
Di luar kamar Luciana. Leonathan mengetuk pintu kamar Luciana. "Sayang, aku minta maaf kepadamu," ujar Leonathan dengan wajahnya yang memerah.
"Eh, sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan sayang. Apa dia kesambet, atau hanya siasatnya saja." Ucap batin Luciana sedikit kaget dengan yang dikatakan Leonathan.
Leonathan pun masih berdiri di depan kamar Luciana, "maafkan aku Luciana. Aku benar benar minta maaf kepadamu." Meminta maaf Leonathan.
"Pergi sana. Jangan terus meminta maaf. Kalau kamu masih seperti itu. Aku tidak mau bertemu denganmu." Tegas Luciana di dalam kamar.
Leonathan pun menundukkan kepalanya, dan langsung turun ke bawah, menuju ruang tamu. Stefan pun menghampiri Leonathan. "Apa tuan bertengkar dengan nyonya Luciana?" tanya Stefan yang peka.
"Benar. Kami ada masalah sedikit kemarin malam," jawab Leonathan sambil melipat kedua tangannya.
"Aku tidak akan bekerja. Aku akan terus meminta maaf kepada Luciana. Kau uruslah perusahaan dulu." Perintah Leonathan.
"Baiklah tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu," menundukkan kepalanya, dan langsung berangkat menuju perusahaan.
Leonathan pun duduk di sofa, sambil menyilangkan kakinya. "Aku akan menunggu Luciana turun. Dia pasti akan turun ke bawah untuk makan." Ucap Leonathan menunggu Luciana turun.
Siang pun tiba. Dimana Luciana masih terus di kamar, dan Luciana mulai bosan. "Aduh, bosan juga berada di kamar. Mana aku lapar lagi. Sepertinya tidak ada siapa siapa di luar. Apa Leonathan masih di rumah, atau sudah pergi ke perusahaan ya." Bertanya tanya Luciana.
Tiba tiba saja Luciana melihat ada buah di meja sampingnya. "Eh, ini ada buah. Makan buah aja deh, heheheh." Langsung mengambil buah, dan pisau kecil yang ada disampingnya.
Disisi lain. Leonathan pun juga sedikit khawatir kepada Luciana. "Kenapa dia tidak keluar juga ya. Lebih baik aku cek kembali kamarnya." Ucap Leonathan langsung naik ke atas kembali, untuk membujuk Luciana kembali.
Sesampainya. Leonathan kembali mengetuk pintu Luciana. Tapi tidak ada jawaban. "Apa jangan jangan kepalanya kambuh lagi. Akibat pukulan keras itu. Jangan jangan dia pingsan lagi. Aku harus mendobrak pintu ini." Ujar Leonathan yang khawatir, langsung mendobrak pintu tersebut.
__ADS_1
Leonathan pun melihat Luciana yang sedang memegang pisau dari belakang, dan pisau tersebut terlihat dari belakang, karena Luciana menggaruk kepalanya yang sedikit gatal, sambil memegang pisau tersebut.
Leonathan yang melihatnya, langsung kaget, dan menghampiri Luciana. "Luciana," teriak Leonathan, langsung melempar pisau yang ada ditangan Luciana.
Sontak Luciana kaget, dan tangan satunya memegang buah apel yang sudah dikupas. Leonathan langsung memeluk Luciana. "Jangan lakukan itu. Aku tidak ingin kamu mati. Maafkan atas apa yang aku katakan kemarin. Maafkan aku sayang, maafkan aku." Meminta maaf Leonathan, dengan raut wajah yang cemas kepada Luciana.
Luciana hanya terdiam, dan kebingungan. "Apa maksudmu. Mati, siapa yang mau mati. Aku tidak mau mati kok?" tanya Luciana langsung melepaskan pelukan tersebut.
"Kan kamu yang memegang pisau ini. Apa kamu mau bunuh diri?" tanya balik Leonathan.
"Siapa yang mau bunuh diri. Orang mau memotong buah kok. Aku gak mau mati kok, kan aku maunya mati sama kamu." Jawab Luciana.
"Syukurlah. Sekali lagi aku minta maaf, dan jangan marah lagi kepadaku. Aku minta maaf sa, sayang." Ucap Leonathan kembalikan memeluk Luciana.
Luciana menaikkan kepalanya, dan langsung mencium Leonathan. Sontak Leonathan kaget, dan matanya melotot menatap wajah Luciana. Luciana melepaskan ciuman tersebut, "aku memaafkanmu sayang. Lain kali jangan seperti itu lagi. Aku benar benar hanya mencintaimu, dan jangan berpikiran seperti itu lagi. Karena banyaknya pria di dunia ini. Yang aku cinta hanyalah kamu sayang." Bahagia Luciana, dan Leonathan langsung tersenyum.
Merekapun kembali berciuman, dan pipi mereka berdua memerah bersamaan. Nafas mereka berdua menyatu bersama, dan mereka kembali bertatapan. "Argh, sudahlah. Jangan lakukan sekarang, aku belum siap tahu." Ucap Luciana salting, dan langsung berguling guling di atas tempat tidur.
Leonathan tertawa tipis, dan memeluk Luciana kembali. "Kamu sayang gak sama aku?" tanya Luciana memeluk Leonathan juga.
"Aku juga sayang padamu sayang," jawab Leonathan kembali tersenyum.
Saat hendak berciuman kembali. Tiba tiba saja ada yang bunyi, dan itu adalah perut Luciana. Sontak Luciana dan Leonathan kaget, dan saling bertatapan. "Ups, itu suara perut aku. Maaf ya, karena aku lapar, belum makan." Malu Luciana.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan siang bersama. Kebetulan aku menyempatkan diri untuk tidak ke perusahaan." Ajak Leonathan.
__ADS_1
"Mau banget sayang. Kalau begitu, kamu tunggu di luar dulu. Aku mau ganti pakaian dulu." Ujar Luciana memberi kiss di pipi Leonathan.
Pipi Leonathan kembali memerah, dan ia langsung keluar dari kamar Luciana. Disisi lain, Luciana salting kembali, dan memeluk bantal gulingnya. "Apa tadi itu Leonathan. Dia kesambet apa, sampai dia seromantis itu. Apa benar kami berciuman tadi. Arghhh, bisa meleyot aku." Salting Luciana, langsung mengganti pakaiannya.
Di luar kamar Luciana. Leonathan berdiri di depan kamar Luciana, dan menyender ke dinding. Leonathan memegang bibirnya, dengan wajah yang memerah. "Apa kami barusan saja berciuman. Apa yang tadi itu tidak mimpi. Astaga, kenapa jantungku berdetak dengan kencang. Aku sudah gila." Tersenyum bahagia Leonathan, dan langsung menunggu di ruang tamu.
Setelah beberapa menit. Luciana pun sudah selesai bersiap siap, dan ia keluar dari kamarnya, dan turun menuju ruang tamu. "Yuk kita pergi sayang," ucap Luciana dengan raut wajah bahagia.
Leonathan langsung melihat Luciana, dan ia sedikit terkejut, karena melihat penampilan Luciana yang benar benar cantik. "Dia benar benar cantik. Pantas saja aku mencintainya." Ucap batin Leonathan, dan pipinya kembali memerah.
"Hei, kenapa melamun. Yuk kita pergi," menyadarkan Leonathan, yang terus menatap dirinya.
"Eh, iya. Yuk kita pergi," Luciana dan Leonathan langsung keluar dari rumah, dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil. Luciana dan Leonathan duduk dibangku belakang, dan supir menyetir. "Kita mau ke mana tuan?" tanya pak supir.
"Kita ke restoran biasanya," jawab Leonathan.
Merekapun langsung berangkat menuju restoran seperti biasanya. Di perjalanan, Leonathan masih sedikit malu malu, dan Leonathan melirik Luciana yang fokus melihat ke depan.
Tangan Luciana tepat berada di disampingnya. Tangannya juga berada disamping tangan kanan Luciana. "Bagaimana rasanya memegang tangannya yang lembut itu." Ucap batin Leonathan.
Saat Leonathan hendak meraih jari kelingking Luciana. Tiba tiba saja tangan Luciana berada di sisi lain. Dan Leonathan tidak berhasil memegang tangan Luciana.
Namun, tangan Luciana kembali di letakkan disamping tangan Leonathan kembali. Dan
__ADS_1