
"Oh ya, saya minta kamu, tolong ambilkan pakaian Luciana dan ambilkan pembersih wajah yang ada di meja riasnya. Pokoknya semua barang miliknya. Itu saja, dan kamu bisa pergi sekarang. Dan terima kasih kepada semuanya, karena sudah datang untuk menjenguk istri saya." Jawab Leonathan.
"Baik pak. Kalau begitu, kami permisi dulu," semua membungkukkan badannya, dan kembali berdiri, lalu keluar dari ruangan tersebut.
Tapi ada satu orang yang tidak keluar, dan ia adalah Kai. Sontak Leonathan dan Kai saling bertatapan. "Hal apa yang membuat Luciana seperti ini. Dari pertama aku memang tidak bisa mempercayaimu. Kalau kau bisa menjaga Luciana." Tatap Kai, sedikit kesal dengan Leonathan.
"Ini semua urusan saya, dan semua ini adalah sebuah kecelakaan. Mau bagaimana ini. Tapi saya akan menjaga istri saya dengan sebaik mungkin. Dan kenapa anda masih di sini." Jawab Leonathan sekaligus bertanya, sambil menaruh kedua tangannya, dikantung celana masing masing.
Kai menatap wajah Luciana, "kami adalah sahabat yang paling dekat sejak kecil. Saat kecil, Luciana tidak pernah merasakan bagaimana rasanya masuk rumah sakit. Karena kami selalu menjaganya. Kalau ia terjatuh atau apapun itu. Kami akan mengobatinya di rumah. Karena ia tidak ingin menyusahkan siapapun."
"Luciana pernah bilang, kalau saat ia dewasa nanti, ia ingin memiliki suami yang menyayanginya, dan lembut kepada dirinya. Karena Luciana sangat tidak suka dengan pertengkaran. Aku hanya berpesan kepadamu. Cintailah Luciana, walau kadang kau tidak suka dengannya. Karena jika Luciana mencintai seseorang itu.
"Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya, demi orang yang dia cintai. Aku harap kau mendengarkan apa yang aku katakan ini. Kalau begitu, aku permisi." Tersenyum kepada Leonathan, dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
Leonathan terdiam, dan menatap wajah Luciana kembali, "maafkan aku Luciana. Maafkanlah aku." Menundukkan kepalanya, dan memegang tangan Luciana dengan lembut.
Setelah 1 jam berlalu. Rose pun datang, membawa tas, yang berisikan pakaian dan barang lainnya, milik Luciana.
"Permisi pak, ini barang yang bapak minta, semuanya ada di dalam tas ini." Ucap Rose langsung meletakannya di bawah.
"Terima kasih banyak Rose. Kalau begitu, kau bisa kembali ke pekerjaanmu." Ujar Leonathan.
__ADS_1
"Baik pak. Kalau begitu, saya permisi," menundukkan kepalanya, dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
Malam pun tiba. Dimana Leonathan, kembali dicambuki oleh Stefan, atas perintahnya. Leonathan akan terus dicambuki, sampai Luciana sadar.
Dan suster sudah mengganti pakaian Luciana, menjadi pakaian tidur. Setelah Leonathan habis dicambuki. Ia pun memerintahkan Stefan untuk kembali bekerja di perusahaan.
Sedangkan Leonathan langsung masuk ke dalam ruangan Luciana, dan kebetulan suster sudah mengenakan pakaian kepada Luciana.
"Apa semua sudah suster?" tanya Leonathan merapikan pakaiannya.
"Semua sudah beres pak. Oh ya pak, tadi saya menemukan buku ini di dalam tas pakaian tersebut. Saya sama sekali tidak membacanya. Kalau begitu, saya permisi pak." Jawab suster tersebut tersenyum, dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
Leonathan melihat buku tersebut, dan langsung duduk disamping Luciana. "Buku apa ini. Kenapa Rose memasukkan buku ini juga. Sepertinya ini memang milik Luciana." Membuka buku diary tersebut, dan mulai membaca.
"Aku bersyukur banget, karena aku dilahirkan kembali. Sekarang, aku sudah menikah dengan pria yang aku sia siakan di masa lalu, dia adalah Leonathan. Entah kenapa, jika dibandingkan dengan masa lalu dan masa kini. Dia benar benar berbeda, dia sangat susah didapatkan. Tidak seperti di masa lalu dulu, yang dengan mudah dia mencintaiku dulu."
"Tapi itu tidak apa apa, karena aku bisa membuatnya jatuh cinta kepadaku. Ya walaupun harus Dengan kontrak. Tapi aku benar benar menyukainya, dan bahkan mencintainya. Matanya yang indah, bibirnya yang berwarna merah muda. Membuatku semakin jatuh cinta. Biarpun dia dingin kepadaku, tapi dia benar benar menggemaskan. Seperti panda."
Leonathan tertawa tipis, karena ia dibilang mirip panda.
Kembali ke isi buku," aku harap, dia bisa mencintaiku. Ya walaupun pada akhirnya kami akan berpisah juga, karena waktu dari kontrak tersebut. Walaupun pada saatnya kami berpisah nanti. Aku tidak akan sedih, karena aku sudah bersama dengan pria dan seorang malaikat yang begitu menggemaskan."
__ADS_1
"Aku sedikit kesal juga dengan Leonathan. Pada saat aku mendengar, bahwa dia benar benar tidak mencintaiku. Mau bagaimana lagi. Aku ini kan hanya seorang wanita yang hanya menjadi pembimbing bagi malaikat kecilnya. Siapa lagi kalau bukan baby Bing."
"Aku berharap, suamiku bisa mencintaiku, seperti aku mencintainya. Walaupun tidak akan pernah. Tapi aku berharap kepada Tuhan, dia bisa mencintaiku, walaupun beribu ribu abad, dan bertahun tahun abad. Aku akan tetap menunggu dia, yaitu Leonathan. Siapa lagi kalau bukan pria dingin 1000 pintu itu."
"Aku rela menaruhkan nyawaku demi dia, karena aku tidak ingin kehilangannya. Aku benar benar bahagia di kehidupan ini, karena aku bisa bertemu dengan keluarga yang sangat menyayangiku. Karena dari kecil, aku tidak pernah merasakan, apa itu kasih sayang dan cinta. Sejak ibu pergi, dari situlah aku tidak pernah lagi, mendapatkan cinta dan kasih sayang."
"Sampai aku dipertemukan dengan Leonathan. Disitulah hidupku berubah. Kasih sayang, cinta, dan perhatian. Semua aku dapatkan dari keluarganya. Aku benar benar bahagia. Yang terpenting, kalau kita berpisah nanti, jangan lupa untuk menjengukku, karena aku ini kan mantan istri kamu nanti. Tapi hati kecilku berkata, kalau aku tidak ingin cerai darimu, karena aku ingin selalu bersamamu Leonathan. Aku benar benar sudah jatuh cinta denganmu."
"Aku pengen banget dengar kamu manggil aku, dengan sebutan sayang. Saat aku bangun pagi, sedang melakukan aktivitas apapun. Pengen banget rasanya diperhatiin kamu, dimanja. Layaknya seorang istri. Tapi itu hanya mimpi saja, karena kami hanya nikah kontrak. Tapi kau menuliskan ini, bukan karena kontrak. Tapi benar benar dari hatiku yang paling dalam."
"Dan satu lagi. Aku bukan wanita yang pintar dalam memahami cara berpikirmu, bukan juga wanita yang hebat dalam memberi rasa nyaman dan bukan wanita menyenangkan yang bisa memberimu berbagai kejutan indah. Jika kamu mengira aku tidak pernah peduli denganmu, kamu salah. Hal kecil saja yang terjadi kepadamu, aku selalu berpikir bagaimana cara menyikapinya.
"Aku selalu memperhatikanmu dengan cara yang tidak mungkin bisa kamu lihat, dan tidak bisa kamu rasakan. Terima kasih banyak karena sudah bertahan sejauh ini."
"Terimakasih atas kesempatan kesempatan yang kamu berikan. Walaupun kadang sulit aku maafkan dengan baik. Terimakasih atas sabar yang ada dalam batas. Dan maaf atas kekuranganku, semoga kita tetap bersama, walaupun hanya sebentar."
"Aku mencintaimu, suamiku." Terisi didalam buku tersebut.
Air mata pun jatuh diatas buku tersebut, dan Leonathan memeluk buku tersebut dengan erat, dengan air mata yang terus keluar, dan membasahi pipinya.
"Maafkan aku Luciana, maafkan aku. Aku benar benar pria yang bodoh, dan terlalu patuh, terhadap apa yang aku kerjakan. Aku benar benar minta maaf." Menggenggam kedua tangan Luciana, dan meneteskan air matanya kembali.
__ADS_1
"Aku