Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku

Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku
Episode 86: Hal Yang Disukai


__ADS_3

Air mata pun jatuh diatas buku tersebut, dan Leonathan memeluk buku tersebut dengan erat, dengan air mata yang terus keluar, dan membasahi pipinya.


"Maafkan aku Luciana, maafkan aku. Aku benar benar pria yang bodoh, dan terlalu patuh, terhadap apa yang aku kerjakan. Aku benar benar minta maaf." Menggenggam kedua tangan Luciana, dan meneteskan air matanya kembali.


"Aku benar benar minta maaf padamu," terus meminta maaf kepada Luciana.


"Aku memang pria yang bodoh, pria bodoh." Memukul kepalanya, dan terus menampar pipinya.


Keesokan paginya. Dimana Leonathan tertidur, sambil memegang buku diary Luciana. Leonathan terbangun, karena mendengar ada yang masuk, dan itu adalah baby Bing.


"Papi," langsung memeluk Leonathan.


"Kenapa dengan mami pa. Kenapa mami di rumah sakit?" tanya baby Bing, langsung memegang tangan Luciana.


"Ada orang yang hendak mencelakai papi. Tapi mami kamu berusaha membantu papi, dan mamilah yang terkena masalahnya." Jawab Leonathan, yang masih sedih.


"Kasihan banget mami. Eh, kenapa dengan mata papi, kenapa lebam begitu?" tanya baby Bing yang baru menyadarinya.


"Ouh, tidak apa apa. Kamu kenapa masih di sini, dan kenapa tidak pergi ke sekolah?" jawab Leonathan sekaligus bertanya.


"Ini mau pergi, dan mau mampir menjenguk mami dulu. Bing tahu soal ini, dari paman Stefan. Katanya mami masuk rumah sakit. Jadinya Bing langsung ke sini deh." Jawab Bing, sambil melihat wajah Luciana yang masih koma.


"Stefan, kamu antarkan Bing ke sekolahnya. Nak, pergilah ke sekolah. Nanti kau terlambat, dan soal mami kamu. Jangan dipikirkan, karena papi bisa mengurus semuanya." Pertama kali mengelus pipi baby Bing, dan tersenyum kepadanya.


"Ada apa dengan papi. Baru kali ini aku melihat papi tersenyum seperti itu, dan baik seperti ini. Ada apa ya?" ucap batin baby Bing yang bingung.


"Tunggu apalagi. Pergilah," ujar Leonathan.


"Ouh ya pa. Kalau begitu, Bing pergi sekolah dulu ya pa. Dan mami, cepat sembuh ya. Karena Bing merindukan mami." Mencium tangan Luciana, dan langsung pergi.

__ADS_1


"Lihat, Bing merindukan kamu. Kamu bangunlah, dan jangan seperti ini. Kalau kamu belum sadar juga, aku akan menunggumu. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi Luciana." Mengelus tangan Luciana dengan lembut.


Masuklah dokter, untuk mengecek keadaan Luciana, "pagi pak Leonathan." Sapa dokter tersebut, sambil tersenyum, dan mulai memeriksa Luciana.


"Pagi juga dok." Tersenyum tipis Leonathan, dan Leonathan langsung berdiri, selagi dokter memeriksa Luciana.


Setelah dokter memeriksa Luciana. Dokter tersebut langsung menatap wajah Leonathan, "perkembangannya mulai membaik. Dan sebisa mungkin, berikan istri anda kenangan yang indah, seperti yang saya katakan kemarin. Dengan begitu, istri anda akan cepat bangun dari komanya." Jawab dokter tersebut, kembali tersenyum.


"Terima kasih banyak dok. Saya sangat berterima kasih kepada anda. Saya harap, anda menjalankan tugas anda sebaik mungkin." Ucap Leonathan.


"Baik pak Leonathan. Kalau begitu, saya permisi dulu." Langsung keluar dari ruangan tersebut.


Setelah dokter dan suster pergi. Leonathan kembali duduk, dan menatap wajah Luciana. "Kenangan yang indah. Aku dan Leonathan belum pernah melakukan hal hal yang indah. Karena aku sangat dingin kepadanya. Bagaimana ini." Mengerutkan keningnya.


"Ouh ya, Kai. Dia kan sahabat Luciana dari kecil, dan dia pasti tahu semuanya, tentang hal yang disukai oleh Luciana. Aku harus menghubunginya." Mengambil ponsel Luciana, yang ada disampingnya, dan mencari nomor telepon Kai.


Setelah mendapatkan nomor telepon Kai. Leonathan pun langsung menghubungi Kai.


"Ini Kai kan?" memastikannya.


"Iya, dan ini siapa ya?" jawabnya sekaligus bertanya.


"Saya Leonathan, suami Luciana." jawab Leonathan.


"Ouh, pak Leonathan. Ada apa ya menghubungi saya?" tanya Kai.


"Ada hal yang mau saya tanyakan pada anda. Apa kita bisa bertemu di dekat rumah sakit." Mengajak bertemu.


"Tentu saja, dan kapan bertemunya?" tanya Kai kembali.

__ADS_1


"Nanti malam, bisa kan?"


"Bisa, bisa"


"Kalau begitu, terima kasih banyak, dan sampai bertemu nanti malam." Langsung mematikan ponselnya.


"Apa yang ingin ditanyakan pak Leonathan. Tumben banget dia mau bertemu denganku." Bertanya tanya.


Malam pun tiba. Dimana Leonathan dan Kai sudah bertemu di dekat rumah sakit. Mereka berdua duduk di kursi yang ada. "Apa yang ingin anda tanyakan dengan saya?" tanya Kai duluan.


"Saya mau bertanya soal Luciana. Karena saya mau kesehatannya cepat sembuh." Jawab Leonathan.


"Tanyakan saja pak. Saya siap menjawabnya." Ucap Kai, sambil menaikkan alisnya.


"Apa hal yang disukai oleh Luciana. Saya kurang tahu soal hal hal yang disukainya, termasuk makanan, bunga, atau benda benda lainnya. Karena dia tidak pernah mengatakannya kepadaku. Kan kau adalah sahabat Luciana, dan tentunya tahu, soal hal hal yang disukai oleh Luciana. Bolehkan kau memberitahukannya." Ujar Leonathan.


"Dari kecil Luciana sangat suka dengan hewan hewan yang lucu, apalagi dengan kucing anggora. Luciana sangat menyukainya, karena lucu dan menggemaskan. Dan yang paling ia sukai adalah bunga tulip."


"Karena ibunya sangat menyukai bunga itu. Memang banyak bunga yang lebih cantik dari bunga tulip. Tapi tetap saja dia menyukai bunga tulip, dan dia pernah berkata kalau bunga tulip itu, memiliki arti pengampunan, rasa hormat, kemurnian, dan kehormatan. Itulah kenapa dia sangat menyukai bunga tulip, dan dia ingin hidupnya bahagia suatu saat nanti. Dan akhirnya dia dipertemukan denganmu."


"Dia suka menyembunyikan masalahnya, karena dia tidak ingin merepotkan orang yang ada di sekitarnya. Dia memilih untuk diam, dan untuk membujuknya. Dengan memberinya kasih sayang, dan cinta. Karena yang ia butuhkan, hanya cinta dan kasih sayang."


"Ouh ya, makanan yang paling ia sukai adalah ramen. Kenapa dia begitu menyukai ramen. Karena ibunya juga sangat menyukai ramen, dan sering membuatkannya ramen. Bahkan pada suatu hari, saat ibunya sedang membuat ramen, dan Luciana datang untuk membantu. Dia berhasil membuat mie panjang, bersama ibunya. Dan dia ingin berumur panjang, seperti mie panjang yang ia buat."


"Dan hal lainnya yang ia sukai adalah bertemu dengan anak anak yatim piatu, yang tidak memiliki orang tua. Saat natal datang, disitulah Luciana yang paling heboh, untuk membuat pohon natal, dan menyiapkan hadiah. Bahkan dia pernah berdoa, kalau suatu saat nanti, ia ingin memasang bintang natal dengan sendirinya, bersama keluarga barunya. Aku sangat kasihan dengannya, karena dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa merepotkan siapapun."


"Dia memang sedikit menyebalkan. Tapi kadang kadang menggemaskan. hahahah, maafkan aku. Kalau aku menceritakan Luciana, bawaannya mau sedih. Karena dia benar benar wanita yang baik. Aku hanya berpesan kepadamu. Jangan sakiti hati Luciana, karena yang ia butuhkan hanya kasih sayang dan cinta di dunia ini. seperti kasih sayang kedua orangtuanya kepadanya. Itu saja yang bisa aku sampaikan." Jawab Kai menjelaskannya secara detail, dan menahan air matanya.


Leonathan menundukkan kepalanya, dan membayangkan Luciana.

__ADS_1


"Sayang,


__ADS_2