
Saat Luciana hendak menghampirinya. Tiba tiba ia melihat ada seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam, dan menutup wajahnya dengan topeng. Pria misterius tersebut, membawa semua tongkat baseball.
Luciana yang menyadarinya, langsung berlari kencang ke arah Leonathan. "Awas," teriak Luciana dan ia langsung mendorong Leonathan ke tanah, dan pria tersebut malah memukul Luciana dengan keras.
Sontak Leonathan kaget, dan melihat Luciana yang jatuh. Leonathan menahan Luciana agar ia tidak jatuh ke tanah.
"Pengawal, tangkap dia." Tegas Leonathan sampai matanya hampir keluar.
Pria misterius langsung lari, dan pengawal langsung keluar dari perusahaan dan mengejar pria misterius tersebut.
Disisi lain. Leonathan menatap wajah Luciana, "aku mencintaimu sayang." Ucap Luciana tersenyum dan langsung pingsan, dan banyak darah yang keluar dari kepalanya.
"Luciana, bangunlah. Luciana," panggil Leonathan menyadarkannya.
Leonathan pun mengambil ponselnya, dan menghubungi Stefan dan ambulance.
Akhirnya Luciana di larikan ke rumah sakit. Dan di rumah sakit, Leonathan benar benar panik. "Bapak tenanglah. Biar kami yang menangani ini semua. Bapak bisa menunggu di luar dulu." Ucap suster, dan dokter. Lalu Luciana di bawa ke ruang gawat darurat.
Leonathan memasang ekspresi sangat cemas, "kenapa kau mau membantuku seperti itu. Nyawamu kan bisa menjadi taruhannya. Sial, dasar Leonathan bodoh." Memukul kepalanya sendiri, dan marah kepada dirinya sendiri, karena tidak bisa menjaga Luciana.
Stefan pun datang, karena dihubungi oleh Leonathan tadi. "Permisi tuan. Apa nyonya sudah di bawa ke ruang gawat darurat?" tanya Stefan ikut cemas.
"Sudah, dan bagaimana dengan pria misterius itu. Apa sudah ketangkap?" jawab Leonathan sekaligus bertanya.
"Dia sudah tertangkap tuan, karena pengawal tersebut menembak bagian kakinya. Sekarang dia kami bawa ke sebuah ruangan kecil di dekat perusahaan." Jawab Stefan dengan jelas.
__ADS_1
"Baguslah. Jangan sampai dia lolos, dan berikan siksaan kepadanya. Karena dia sudah melukai istriku!" tegas Leonathan kepadanya.
"Baik tuan. Oh ya tuan, tadi saya mengambil bekal yang dibawa oleh nyonya tadi. Kalau begitu, saya permisi dulu." Langsung pergi, dan melaksanakan perintah Leonathan.
Leonathan pun duduk, dan melihat ada sebuah kertas diatas bekal tersebut. Ia pun mengambil kertas tersebut, dan membacanya.
isi kertas tersebut, "halo sayang, eh maksudnya tuan Leon. Ini aku ada bekal untuk kamu, dan ini adalah makanan kesukaan kamu lho. Sebenarnya aku membuatnya ini dengan penuh cinta. Aku gak tahu kalau kamu akan makan atau tidak. Yang terpenting aku membuatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Aku mencintaimu tuan Leon. Salam Luciana."
Leonathan pun menundukkan kepalanya, dan menampar pipinya sendiri. "Dasar Leonathan bodoh. Bodoh," marah kembali dengan dirinya sendiri.
"Dia benar benar mencintaiku. Tapi aku malah mempermainkannya seperti itu. Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi diriku. Dasar Leonathan bodoh." Kembali menampar pipinya kembali.
Tibalah dokter keluar dari ruang gawat darurat, dan dokter tersebut menghampiri Leonathan. "Apa anda keluarga dari pasien?" tanya dokter kepada Leonathan.
Leonathan menaikkan kepalanya, dan langsung berdiri, "iya pak, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya pak?" tanya Leonathan.
"Sampai separah ini. Maafkan aku Luciana," ucap batinnya.
"Baik dok. Lakukan dengan sebaik mungkin, dan cepat lakukan tindakan operasi. Saya mau kalau istri saya sembuh." Tegas Leonathan kepada dokter tersebut.
"Kalau begitu, anda bisa membayar uang administrasi nya dulu, dan setelah itu, kami akan langsung melakukan tindakan operasi." Jawab dokter tersebut, sambil tersenyum tipis.
"Baik dok."
Keesokan paginya. Dimana sudah selesai dilakukannya tindakan operasi, dan baru saja selesai pelaksanaan operasi tersebut, dari kemarin sore.
__ADS_1
Leonathan sedang duduk disamping Luciana yang masih koma. "Maafkan aku Luciana. Maafkan aku, karena aku adalah pria terbodoh di dunia ini, yang tidak bisa mengerti perasaan wanita." Ucapnya terus merasa menyesal.
Tiba tiba ada yang datang, dan ia adalah ibu Leonathan. Leonathan sudah memberitahukan kepada semuanya, kalau Luciana masuk rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Luciana sekarang?" tanya ibunya sambil mengelus tangan Luciana.
"Sudah dilakukan tindakan operasi. Tapi Luciana masih koma bu." Jawab Leonathan dengan wajah sedih.
"Ini semua salahmu nak. Kan sudah ibu katakan, kalau Luciana benar benar mencintaimu. Dan yang ia butuhkan hanya cintamu. Kamu tahu itu. Ibu hanya heran kepadamu, kenapa kamu membiarkan anak sebaik dan sesayang ini kepadamu, jadi seperti ini. Ibu harap kamu sadar nak, bahwa Luciana benar benar mencintaimu."
"Ibu sedikit kecewa denganmu. Karena kamu tidak mendengar perkataan ibu waktu itu. Ibu benar benar kecewa denganmu. Ibu harap, kamu berubah, dan mulai mencintai Luciana. Tapi, itu tidak ada gunanya, karena kau tidak akan pernah berubah. Ibu benar benar kecewa denganmu." Kecewa ibunya, langsung keluar dari ruangan tersebut, karena merasa kasihan dengan Luciana.
Leonathan terdiam sebentar, sambil menundukkan kepalanya. "Benar yang dikatakan ibu. Seharusnya aku sadar, dan tidak terlalu memfokuskan ke kontrak itu. Padahal sebenarnya aku mencintai Luciana. Tapi aku harus janji dengan apa yang aku tuliskan dikontrak itu. Tapi sekarang, aku tidak akan peduli lagi dengan kontrak itu. Aku harus fokus menjaga Luciana, dan sekarang aku benar benar mencintaimu Luciana." Mengelus kedua tangan Luciana, dan sangat cemas dengannya.
Tiba tiba ponselnya berdering, dan Leonathan langsung mengambilnya. Dan panggilan tersebut dari Stefan.
"Halo Stefan, ada apa?" tanya Leonathan, sambil memegang kedua tangan Leonathan.
"Begini tuan. Kami sudah menemukan pria misterius tersebut. Dan pria tersebut itulah, yang mengirimkan kotak misterius juga. Dan bukan itu saja tuan. Dia juga mencuri gaun berlian di Perusahaan nyonya. Kami sudah menahannya tuan." Jawab Stefan dengan jelas.
"Siapa nama pria itu?" tanya Leonathan sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Namanya adalah Erland tuan. Ia adalah mantan manager dari perusahaan nyonya, dan ia mengatakan, kalau dia dendam kepada nyonya dan ingin menghancurkan keluarga tuan. Sekarang dia sedang kami pukuli, dan kamu rekam kejujurannya, agar dia cepat dimasukkan ke dalam penjara.
"Baiklah. Aku mau kalian urus semuanya, dan jangan sampai wajah dia terlihat lagi di kota ini. Kalau begitu, saya tutup telponnya." Langsung mematikan ponselnya, dan kembali fokus kepada Luciana.
__ADS_1
"Luciana. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Banyak hal yang kamu sembunyikan dariku. Masalah apapun itu, seharusnya kamu ceritakan kepadaku. Jangan dipendam seperti ini. Mungkin karena sikapku yang seperti ini. Jadinya kamu tidak mau memberitahukannya. Maafkan aku." Menundukkan kepalanya kembali, sambil menggenggam kedua tangan Luciana.
Tiba tiba ada yang datang, dan ia adalah