah imut.


Luciana yang melihatnya ingin muntah. "Huek, jangan memasang wajah mengerikan itu. Hahahah, kamu tidak memasang wajah seperti itu saja, sudah membosankan. Hahahah." Ejek Luciana langsung.


"Ih, yaudah deh kak. Jadi bagaimana kak, bisa kan kak, kalau aku bekerja di perusahaan kakak ini?." Tanya Alvino kembali untuk memastikannya.


"Tentu saja. Mana mungkin kakak menelantarkan adik kakak yang tampan ini. Kan kamu juga pintar, mana mungkin kakak sia siakan bakat mu itu. Tunggu selesai lulus, baru kamu langsung bisa bekerja di tempat kakak." Jawab Luciana sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sore pun tiba. Di mana Luciana sudah pulang duluan, dan Alvino sudah pulang dari siang tadi.


Luciana langsung menuju rumahnya. Sesampai rumahnya, ia pun langsung turun dari mobil, dan masuk ke dalam rumah.


"Aku pulang." Ucap Luciana dengan ekspresi datar.


Sontak orang rumah langsung menatapnya. "Sayang, akhirnya kamu pulang." Bahagia ayahnya, langsung menghampirinya dan memeluknya.


"Nanti dia akan datang, karena masih mengerjakan pekerjaan rumahnya. Apa kalian terus membiarkanku berdiri, dan terus menanyakan hal tidak penting begini?." Tanya balik Luciana.


"Ouh, maafkan ayah sayang. Mari kita duduk bersama." Baru peka ayahnya, dan mereka langsung duduk di sofa ruang tamu.


"Bi, tolong buatkan minuman untuk Luciana." Ucap ibu tirinya kepada pelayan yang ada di dapur.


"Baik nyonya." Jawab pelayan tersebut dari dapur.


"Bagaimana kabar kamu sayang. Dan bagaimana keuangan perusahaan sekarang?." Tanya ayahnya, langsung menanyakan soal uang.


"Kabarku baik, sejak aku menikah dengan Leonathan. Soal perusahaan, itu semua sudah berjalan dengan baik. Karena aku melakukannya dengan kejujuran, bukan kebohongan. Ayah paham itu." Jawab Luciana sambil menyilangkan kakinya, dan melipat kedua tangannya.

__ADS_1


"Oh ya sayang, kenapa kamu menjadikan adik kamu menjadi karyawan bawahan. Kan dia itu adik kamu sayang. Seharusnya kamu jadikan ia manager atau direktur gitu?." Tanya ibu tirinya.


"Mau berapa kali sih aku katakan pada kalian. Aku adalah pemilik perusahaan baru itu, dan semua aturan yang aku buat tidak boleh dibantah. Kalau kalian terus bertanya soal itu, aku akan pulang ini." Ancam Luciana dengan tegas.


"Eh, jangan dong sayang. Abilene, kamu jangan menanyakan hal yang membuat Luciana marah. Karena dia baru pulang kerja." Ucap ayahnya kepada istrinya.


"Iya, iya." Ucap Abilene menahan emosinya.


"Kalau bukan karena harta keluarganya ini. Aku tidak akan bertahan di keluarga gila ini. Mana anaknya kayak ****** lagi." Ucap batin Abilene kesal.


"Kalau begitu, kamu istirahat dulu sana. Kan kamu habis pulang kerja juga, dan tentunya kamu pasti lelah kan. Mari biar ayah antar ke kamar kamu." Ujar ayahnya menuntun Luciana ke kamarnya.


Setelah menuntun Luciana masuk ke kamarnya, ayahnya kembali berdiri dihadapannya, dan Luciana langsung menatapnya. "Ada apa lagi sih ayah?." Tanya Luciana kembali.


"Tidak apa apa. Kalau begitu, kamu istirahat dengan tenang. Biar ayah dan ibu kamu yang menyambut suami kamu nanti. Dah sayang." Jawab ayahnya melambaikan tangannya, dan langsung keluar dari kamar Luciana.


"Ayah tidak pernah berubah dari dulu. Selalu saja uang yang ada dipikirannya. Padahal harta itu gak di bawa mati. Memanglah." Ucap Luciana langsung berbaring.


Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya, dan ia adalah pelayan yang disuruh ibu tirinya untuk membuatkan minuman.


"Masuk," ucap Luciana langsung duduk.


Pelayan itupun langsung masuk ke dalam kamarnya. "Maaf mengganggu anda nona. Ini minuman untuk anda nona. Jangan lupa diminum." Jawab pelayan tersebut, langsung meletakkan minuman di atas meja.


"Terima kasih banyak, dan kau bisa pergi sekarang." Ujar Luciana dan pelayan tersebut, langsung membungkukkan badannya dan keluar dari kamar Luciana.


"Malas aku minum minuman rumah ini. Nanti di minuman itu sudah diberikan obat tidur lagi. Sudah basi seperti itu mah." Ucap batin Luciana kembali berbaring.


"Kalau aku berbaring seperti ini, di kamar ini. Aku jadi teringat ibu. Saat ibu memelukku, dan menceritakan dongeng lucu untukku."Kembali mengingat masa kecilnya.

__ADS_1


"Dan waktu aku kecil juga. Aku


__ADS_2