
Dan saat mau kembali ke dapur. Tiba tiba ia dipanggil oleh Leonathan. "Bi." Panggil Leonathan yang menghampirinya.
"Eh, tuan Leonathan. Ada apa ya tuan?." Tanya bibi langsung.
"Luciana mau ke mana itu bi?." Tanya balik Leonathan.
"Entahlah pak, karena nyonya bilang kalau ia mau pergi, ada urusan. Gitu tuan. Saya tidak tahu, nyonya mau ke mana." Jawab bibi pelayan tersebut.
"Yaudah deh bi, terima kasih banyak. Saya mau langsung pergi juga ke perusahaan." Ucap Leonathan keluar dari rumah, dan di luar rumah.
Leonathan langsung masuk ke dalam mobil. "Pak, ikuti mobil istri saya." Perintah Leonathan.
"Baik tuan." Menurut saja, dan mengikuti mobil Luciana dari belakang.
Di perjalanan. Luciana melihat ada toko bucket bunga mawar putih. "Pak, tolong berhenti di sini pak. Saya mau beli bunga dulu." Ucap Luciana kepada pak supir.
"Baik nyonya." Langsung memberhentikan mobilnya.
Di belakangnya. "Nyonya berhenti di toko bunga tuan." Ucapnya.
"Yaudah, berhenti dulu. Kalau sudah berangkat kembali, baru kita ikuti lagi. Kita di sini dulu, untuk melihatnya." Jawab Leonathan sambil menyilangkan kakinya.
"Kenapa dia berhenti di toko bunga. Dia membeli bunga untuk siapa?." Ucap batin Leonathan bertanya tanya.
Disisi lain. Luciana melihat lihat bunga mawar putih tersebut. "Ehm, ini sangat harum. Aku suka baunya. Kalau begitu, saya mau 1 bucket ini ya pak." Langsung memberikan bucket bunga tersebut.
"Baik kak. Totalnya semua hanya 50 ribu saja kak." Jawab penjual tersebut.
"Ouh, ini pak uangnya." Memberikan uang cash.
__ADS_1
Setelah Luciana membeli bunga. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil lagi, dan mobil tersebut kembali berangkat menuju pemakaman.
Dan mobil Leonathan pun mengikutinya kembali. "Ke mana dia sebenarnya. Kenapa jalan ini menuju jalan pemakaman." Ucap Leonathan sedikit bingung.
Sampailah dia sebuah pemakaman besar. "Kan, ini kan pemakaman. Apa dia mau menjenguk ibunya. Pasti itu." Ucap batin Leonathan kembali.
"Apa tuan mau turun?." Tanya pak supir.
"Tentu saja, kau di sini dulu. Saya mau melihat istri saya dulu." Jawab Leonathan langsung keluar dari mobilnya dan menyusul Luciana dengan sembunyi sembunyi, di balik pohon besar.
Disisi lain. Luciana langsung keluar dari mobilnya, dan kebetulan mobil masih sedikit jauh dari pemakaman, karena tempat pemberhentiannya adalah tempat parkiran.
Luciana pun harus berjalan kembali, untuk menuju pemakaman ibunya yang cukup jauh.
Luciana pun mulai berjalan, sambil membawa bucket bunga mawar tersebut. "Di mana ya makam ibu, aku lupa lagi. Karena sekarang banyak batu nisan baru. Jadinya tergeser deh pemakaman ibu." Ucap Luciana mencari cari.
"Tapi itu tidak masalah deh, karena aku sangat tanda dengan makam ibu. Ada tanaman bunga mawar merahnya di belakang batu nisan ibu. Jadi mudah dikenali deh. Dengan begini, kan aku gampang cari ibu." Tersenyum bahagia Luciana.
Sesampainya. "Siapa sih pria ini. Beraninya dia menangisi makam ibuku. Siapa dia." Ucap batin Luciana.
"Hey kamu, kenapa kamu ada di makam ibu aku." Tanya Luciana sambil menepuk pundak pria tersebut.
Dan tiba tiba saja, pria tersebut membalikkan wajahnya dan melihat ke arah Luciana. Sontak Luciana sedikit kaget. "Eh, kenapa wajahnya sangat mirip dengan Kai." Bertanya tanya Luciana.
Pria tersebut langsung berdiri, dan menatap wajah Luciana, sambil mengusap air matanya. "Kamu, kamu Luciana kah?." Tanya pria tersebut kembali mengusap air matanya.
"Eh, dari mana kamu tahu nama saya. Kamu siapa sih sebenarnya." Tanya Luciana kembali.
"Kamu benar Luciana kan. Aku gak salah ini kan?." Memastikannya.
__ADS_1
"Iya, saya Luciana. Kamu siapa, sampai tahu nama saya. Jangan jangan kamu hacker ya?." Jawab Luciana sekaligus bertanya.
Pria tersebut langsung memeluk Luciana. "Akhirnya aku menemukanmu Luciana. Aku sudah lelah mencarimu Luciana." Tangis pecah pria tersebut.
Luciana langsung melepaskan pelukan pria tersebut. "Saya masih bingung. Kamu siapa sih?." Tanya Luciana benar benar bingung dengan pria tersebut.
"Kamu benar benar melupakanku. Aku Kai, sahabat kecil kamu Luciana. Kamu gak ingat kita sering main hujan hujanan, dan sering bermain kejar kejaran." Jawab pria tersebut.
"Hah, kamu Kai. Ini Kai sahabatku dulu. Astaga, kau kemana saja Kai." Tangis Luciana langsung memeluk Kai, dan mereka berpelukan, sambil meneteskan air mata rindu.
"Kan sudah aku katakan, waktu itu aku dan kedua orangtuaku pergi ke luar negeri. Dan ternyata kami pergi ke Amerika. Dan sekarang aku sudah sukses. Aku sangat merindukanmu Luciana." Jawab Kai ikut menangis, sambil memeluk Luciana dengan erat.
"Dasar bodoh. Kenapa kau baru kembali sekarang, dan bukannya dari dulu. Dasar payah." Ucap Luciana memukul perut Kai.
"Mana mungkin aku kembali saat aku belum sukses, dan belum tampan. Bisa bisa aku diejek si gendut lagi, oleh mu. Hahahah." Jawab Kai sambil tertawa.
Luciana pun langsung melepaskan pelukan tersebut dan mengusap air matanya. "Hahahah, kau masih sama saja seperti dulu ya. Kapan kau kembali ke mari?." Tanya Luciana kembali, sambil berjongkok dan mengelus batu nisan ibunya.
Kai pun ikut jongkok di samping Luciana. "Aku baru sampai, dan aku langsung ke mari deh. Karena aku merindukan ibumu, dan kan aku yang paling disayang oleh ibu mu. Hahahah." Jawab Kai kembali, sambil tertawa.
"Iya deh, si paling disayang." Ucap Luciana membalikkan bola matanya, dan kembali ke semula. Luciana pun meletakkan bucket bunga yang ia beli, di atas makam ibunya.
"Bu, ibu pasti bahagia di sana kan bu. Luciana berharap, ibu baik baik saja di sana, dan terus tersenyum. Ibu jangan terlalu memikirkan aku. Karena sekarang aku sudah menikah, dan sangat bahagia. Tentu aku akan ikut bahagia, kalau ibu bahagia di sana. Sekarang, aku sudah memiliki keluarga yang mengerti aku. Suami yang baik, dan anak yang sangat menyayangiku." Curhat Luciana kepada ibunya.
"Maaf kalau Luciana baru datang ya bu, dan tidak mengajak keluarga baru Luciana. Karena suami Luciana sangat sibuk di perusahaannya. Dan anak aku juga masih sekolah. Lain waktu Luciana akan memperkenalkannya kepada ibu. Aku sayang ibu." Mencium batu nisan ibunya, dan kembali berdiri, dengan diikuti oleh Kai.
"Kau sudah menikah Luciana. Yang benar saja?." Tanya Kai sedikit kaget.
"Iya Kai. Maaf aku tidak memberitahukanmu, karena aku tidak mempunyai nomor mu. Jadi aku bingung bagaimana menghubungimu. Maaf mendadak begini." Jawab Luciana sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Padahal dulu kita berjanji, kalau ketika juga dewasa. kita akan