Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku

Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku
Episode 127: Obat


__ADS_3

Dan saat ia turun dari tempat tidur. Leonathan langsung menarik tangan Luciana, dan Luciana kembali duduk dihadapannya. Luciana pun kembali menatap wajah Leonathan. "Ada apa?" tanya Luciana sambil menaikkan alisnya.


"Ada apa denganmu. Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dariku. Katakan, kenapa kamu begitu takut dengan petir dan kilat?." Tanya Leonathan dengan ekspresi wajah sedikit tidak senang.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Aku takut kepada kilat dan petir, karena ibu sering dipukul oleh ayah di malam hari, dengan cuaca hujan, ditambah petir dan kilat. Aku melihat ibu berlumuran darah, tepat di depan jendela, dengan kilatan tersebut. Aku berusaha menahan ayah, namun ayah malah memukuliku. Tidak apa-apa kalau aku yang dipukulin habis-habisan. Tapi jangan ibu, karena gak merasa sakit, kalau melihat ibu yang dipukuli karena berusaha membelaku."


"Ayah terus memukuli kami di cuaca hujan yang penuh dengan kilatan dan petir. Sering kali mereka bertengkar di malam hari. Sejak saat itu, aku benar-benar membenci hujan, dan berusaha mengikhlaskan kepergian ibu. Namun, sekarang aku sudah mulai tenang dengan hujan, karena aku di kelilingi oleh orang yang sangat sayang padaku. Aku bahagia." Jawab Luciana, dan air matanya mulai menetes, karena menceritakan masa lalunya yang kelam.


"Maafkan aku, karena masa laluku tidak sebahagia yang lain. Aku memang anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Aku tidak mempunyai keluarga yang bahagia seperti di luaran sana." Ujar Luciana menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Leonathan langsung memeluk Luciana, dan Luciana menangis didalam pelukan Leonathan. "Memanglah dengan deras. Aku akan memberikan pelukan untuk kamu, biar kamu semakin puas untuk menangis. Jangan dipendam sendiri masalahnya, dan ceritakan semuanya kepadaku. Kan kamu sendiri yang mengatakannya tadi. Jadi, biarlah air mata itu mengalir, agar kamu merasa lega, sayang." Ucap Leonathan, sambil mengelus punggung Luciana dengan lembut.


Luciana terus menangis, karena membayangkan ibunya yang terus dipukuli oleh ayahnya di masa lalu. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Akan aku balas mereka satu per satu, dengan tanganku sendiri." Ucap batin Leonathan, sambil mengerutkan keningnya.


Setelah Luciana selesai menangis. Luciana langsung melepaskan pelukan tersebut, dan mengusap air matanya. Luciana pun menatap wajah Leonathan, dan begitu juga dengan Leonathan. "Pakaian kamu jadi basah, karena tangisan aku. Mending kamu ganti pakaian sana, nanti kamu masuk angin lagi." Ujar Luciana.

__ADS_1


"Baik sayangku. Aku ganti baju dulu ya, dan kalau kamu tidur duluan, tidurlah." Jawab Leonathan tersenyum, dan mengecup kening Luciana.


Leonathan pun langsung mengganti pakaiannya, dan Luciana membersihkan bubur yang jatuh ke lantai tadi. Setelah menbersihkan bubur tersebut. Luciana kembali duduk di atas tempat tidur, dan Leonathan juga menghampiri Luciana, karena ia juga sudah mengganti pakaiannya.


"Apa kamu masih lapar?" tanya Luciana sambil menaikkan alisnya.


"Aku sudah kenyang karena menatap wajah kamu. Aku benar-benar kenyang jadinya." Jawab Leonathan sambil tersenyum tipis.


Tiba-tiba saja Leonathan kembali bersin, "kan, kamu pilek. Kamu berbaringlah, dan aku akan mengambil obat dulu, kamu di sinilah." Ujar Luciana langsung mengambil kotak obat yang ada di ruang tamu.


Luciana menghampiri Luciana yang sudah berbaring, "di mana obatnya?" tanya Leonathan menatap wajah Luciana.


"Obatnya habis sayang. Jadi aku mau beli obatnya dulu di apotik. Ini kan belum tengah malam, jadi apotik masih buka mungkin. Kalau kamu mau tidur dulu, tidurlah. Jangan menungguku kalau kamu memang mengantuk. Tidurkan saja." Ujar Luciana mengelus pipi Leonathan dengan lembut.


"Tidak perlu beli obat, aku sudah sembuh kok. Lagian, pak supir sudah pulang, dan kamu mau pergi sendiri. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" tanya Leonathan sambil menaikkan alisnya kembali.

__ADS_1


"Kamu jangan berkata seperti itu. Seharusnya kamu berdoa, agar aku dilindungi. Sudahlah, kamu jangan melarangku, karena aku akan tetap membelinya untuk kesehatan suami aku. Kalau begitu, aku pergi dulu sayang. Umach." Mencium bibir Leonathan, dan langsung keluar dari kamar.


"Hati-hatilah sayang," ikut tersenyum, dan melambaikan tangannya.


Luciana pun langsung pergi membeli obat, dengan mengendarai mobil pribadinya.


Satu jam pun berlalu, "tuan, tuan, tuan." Ucap yang tidak lain lagi ialah pak Stefan.


Leonathan pun terbangun, "eh, Stefan. Kenapa kau ada di sini?" tanya Leonathan langsung duduk, dan menatap wajah pak Stefan yang panik.


"Kenapa wajahmu seperti itu. Ada apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Leonathan langsung mengerutkan keningnya.


"Nyonya Luciana tuan," jawab pak Stefan.


"Kenapa dengan istri saya, dan kenapa kau panik begitu?" tanya Leonathan langsung panik.

__ADS_1


"Sebenarnya nyonya Luciana


__ADS_2