Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku

Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku
Episode 123: Ibu Bora


__ADS_3

"Oh ya Rose. Kan kamu ada memasang kamera mini di ruangan Gita kan?" tanya Luciana.


"Benar nyonya," jawab Rose sambil menganggukkan kepalanya.


"Baguslah. Kalau begitu, nanti kirimkan rekaman dari kamera di ruangannya itu. Sepertinya ada bukti di sana. Dengan begitu, kita akan tahu, apa dia sedang berbohong, atau justru sebaliknya." Ucap Luciana.


"Baik nyonya. Nanti akan saya kirim secepatnya," jawab Rose langsung menundukkan kepalanya, dan menaikkan kepalanya kembali.


"Kalau begitu, saya mau ke Perusahaan Queen Dress dulu. Kalian kerjakan pekerjaan dengan baik. Saya duluan." Ujar Luciana keluar dari ruangan tersebut, dan bergegas ke Perusahaan Queen Dress.


Luciana pun langsung berangkat menuju perusahaannya. Di perjalanan, "aku akan mengetahui sifat aslimu itu Gita. Tidak akan lama lagi, kaulah yang akan hancur, bersama keluargamu." Ucap batin Luciana, sambil menyilangkan kakinya.


Luciana melihat ke luar, dari kaca mobilnya. Tiba-tiba saja Luciana melihat ada seorang wanita bersama anaknya, sedang mencari botol bekas di tong sampah. "Pak, berhenti di sini pak." Ucap Luciana kepada pak supir.


Mobil pun langsung berhenti, tepat di samping mereka berdua. "Ada apa nyonya. Apa ada yang ketinggalan?" tanya pak supir.


"Tidak pak. Saya ada urusan di luar. Kalau begitu, bapak tunggu di sini dulu. Saya mau keluar dulu." Jawab Luciana sambil tersenyum tipis.


"Baik nyonya," ikut tersenyum pak supir, dan Luciana langsung keluar dari mobil.


Luciana menghampiri ibu dan anak tersebut. "Permisi bu," salam Luciana dengan lembut.


Sontak ibu dan anak tersebut langsung menatap wajah Luciana. "Iya, ada apa?" tanya wanita tersebut.


"Kalau boleh tahu, nama ibu siapa ya, dan siapa nama anak cantik ini?" tanya balik Luciana, sambil mengelus pipi anak perempuan tersebut.


"Nama saya Bora, dan ini anak saya namanya Areum. Omong-omong, ada apa ya, menanyakan nama kami." Jawab bu Bora sekaligus bertanya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa bu. Saya hanya mau bertanya sedikit saja. Kalau begitu, apa boleh kita mengobrolnya di sana, biar enak. Mau ya bu." Jawab Luciana, sambil menunjuk tempat duduk yang teduh.


"Baiklah," jawab bu Bora, dan mereka bertiga langsung duduk di kursi yang tersedia di pinggiran jalan.


"Oh ya nak, nama kamu siapa?" tanya ibu Bora.


"Nama saya Luciana bu," jawab Luciana kembali tersenyum.


"Jadi begini bu. Oh ya, sebelum itu, apa saya boleh memanggil anda dengan sebutan ibu. Soalnya, melihat anda, saya jadi teringat dengan ibu saya. Apa boleh." Meminta izin Luciana, sambil tersenyum sopan.


"Boleh kok nak. Saya merasa seperti mempunyai anak besar." Jawab ibu Bora ikut tersenyum kepadanya.


"Terima kasih banyak bu. Jadi begini bu, sebenarnya saya mendatangi ibu, untuk mengajak ibu tinggal di sebuah rumah yang lumayan nyaman untuk ditinggali ibu dan Areum. Sebelum itu, ibu tinggal di mana bu." Tanya Luciana kembali, sambil mengelus rambut Areum.


"Kami tidak mempunyai rumah. Kami sering pindah tempat untuk tidur. Kadang di kolong jembatan, kadang di pos ronda gitu. Asalkan bisa untuk tidur, semuanya jadi untuk kami." Jawab ibu Bora kembali tersenyum.


"Kalau ibu berkenan, itu suatu kebahagiaan bagi saya. Karena ada yang menjaga anak-anak di sana." Ucap Luciana dengan jelas, sambil memegang kedua tangan ibu Bora.


"Tentu saja ibu mau. Mana mungkin ibu membiarkan anak-anak sendirian di rumah tersebut. Dan ibu berkenan untuk menjadi penjaga di rumah tersebut, agar ibu bisa merawat mereka dengan baik. Areum juga akan memiliki teman di sana. Ibu sangat mau nak." Jawab ibu Bora langsung menerimanya.


"Terima kasih banyak bu. Maaf kalau merepotkan ibu. Terima kasih." Sangat berterima kasih Luciana, dan langsung memeluk ibu Bora.


"Sama-sama nak. Seharusnya ibu yang berterima kasih kepada kamu. Karena dengan kehadirannya kamu di sini. Kami tidak akan tidur berpindah-pindah lagi. Terima kasih banyak." Ujar ibu Bora berterima kasih juga kepada Luciana.


"Wah, apa kita tidak akan tidur di kolong jembatan lagi bu?" tanya Areum menatap wajah ibunya.


"Tentu saja tidak sayang. Karena kamu dan ibu kamu akan tinggal di rumah yang cantik dan nyaman. Dan di sana akan ada banyak teman-teman yang menunggu kamu." Jawab Luciana kembali mengelus rambut Areum.

__ADS_1


"Terima kasih banyak tante. Tante adalah malaikat Areum. Apa Areum bisa memanggil tante dengan sebutan ibu peri?" tanya Areum dengan ekspresi bahagia.


"Boleh sayang, asalkan kamu bahagia. Kalau begitu, mending kita masuk ke dalam mobil yuk. Kita akan membeli pakaian baru, dan kita makan enak. Siapa mau baju princess?" tanya Luciana, sambil mengangkat kanan tangannya.


"Aku ibu peri," jawab Areum langsung mengangkat tangan kanannya.


"Kalau begitu, mari kita masuk ke dalam mobil," sorak Luciana ikut bahagia, dan mereka langsung masuk ke dalam mobil Luciana.


Di dalam mobil, "kita pergi ke mall pak," ucap Luciana.


"Baik nyonya," menurut pak supir dan langsung berangkat menuju mall.


Di perjalanan, "maaf banget ya nak. Ibu jadi merepotkan kamu begini. Udah begitu kami kotor lagi. Takutnya membuat mobil kamu kotor lagi." Meminta maaf ibu Bora.


"Jangan mengatakan hal seperti itu bu. Justru Luciana bahagia, karena bertemu dengan kalian berdua. Dengan begitu, anak-anak yang ada di panti asuhan tidak akan kesepian lagi. Dan mereka akan bahagia melihat ibu datang nanti." Jawab Luciana kembali tersenyum.


"Sekali lagi terima kasih banyak nak. Kamu memang orang yang baik. Omong-omong, apa kamu sudah menikah?" tanya Ibu Bora.


"Sudah bu," jawab Luciana dengan ekspresi bahagia.


"Wah, suami kamu pasti beruntung banget, karena memiliki istri yang hatinya begitu baik dan seperti berlian. Semoga kalian hidup bahagia selamanya, dan apakah kalian sudah memiliki anak?" tanya ibu Bora kembali.


"Sudah bu. Kami memiki anak satu, dia namanya Bing, anak cowok." Jawab Luciana dengan lembut.


"Dia pasti tampan seperti ayahnya. Areum sangat ingin memiliki ayah. Ayahnya sudah pergi entah ke mana, dan dia meninggalkan kami berdua, sejak Areum berusia 3 tahun. Mungkin saja ayah Areum sudah menikah lagi, dan hidup bahagia di sana. Kadang saya sangat kasihan melihatnya, karena ia ingin sekali melihat ayahnya." Ucap ibu Bora menceritakan masa lalunya, sambil menahan air matanya.


"Kenapa suami ibu bisa meninggalkan ibu dan Areum. Apa terjadi permasalahan?" tanya Luciana memegang kedua tangan ibu Bora.

__ADS_1


"Waktu itu


__ADS_2