
"Hm, apa kamu cemburu?" tanya Luciana, sambil tersenyum miring.
"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak mau, kalau kamu dianggap murahan oleh orang sekitarmu. Kau paham kan, aku tidak ingin reputasi kita hancur, hanya karena kesalah pahaman saja." Jawab Leonathan sedikit tegas kepada Luciana.
Sontak Luciana langsung terbeku, dan matanya sedikit melotot, "apa yang kamu katakan tadi. Kamu menganggap diriku ini murahan," ucap Luciana.
"Bukan seperti itu maksudku. Argh, maafkan aku, ini mungkin karena aku kelelahan. Maafkan aku." Meminta maaf Leonathan.
Luciana menundukkan kepalanya, dan langsung menatap wajah Leonathan kembali. "Mendengar kamu mengatakan murahan. Kamu jadi mengingatkan aku tentang masa lalu kelam ibuku. Dulu, ibuku juga sering dikatakan murahan oleh ayah kandungku sendiri, dan selingkuhannya itu. Bahkan setiap hari, ibuku harus mendengar semua hinaan dari mereka berdua. Ibuku terus dikatakan murahan, karena dekat dengan sahabatnya juga. Padahal mereka tidak ada hubungan apapun, dan sahabat ibuku sudah meninggal, akibat kecelakaan."
"Ibuku orang yang selalu mendapatkan hinaan, dan hinaan yang paling menyakitkan hatinya. Ia dikatakan wanita murahan, dan tidak pantas lahir, oleh suaminya sendiri. Akhirnya aku merasakan hal itu juga. Aku dikatakan murahan oleh suamiku sendiri. Jadi begini ya rasanya dikatakan murahan." Ucap Luciana tersenyum tipis dan menahan air matanya.
Sontak Leonathan kaget juga, mendengar cerita Luciana. "Maafkan aku Luciana. Aku tidak sengaja mengatakannya," ucap Leonathan memegang tangan Luciana.
Luciana langsung menarik tangannya kembali, "kalau kamu memang tidak ingin bersamaku lagi. Katakan saja, dan kamu tidak pernah berubah, setelah aku koma," masih menyempatkan dirinya tersenyum, dan langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri, dan tidak masuk ke dalam kamar pribadinya, bersama Leonathan.
Leonathan yang terdiam, hanya bisa menundukkan kepalanya. "Astaga Leonathan. Apa yang kau katakan barusan. Dia pasti akan semakin membencimu. Sial, ini semua karena bawaan aku kelelahan dari perusahaan tadi. Karena tiba tiba saja ada masalah di perusahaan. Jadinya aku terbawa emosi dari perusahaan. Aku harus minta maaf kepada Luciana." Mengerutkan keningnya, dan langsung berdiri di depan pintu kamar Luciana.
Leonathan pun mengetuk pintu kamar Luciana yang dikunci. "Luciana, maafkan aku. Aku tadi terbawa emosi, karena banyak masalah di perusahaan. Tolong jangan marah seperti ini. Aku tidak bisa kalau kamu marah begini." Meminta maaf Leonathan.
"Pergi sana. Aku kan wanita murahan. Cari wanita yang lebih baik dariku. Pergi kamu." Usir Luciana, dengan nada menggertaknya.
"Tidak ada wanita yang sebaik kamu Luciana. Maafkan aku, maafkan atas apa yang aku katakan barusan." Meminta maaf kembali Leonathan.
__ADS_1
Luciana hanya terdiam, dan membiarkan Leonathan terus berbicara. Di kamar Luciana, Luciana menghapus air matanya. "Hahahah, mau saja dia kena prank. Untung air mataku masih banyak. Jadi bisa aku permainkan dia lagi. Heheheh." Tertawa tipis Luciana, dan berbicara pelan pelan.
Luciana pun keluar jendela, dan ke teras yang ada di depan jendelanya. Luciana pun berdiri, sambil melihat langit malam. "Kenapa Leonathan sekarang begitu susah didapatkan ya. Apa ini cobaan untukku, agar aku sabar untuk menghadapinya." Ucap Luciana.
Tiba tiba saja ponsel Luciana berdering, yang ada dikantung celananya. Luciana pun langsung mengambilnya dan melihatnya, "Alvino. Tumben banget menghubungiku," langsung mengangkat teleponnya, yang berupa video call.
"Halo Alvino. Ada apa menghubungiku kakak?" tanya Luciana.
"Kakak. Apa kakak sudah sehat. Bagaimana keadaan kakak sekarang. Apa mau aku bawain ramen kesukaan kakak?" tanya Alvino dengan pertanyaan yang banyak.
"Astaga adikku sayang. Kenapa pertanyaanmu begitu banyak. Kakak baik baik saja. Kamu lihat saja sendiri nih." Jawab Luciana menunjukkan wajahnya yang baik baik saja.
"Ouh ya kak. Apa kakak di luar. Terlihat dari rambut kakak yang beterbangan?" tanya Alvino kembali.
"Kakak jangan di luar. Nanti kakak demam tahu. Omong omong, dimana suami kakak itu?" tanya Alvino terus.
"Suami kakak lagi ada di kamarnya, lagi ada pekerjaan sayang. Kenapa menghubungiku kakak. Apa ada masalah." Jawab Luciana sekaligus bertanya.
"Aku hanya merindukan kakak saja. Dan mau menanyakan kabar kakak. Habisnya kakak tidak pernah menghubungiku lagi. Gini deh kalau sudah sukses." Jawab Alvino, sambil tertawa tipis.
"Hahahah, kamu ada ada saja sih adikku sayang. Kalau begitu, apa besok kita bisa bertemu. Kakak mau mengajakmu makan bersama. Karena sudah lama kita tidak pernah makan bersama. Mau kan." Menawarkannya.
"Mau banget dong kak. Kalau begitu, kakak langsung masuk kembali, dan jangan di luar lagi. Dah kak sayang." Jawab Alvino kembali tersenyum, dan langsung melambaikan tangannya, lalu mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Fyuh, aku jadi merindukan Alvino. Aku tidak menyangka dia sudah sangat besar." Kembali tersenyum Luciana, dan langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.
Di dalam. Luciana berbaring, dan menatap ke atas. "Kenapa tidak ada suara lagi. Apa dia sudah masuk ke dalam kamarnya. Yasudah deh, biarkan saja." Ucap Luciana, sambil membalikkan bola matanya sebentar.
Disisi lain. Di kamar Leonathan, "bagaimana agar Luciana tidak ngambek lagi ya. Lagian sih kau Leonathan. Mengatakan hal yang seperti itu. Ini semua karena terbawa emosi. Astaga." Mengerutkan keningnya, dan membuka ponselnya.
"Ouh ya. Bunga tulip, kan Luciana sangat menyukai bunga tulip. Lebih baik aku memberikannya bunga tulip lagi. Tapi dengan warna yang berbeda lagi. Agar Luciana suka, dan mulai sekarang, aku akan memanggilnya dengan sebutan sayang. Kau harus belajar Leonathan. Karena Luciana adalah istrimu, dan dia butuh perhatianmu." Ucap Leonathan bersikeras.
Leonathan berdiri, dan memegang kedua tangannya, sambil mondar mandir. "Luciana, aku minta maaf ya."
"Tidak cocok. Luciana aku minta maaf atas semua perkataanku." Ucapnya kembali.
"Sa, sayang. Aku minta maaf sama kamu sa, sayang." Ucapnya bertele tele, karena menyebutkan panggilan sayang.
"Argh, kenapa malah seperti ini sih. Begini kalau tidak pernah memanggil sayang, dengan orang." Ucap Leonathan sambil mengerutkan keningnya.
Keesokan paginya. Dimana Leonathan sudah menyuruh Stefan, untuk meletakkan bunga tulip di depan kamar Luciana. Dan depan kamar Luciana penuh dengan bunga tulip kesukaan Luciana.
Disisi lain. Di dalam kamar Luciana. "Aku gak mau keluar kamar deh. Hari ini aku gak ke perusahaan dulu deh. Malas banget," ucap Luciana langsung mengirim pesan kepada Rose.
Di luar kamar Luciana. Leonathan mengetuk pintu kamar Luciana. "Sayang, aku minta maaf kepadamu," ujar Leonathan dengan wajahnya yang memerah.
"Eh, sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan sayang. Apa dia kesambet, atau hanya siasatnya saja." Ucap batin Luciana sedikit kaget dengan yang dikatakan Leonathan.
__ADS_1
Di luar kamar Luciana. Leonathan