
Leonathan juga membalas pelukan Luciana, dan kembali mencium kening Luciana. "Maafkan aku, karena selama ini aku kurang perhatian dengan kamu. Padahal selama ini, aku benar benar membutuhkan kamu." Ucap Leonathan kembali meminta maaf.
Tiba tiba saja Luciana mencium bibir Leonathan. Sontak Leonathan kaget, hingga matanya melotot. Tapi Leonathan tidak menolaknya. Ia malah membalas ciuman tersebut, dan nafas mereka mulai tidak beraturan kembali.
Luciana pun melepaskan ciuman tersebut, dan mereka saling memandang. "Aku mencintaimu," ucap Leonathan tersenyum bahagia.
Leonathan langsung berada di atasnya, dan membuka pakaiannya. "Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Luciana kepadanya.
"Ingin memuaskanmu," jawab Leonathan dengan singkat.
Pipi Luciana dan Leonathan sama-sama memerah. Dan dengan sigap, Leonathan langsung mencium leher Luciana, dan Luciana gemetaran.
Tiba tiba saja Luciana melihat luka yang begitu banyak di badan Leonathan, dan punggung Leonathan. "Tunggu," teriak Luciana, dan Leonathan terhenti, lalu menatap wajah Luciana kembali.
"Ada apa?" tanyanya sambil menaikkan alisnya.
Luciana pun langsung duduk, dan melihat badan Leonathan, "ada apa dengan tubuh kamu ini. Kenapa begitu banyak luka cambukan. Cerita sama aku?" tanya balik Luciana, sambil memegang badan Leonathan.
Leonathan pun langsung duduk disamping Luciana, dan menundukkan kepalanya. "Katakan kenapa. Jangan diam saja. Atau aku tidak akan berbicara kepada kamu lagi?" tanya Luciana, sambil mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya. Saat kamu koma, aku meminta Stefan, untuk mencambuk seluruh badanku. Agar aku bisa merasakan, kesakitan yang kamu rasakan. Agar kita sama-sama merasakan kesakitan. Aku tidak ingin, hanya kamu saja yang merasakan sakit itu. Aku juga harus merasakan, walaupun ini belum seberapa, dengan apa yang kamu rasakan. Ini semua karenaku. Maafkan aku." Jawab Leonathan dengan detail dan jelas.
Luciana pun menundukkan kepalanya, dan Leonathan menatapnya. "Kamu kenapa. Apa kamu marah. Maafkan aku." Meminta maaf Leonathan, dan memegang kedua tangan Luciana.
Luciana pun menaikkan kepalanya, dengan raut wajah sedih, dan hendak menangis. "Dasar bodoh. Seharusnya kau tidak menyakiti dirimu sendiri. Payah." Memukul badan Leonathan.
"Pukullah sekuat mungkin. Aku tidak akan melawannya. Karena ini semua salahku." Ucap Leonathan.
Luciana langsung memeluk Leonathan, "aku tidak ingin memukulmu lagi. Ini semua bukan salahmu. Ini semua sudah takdir. Jadi jangan melukai diri kamu sendiri. Dasar bodoh." Ucap Luciana.
"Baiklah. Aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Maafkan aku sekali lagi," ujar Leonathan memeluk Luciana dengan penuh kehangatan.
Luciana pun melepaskan pelukan tersebut, dan langsung turun dari tempat tidur. Luciana mencari kotak obat, untuk mengobati bekas luka di tubuh Leonathan.
__ADS_1
"Apa yang kamu cari?" tanya Leonathan.
"Aku mencari kotak obat, untuk mengobati luka kamu." Jawab Luciana sambil mencari kotak obat tersebut.
"Tidak perlu diobati. Aku baik baik saja," ucap Leonathan.
"Diamlah. Kamu jangan banyak bicara. Aku akan tetap mengobatinya," jawab Luciana, dan sudah mendapatkan kotak obat tersebut.
Luciana pun kembali duduk disamping Leonathan, "kamu berbalik badanlah. Aku akan mengobati lukamu." Perintah Luciana, dan Leonathan langsung membalikkan badannya.
"Kalau kamu merasa sakit, katakan saja. Jangan dipendam pendam sendiri," ucap Luciana langsung mengambil obat luka yang ada di kotak tersebut.
"Baiklah," menurut Leonathan.
Luciana pun mulai mengobati luka yang ada di sekujur tubuh Leonathan, "lukanya begitu banyak. Tapi dia tidak pernah kesakitan. Apa dia berusaha menahan sakitnya ini, demi diriku. Agar aku tidak cemas dengannya. Dia benar benar pria yang pengertian." Ucap batin Luciana, sambil mengobati luka tersebut dengan sangat hati hati.
Saat Luciana mengobati luka tersebut. Luciana melihat tangan Leonathan yang berada di atas pahanya sendiri, sambil mengepalkan tangannya, seperti menahan sakitnya. Luciana pun meriah tangan kiri Leonathan, dan menggenggamnya.
"Dia benar benar peka kepadaku. Selama ini aku ke mana saja. Sampai aku tidak sadar, bahwa aku memiliki istri yang begitu peduli terhadapku. Mulai hari ini, aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi." Ucap batin Leonathan tersenyum tipis, dan menggenggam tangan Luciana dengan erat.
Setelah mengobati punggung Leonathan. Luciana langsung mengobati luka depan Leonathan. Leonathan terus menatap wajah Luciana, yang sedang fokus mengobati lukanya.
"Kenapa lukanya bisa sebanyak ini. Aku sampai heran. Pasti sakit ya, karena menahannya selama ini." Tanya Luciana, sambil cemas.
"Sekarang sudah tidak sakit, karena ada dirimu. Aku sudah bahagia, karena ada dirimu." Jawab Leonathan, sambil tersenyum tipis, dan merangkul pinggang Luciana.
Leonathan pun mencium pipi Luciana, dan kening Luciana. "Apa yang kamu lakukan sih?" tanya Luciana, sambil mengobati luka Leonathan.
"Aku hanya ingin mencium istriku. Apa itu tidak boleh?" jawab Leonathan sekaligus bertanya.
"Boleh kok. Hahahah, kamu kan suami aku," jawab Luciana tertawa tipis.
Selesai mengobati luka Leonathan. Luciana pun mengembalikan kotak obat tersebut ke tempatnya. Setelah mengembalikannya, Luciana langsung berbaring di samping Leonathan yang masih duduk.
__ADS_1
"Kamu tunggulah sebentar, sampai lukanya mengering. Setelah mengering, baru kamu tidur. Apa mau aku tunggu?" tanya Luciana menatapnya.
"Kamu tidurlah duluan. Karena kamu kan juga harus bekerja besok." Jawab Leonathan, sambil mengelus rambut Luciana.
"Kalau begitu selamat malam sayang," tersenyum Luciana.
"Selamat malam juga, istriku," tersenyum tipis Leonathan, dan pipinya langsung memerah, saat mengatakan hal itu.
Luciana pun menutup kedua matanya, dengan menghadap ke arah Leonathan. Leonathan terus memandang Luciana. "Dia begitu cantik ketika tidur. Aku bersyukur, karena memiliki istri sepertinya. Aku tidak akan melepaskannya kali ini." Ucap batin Leonathan.
Keesokan paginya. Dimana Luciana baru bangun, dan ia langsung membuka matanya perlahan-lahan. "Huaa," langsung duduk, dan melihat Leonathan yang sudah tidak ada disampingnya.
"Dia sudah bangun duluan. Seperti biasanya," ujar Luciana menuju jendela, dan membuka gorden.
"Selamat pagi dunia yang bahagia," bahagia Luciana.
Luciana pun langsung turun ke bawah, dan menuju meja makan. Ternyata Leonathan sedang memasak, dan mengenakan cemelek, yang sering dipakai Luciana.
Luciana melihat sekitar, tidak ada siapa siapa. Luciana pun berjalan ke belakang Leonathan dengan pelan pelan, agar ia tidak ketahuan.
Setelah berdiri dibelakang Leonathan. Luciana langsung memeluk Leonathan dari belakang. "Pagi sayang," ucap Luciana.
Sontak Leonathan kaget, "astaga, kamu. Mengejutkan aku saja." Sahut Leonathan.
"Kamu sedang masak apa?" tanya Luciana, dan langsung berdiri disamping Leonathan, untuk melihat masakan yang dibuat Leonathan.
"Sup ayam, dan udang goreng," jawab Leonathan.
"Wah, enak banget itu. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Luciana kembali, sambil terus tersenyum.
"Tidak ada. Kamu duduklah dengan tenang. Sebentar lagi masakan ini akan siap." Jawab Leonathan.
"Kalau begitu
__ADS_1