
Pakaian pun langsung di tarik dari raknya. Dan terlihat pakaian yang dipenuhi dengan permata, mutiara dan emas, di setiap pakaiannya.
"Astaga, ini sangat indah. Ini pasti akan cocok kami letakkan sebagai brand kami. Di mana model model nya, saya ingin melihatnya di pakai?." Tanya tuan Adelio kepada Luciana.
Luciana pun memberi kode tepuk tangan, dan keluarlah model model yang sudah Luciana pilih, termasuk Rose.
"Astaga, mereka benar benar seperti model. Dari gaya nya saja, sudah sangat bagus. Aku suka ini." Puji tuan Adelio, sangat puas melihatnya.
"Terima kasih banyak tuan. Saya sangat berterima kasih juga kepada anda, karena mau bekerjasama dengan perusahaan kami ini." Ikut tersenyum Luciana.
"Kalau begitu, Gita, dan yang lainnya. Cepat bantu mereka untuk mengenakan pakaian ini di ruang ganti. Get up." Perintah Luciana.
"Baik bu bos." Ucap semuanya langsung ke ruang ganti.
Tuan Adelio dan Luciana, langsung duduk dan mengobrol. "Tanpa basa basi, langsung saja urus kerjasama kita ini. Dan kebetulan, beberapa hari lagi, akan ada fashion show di perusahaan kami. Saya harap, anda bisa datang, untuk memamerkan pakaian hasil desain anda." Ucap tuan Adelio sambil menyilangkan kakinya.
"Tentu suatu kebahagiaan bagi saya, karena saya dapat hadir di acara yang sangat terhormat itu. Kalau begitu, anda bisa langsung tanda tangan di sini saja, untuk kerjasama kita." Sahut Luciana menunjukkan berkas penanda tanganan.
Adelio langsung menanda tanganinya. "Semoga kedepannya, kita bisa lebih baik lagi." Merekapun berjabat tangan bersama.
Gita keluar dari ruang ganti. "Semua sudah siap bos." Ucap Gita, sambil membungkukkan badannya, untuk memberi salam terlebih dahulu.
"Suruh mereka keluar." Perintah Luciana kembali.
Gita pun langsung memanggil model model tersebut. Dan mereka langsung keluar dengan elegan, dengan busana yang sudah di buat khusus dari Luciana.
Model model tersebut, langsung menunjukkan gayanya masing masing. Dan tuan Adelio bertepuk tangan dengan sopan.
"Beautiful and handsome. Bagaimana Anda melatih model model ini, sehingga sebagus ini?." Tanya tuan Adelio.
"Tentu dengan kerja keras dan dari diri kita sendiri. Maka sebab itu, mereka bisa menunjukkan bakat mereka." Jawab Luciana kembali tersenyum.
"Baguslah. Aku memang sudah setuju dengan anda nona Luciana. Saya sudah sangat tertarik dengan perusahaan anda ini. Karena saat saya masuk, saya sudah disambut langsung, oleh pengawal dan karpet merah. Sungguh suatu kebanggan bagi para desainer. Kalau begitu, semoga anda datang di acara saya nanti. Berjabat tangan." Ucap tuan Adelio, kembali berjabat tangan dengan Luciana.
__ADS_1
"Mari pak, saya antarkan ke depan perusahaan." Kata Luciana.
Malam pun tiba. Dimana Luciana belum pulang dari perusahaan, karena membereskan semua busananya.
"Ouh ya Rose. Tolong besok kamu rekap lagi dari Perusahaan Queen Dress. Karena brand lain, akan datang ke Perusahaan Queen Dress. Kamu mengerti." Ucap Luciana sambil melipat kedua tangannya.
"Baik nyonya." Membungkukkan badannya, dan tersenyum.
"Kalau begitu, kita pulang sekarang. Aku sudah sangat mengantuk." Langsung menyandang tasnya, dan keluar dari perusahaan, dan langsung menuju rumahnya.
Sesampai di rumah. Luciana pun keluar dari mobil, dan langsung masuk ke dalam.
"Salam nyonya." Salam semua pelayan yang ada, langsung menundukkan badannya.
"Tolong kamu siapkan susu hangat, dan antarkan ke kamar. Saya mau mandi dulu." Perintah Luciana, langsung naik ke lantai atas, untuk ke kamarnya bersama Leonathan.
Di dalam kamar, ternyata sudah ada Leonathan, yang sedang membaca buku. "Malam sayang." Sapa Luciana meletakkan tasnya di meja, dan duduk di samping Leonathan.
Leonathan pun menatapnya. "Kenapa malam banget pulang nya. Kamu kan punya tugas, untuk merawat dan menjaga baby Bing. Apa kamu sudah melupakan soal kontrak?." Tanya Leonathan dengan serius.
"Sudahlah, kamu mandi sana. Setelah itu tidur, karena tidak bagus kamu begadang." Perintah Leonathan.
"Baik sayang, kalau begitu aku mau mandi dulu." Kata Luciana mencium pipi Leonathan, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Luciana di kamar mandi. Leonathan langsung memegang pipinya. "Dia benar benar wanita yang gila. Aku bisa jatuh cinta dengannya." Ucap batin Leonathan menutupi wajahnya, dengan tangan kanannya.
Selesai mandi, Luciana pun sudah mengenakan baju dinas, dan ia duduk di depan meja rias.
Luciana mengeringkan rambutnya yang basah. "Ehm, soal kembali ke rumah ayah. Besok saja bagaimana sayang. Apa kamu mau?." Tanya Luciana, sambil mengeringkan rambutnya.
"Terserah kamu saja, yang terpenting kamu bahagia." Jawab Leonathan kembali dingin.
"Dan di meja itu ada susu hangat yang kamu minta pelayan untuk membuatkannya. Di minum." Ucap Leonathan kembali.
__ADS_1
"Tentu saja sayangku, cintaku." Sahut Luciana, langsung meminum susu hangat tersebut, sampai habis.
Luciana menghela nafas panjang, sambil menatap wajah Leonathan. "Sabar Luciana, kamu akan bisa meluluhkan hatinya itu. Suatu saat nanti, kamu tidak akan bisa melepaskanku. Kita lihat saja nanti, sampai dimana kemampuan dingin kamu itu." Ucap batin Luciana tersenyum tipis.
Selesai mengeringkan rambutnya, dan sudah meminum susu hangatnya. Ia langsung berbaring di tempat tidur, dan tidur di samping Leonathan.
"Selamat malam sayangku. Aku cinta kamu." Bisik Luciana ditelinga Leonathan, dan langsung membelakangi Leonathan. Luciana pun menutup kedua matanya, dan tertidur.
Disisi lain, Leonathan menatap belakang punggungnya, dan memegang beberapa rambut Luciana, dan mengendusnya.
"Rambutnya begitu harum. Kenapa jantungku jadi berdetak kencang begini ya. Apa aku benar benar mencintai nya?." Bertanya tanya Leonathan, dan langsung membalikkan badannya.
"Entah apa yang muncul di benakku ini. Tapi kalau di lihat lihat, sepertinya aku benar benar menyukainya. Aku tidak bisa mengatakannya, karena kalau aku mengatakannya. Berarti aku mengingkari kontrak nikah, yang sudah aku buat sendiri. Sial." Ucap batin Leonathan kembali, sedikit menyesal, dan langsung menutup kedua matanya.
Keesokan paginya. Dimana Luciana sudah bangun, dan seperti biasanya, Leonathan sudah tidak ada disampingnya.
Luciana pun langsung duduk, dan mengikat rambutnya. Luciana turun dari tempat tidurnya, dan keluar dari kamar.
Luciana turun dari tangga, menuju meja makan. "Pagi sayang." Sapa Luciana langsung duduk di samping baby Bing.
"Pagi mami sayang. Mami cantik banget pagi ini." Puji baby Bing sambil tersenyum bahagia.
"Hahahah, mami kan memang cantik sayang. Tapi, papi kamu lebih tampan. Hahahah." Ucap Luciana menggoda Leonathan.
"Huk, uhuk." Langsung batuk Leonathan.
"Kamu kenapa sayang?." Tanya Luciana, langsung mendekati Leonathan, dan tanpa sadar, memegang paha Leonathan.
Leonathan tambah kaget, dan langsung menjauh dari Luciana. "Aku hanya tersedak saja. Setelah minum, akan lebih baik." Jawab Leonathan memalingkan wajahnya, karena pipinya yang sedikit memerah.
"Dia sedang salting. Tapi dia berusaha tidak memperlihatkannya. Benar benar menggemaskan." Ucap batin Luciana tersenyum tipis.
"Mami kenapa senyum begitu. Apa aku kurang menggemaskan daripada papi. Awas saja kamu papi." Ucap batin baby Bing kesal.
__ADS_1
Tiba tiba saja ponsel seseorang berdering, dan itu adalah panggilan dari