
Sontak Luciana dan baby Bing langsung menatap wajah Leonathan. "Kamu kenapa. Aneh memang, yakan sayang." Ucap Luciana kembali menatap wajah baby Bing, dan kembali menyuapinya.
Baby Bing melirik Leonathan, dan mengejeknya. "Anak ini membuatku kesal. Sabarlah Leonathan, sabar." Ucap batin Leonathan kembali mengunyah makanannya.
Selesai makan. Baby Bing mengucapkan selamat malam kepada Luciana dan Leonathan. "Selamat malam mami, dan papi." Melambaikan tangannya, dan langsung masuk ke kamarnya.
"Selamat malam juga sayang." Ikut melambaikan tangannya, dan masuk duluan ke kamar, dan belum ada berbicara dengan Leonathan kembali.
Di dalam kamar. Leonathan duduk di tempat tidurnya, sedangkan Luciana duduk di meja belajar. Dan mengambil laptopnya. "Aku harus menghubungi teman teman Alvino. Karena kemarin aku sibuk, jadi lupa mengabari mereka berdua." Ucap batin Luciana mengambil ponselnya, dan langsung menghubungi mereka.
"Kenapa dia menyueki diriku. Apa dia benar benar ngambek denganku. Biarkan saja deh, lebih baik aku tidur." Ucap batin Leonathan langsung berbaring, dan membelakangi Luciana.
Luciana meliriknya. "Ehm, benar benar tidak mau kalah juga. Tapi aku malah ingin semakin membujuknya juga. Walaupun aku yang pura pura ngambek. Sudahlah, nanti saja." Ucap batin Luciana melihat desain yang sudah di buat oleh desainer dari perusahaan Queen Dress.
Tersambung. "Halo Hyuna," panggilnya.
"Eh, kak Luciana. Ada apa kak?." Tanya Hyuna langsung.
"Ini, kakak lupa kalau kakak ada janji dengan kalian waktu itu. Maaf banget ya. Bagaimana kalau besok kalian datang ke Perusahaan Queen Dress. Karena di sana, kalian akan langsung di ukur untuk ukuran badan kalian. Karena beberapa bulan lagi, akan ada fashion show yang akan di lakukan di kota ini. Jadi sampaikan kepada Amanda dan Max ya. Itu saja sih." Jawab Luciana sambil tersenyum.
Disisi lain. "Perusahaan Queen Dress. Kenapa dia bisa bekerja sama dengan perusahaan itu. Apa dia membelinya." Ucap batin Leonathan yang tidak bisa tidur, dan bertanya tanya.
"Sudahlah, lagian itu juga kemauan dia. Jadi terserah dia, dan itu tidak ada sangkutannya kepadaku." Ucap batin Leonathan kembali.
"Baik kak, akan aku sampaikan kepada mereka berdua. Itu saja kan kak?." Tanyanya kembali untuk memastikannya.
__ADS_1
"Itu saja kok, kalau begitu, kakak tutup telponnya ya sayang. Dah." Jawab Luciana, langsung mematikan ponselnya.
"Okey, semua sudah beres. Dengan begitu, aku akan mendapatkan uang banyak, dan semua brand terkenal, akan bekerjasama denganku. Hahahah, Luciana memang pintar." Ucap batin Luciana bahagia, sambil melihat desain pakaian yang akan ia ekspor.
"Ehm, ini bagus juga nih. Aku akan menyimpannya, dan akan mengurusnya saat rapat besok deh. Luciana memang pintar." Mengedipkan sebelah matanya dan senyum sendiri.
Luciana melirik Leonathan yang sudah tidur, padahal ia belum tidur. "Ehm, Leonathan benar benar orang yang sangat tidak mau kalah dengan siapapun. Lihat saja nanti, kalau seandainya kau luluh ditanganku. Habis kamu aku terkam." Ucap batinnya kembali.
"Okey, semua sudah aman dan siap untuk aku tunjukkan kepada direktur. Kalau begitu, saatnya tidur." Langsung menutup laptopnya, dan menuju tempat tidur.
"Dia datang, aku harus terlihat tidur. Agar dia tidak curiga, kalau aku pura pura tidur." Ucap batin Leonathan langsung menutup kedua matanya.
Luciana pun langsung berbaring di tempat tidurnya, dan menatap atas. "Aku sangat beruntung, karena aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai. Aku harap kami akan terus bersama, walaupun ini hanya nikah kontrak, dan tidak akan bertahan lama. Tapi aku sangat beruntung, bisa hadir di keluarga yang bahagia ini, yang tidak pernah aku rasakan selama ini." Ucap Luciana sambil tersenyum dan menunjukkan jarinya, yang terlihat cincin pernikahannya.
Tiba tiba saja Luciana mengecup kening Leonathan. "Selamat malam sayangku, walaupun kita sedang marahan. Tapi, aku sayang kamu." Ucap Luciana langsung menyampingkan badannya, dan langsung menutup kedua matanya.
Sontak Leonathan kaget, dan langsung membuka matanya. "Apa aku terlalu jahat dengan wanita yang benar benar tulus mencintaiku. Ini hanya nikah kontrak, dan sebentar lagi kami juga akan berpisah. Kenapa aku sedikit tidak rela, kalau wanita ini meninggalkanku. Apa aku mulai menyukainya juga. Argh," langsung menutup kedua matanya, dengan pipinya yang memerah.
Keesokan paginya pun tiba, dimana Luciana sudah bangun, dan sedang membuat sarapan pagi.
"Kebetulan aku bangun pagi nih. Entah kenapa aku lebih semangat dari kemarin. Tapi aku dan Leonathan, belum sama sekali berbicara. Nanti coba ajak bicara deh." Ucap batin Luciana yang sedang memotong bawang merah.
Karena asyik melamun. Sontak jarinya terkena pisau, dan darah langsung keluar dari jari jempolnya. "Auh," ucapnya.
Leonathan yang baru saja datang, langsung melihat jari Luciana yang berdarah. "Dasar bodoh." Ucap Leonathan meriah tangannya, dan mengisap jari Luciana yang mengeluarkan darah tersebut.
__ADS_1
Sontak Luciana sedikit kaget, dan langsung menatapnya, yang mengisap jari jempolnya yang berdarah. Dan itu membuat pipi Luciana memerah. "Apa sudah tidak sakit?." Tanya Leonathan yang sudah mengisap darahnya, agar tidak keluar lagi. Dan langsung membersihkannya dengan kain bersih.
"Argh, aku salting sayang." Jawab Luciana langsung memeluknya.
"Eh, aku bertanya, apakah sudah tidak sakit. Kenapa tiba tiba memelukku." Ucap Leonathan langsung mendorongnya.
"Di masa lalu, aku sudah sering seperti ini. Bahkan lebih dari ini, maka sebab itu, aku tidak terlalu sakit. Dan malah biasa saja. Tapi kalau di depan Leonathan, aku harus berpura pura sakit, agar aku dimanja olehnya." Ucap batin Luciana tersenyum tipis.
"Tidak sakit kok, aman sayang." Jawab Luciana mengedipkan sebelah matanya.
"Gadis ini benar benar tidak ada malunya untuk terus menggodaku." Ucap batin Leonathan langsung duduk di kursi biasanya.
"Lain kali lebih hati hati. Kalau terkena lebih dari itu tadi. Bagaimana." Ujar Leonathan kembali cuek.
"Tinggal aku berikan kamu saja deh, biar kamu hisap tangan istri kamu ini. Heheheh." Jawab Luciana tertawa tipis, dan kembali membuat sarapan.
"Kamu duduk saja lah. Biar aku yang membuat sarapan pagi. Tangan kamu sudah seperti itu, masih saja mau membuat sarapan. Awas." Ucap Leonathan langsung berdiri.
"Baiklah sayang, aku akan duduk dengan tenang. Sambil menatap wajah suamiku yang tampan ini." Jawab Luciana menurut, dan langsung duduk di bekas kursi yang diduduki oleh Leonathan.
"Aku ingin terus dimanjakan olehnya. Tapi aku tidak mau itu, karena aku mau kalau ia yang manja denganku. Agar aku bisa melalukan hal yang membuatnya tergila gila denganku. Hahahah, termasuk di ranjang." Ucap batin Luciana senyum senyum sendiri.
Leonathan pun langsung mengenakan celemeknya, dan memulai membuat sarapan, dari bahan bahan yang sudah dibuat oleh Luciana.
"Dia
__ADS_1