
Sesampainya. Leonathan langsung membuka pintu kamar tersebut, dan di dalam sudah ada baby Bing yang tertidur. "Dia sudah tidak ada di sini. Dan Bing sudah tidur. Apa dia ada di kamar, aku harus melihatnya." Ujar Leonathan menutup kembali pintu kamar baby Bing, dan langsung naik ke atas.
Leonathan pun langsung masuk ke dalam kamar pribadi mereka berdua, dan ternyata tidak ada Luciana. "Di mana dia. Kenapa tidak ada di sini." Ucapnya langsung meletakkan jasnya di kursi.
"Apa dia di kamar sebelumnya. Mungkin saja dia benar benar di sana." Keluar dari kamar tersebut, dan menuju kamar Luciana sebelumnya.
Sesampainya. Saat Leonathan mau masuk, Ternyata pintu kamar tersebut dikunci. "Astaga. Dia benar benar di dalam, dan dia mengunci kamar ini. Kenapa dia menjauh dariku. Aku tidak tahu, kenapa dia bisa begini." Bingung Leonathan, sambil mengetuk pintu kamar Luciana.
"Luciana, kau di dalam?." Tanya Leonathan dari dalam.
Sontak Luciana yang di dalam kamar, langsung menatap ke arah pintu tersebut. "Pergilah, aku ingin tidur di sini. Jangan menggangguku." Jawab Luciana dari dalam.
"Ada apa denganmu. Bukalah dulu pintunya, agar aku bisa melihatmu dan menjawab pertanyaanku." Perintah Leonathan.
Luciana pun langsung membukakan pintu tersebut, dan menatapnya. "Ada apa?." Tanya balik Luciana.
"Ada apa denganmu. Apa kau ada masalah?." Tanya kembali Leonathan.
"Aku hanya ingin sendiri dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Jangan menggangguku," jawab Luciana memalingkan wajahnya.
Leonathan pun kembali menarik pinggang Luciana, dan Luciana pun masuk ke dalam pelukannya. Sontak mereka bertatapan. "Katakan yang sebenarnya. Ada apa denganmu?." Tanya Leonathan kembali.
"Mana mungkin aku mengatakannya, kalau aku melihatmu di ruang kerja, dan mengatakannya yang tidak baik tentangku." Ucap batin Luciana langsung menundukkan kepalanya, dan melepaskan pelukan tersebut dengan keras.
"Pergilah, aku tidak ingin bicara denganmu." Jawab Luciana langsung menutup pintu kamarnya.
Setelah itu, Luciana pun berbaring di tempat tidurnya, sambil memeluk bantal guling miliknya.
Di luar kamar Leonathan, "apa yang sebenarnya terjadi. Apa dia sedang tidak enak badan. Aku harus bertanya kepada Stefan. Apa yang disukai wanita, kalau mereka sedang marah." Ucap Leonathan pergi dari kamar Luciana dan menuju ruang kerjanya kembali.
Leonathan masuk ke dalam, dan langsung duduk. Ia pun menghubungi Stefan yang sedang di perusahaan, menggantikannya. "Halo tuan, ada apa ya tuan?." Tanya pak Stefan langsung.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya denganmu Stefan. Apa yang disukai oleh wanita?." Tanya balik Leonathan.
"Eh, kenapa tuan tiba tiba bertanya soal ini. Apa tuan Leonathan bertengkar dengan nyonya Luciana ya?." Bertanya tanya di dalam hatinya.
"Ouh, kalau soal itu gampang sih tuan. Apa nyonya sedang kesal dengan tuan?." Memastikannya.
"Benar," jawabnya.
"Nah, kalau itu gampang tuan. Kalau wanita sedang kesal. Obat mereka itu adalah makanan yang enak, seperti makanan yang mereka sukai. Ataupun makanan yang lainnya deh tuan, yang penting makanan. Selain makanan, ada juga coklat, bunga, dan pakaian tentunya. Mereka sangat menyukai hal itu tuan."
"Kalau tuan membelikan salah satunya. Tentu sang wanita akan suka, dan akan langsung memaafkan perbuatan yang kita lakukan." Jawab pak Stefan secara detail.
"Baiklah. Kalau begitu, terima kasih," langsung mematikan ponselnya, dan melihat sosial media.
"Aku sering melihat Luciana, makan ramen, dan ayam. Aku harus memesan semua makanan yang disukai oleh wanita. Dan aku akan memesan yang lainnya." Ucap Leonathan langsung menghubungi pemilik restoran dan toko lainnya.
Keesokan paginya. Dimana Luciana baru bangun, dan langsung meregangkan badannya. "Selamat pagi dunia." Ucapnya, dan membuka tirai jendela.
Disisi lain. Leonathan justru tidak bisa tidur, karena ia terus membayangkan Luciana. "Aku tidak bisa tidur karena terus Memikirkannya sepanjang malam. Aku harus berdiri di depan kamar Luciana sekarang, dan bunga sudah di taruh di depan kamarnya juga." Ucap Leonathan langsung keluar dari kamarnya, dan menuju kamar Luciana.
Ternyata di depan pintunya sudah ada banyak bunga. Sampai sampai menghalangi jalannya. "What, siapa yang menaruh bunga sebanyak ini, di depan kamarku?." Bertanya tanya Luciana, sambil merapikan rambutnya.
"Apa kau menyukainya?." Tanya Leonathan yang muncul tiba tiba, dan berdiri di depan kamar Luciana.
Sontak Luciana langsung menatap ke arah Leonathan. "Ada apa denganmu. Kenapa meletakkan bunga sebanyak ini di depan kamarku?." Tanya Luciana kembali, sambil menaikkan alisnya.
"Sepertinya kau marah denganku. Jadinya saya berinisiatif untuk memberikan bunga sebanyak ini untukmu." Jawab Leonathan sambil melipat kedua tangannya.
"Tapi ini banyak banget tahu. Aku kan sudah bilang, kalau aku lagi tidak ingin bicara, karena aku sangat lelah kemarin sayang. Tapi, terima kasih banyak sayang." Bahagia Luciana, langsung mengecup pipi Leonathan dan turun ke bawah.
Disisi lain. Leonathan tersenyum tipis, sambil memegang pipi bekas kecupan Luciana. "Sudahlah Leonathan, jangan terlalu salting." Menampar pipinya, dan ikut ke bawah.
__ADS_1
Merekapun berkumpul di meja makan. "Selamat pagi mami." Sapa baby Bing yang sudah ada di meja makan.
"Eh, kenapa kalian berdua sudah berbaikan. Bukannya mami bilang kalau mami sedang," terhenti, karena Luciana langsung menutup mulut baby Bing.
"Sudahlah sayang, mami dan papi sudah berbaikan kok. Mami hanya kelelahan saja. Jadinya terbawa emosi sayang." Ucap Luciana sambil mengelus rambut baby Bing kembali.
Setelah sarapan berakhir. Dan baby Bing sudah berangkat ke sekolahnya.
Luciana pun naik ke lantai atas, dan saat mau masuk ke dalam kamarnya. Tiba tiba saja ada yang memegang tangannya dari belakang.
Sontak Luciana berbalik badan, dan ternyata ia adalah Leonathan. "Tuan Leon. Ada apa?." Tanya Luciana sambil menaikkan alisnya.
"Apa kau akan terus berpisah kamar denganku?." Tanya balik Leonathan.
"Ehm, bagaimana ya menjawabnya. Aku lagi ingin sendirian dulu deh tuan Leon. Dah." Jawabnya, sambil melambaikan tangannya, dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Senyumannya yang indah itu, membuatku bahagia." Ikut tersenyum Leonathan, dan langsung pergi ke perusahaannya.
Di dalam kamar. Luciana pun bergegas mandi. Dan setelah beberapa menit ia mandi. Luciana sudah mengenakan pakaian rapi, dan langsung keluar dari kamarnya.
Di ruang tamu, "mari kita pergi sekarang Rose." Perintah Luciana, dan mereka langsung menuju perusahaan Princess Gown.
Di perjalanan. "Dalam beberapa hari lagi, kau akan pergi ke London. Dan jangan lupa beri kabar padaku, tentang perkembangan kerjasama di sana." Ucap Luciana.
"Baik nyonya. Semua akan saya laksanakan dengan baik," jawab Rose dengan sangat sopan.
Sesampainya di perusahaan Princess Gown. Merekapun langsung turun dari mobil, dan masuk bersamaan. "Salam bu bos." Salam mereka semua, sambil membungkukkan badannya.
"Saya hanya mau mengambil beberapa berkas, untuk saya rekap di Perusahaan Queen Dress." Ucap Luciana masuk ke dalam ruang pribadinya, dan mengambil beberapa berkas yang ia butuhkan, untuk Perusahaan Queen Dress.
"Rekap semua karyawan yang ada, dan catat kehadiran mereka Rose. Saya harus cepat ke Perusahaan Queen Dress, untuk melihat perkembangan di sana." Perintah Luciana, dan Rose kembali membungkukkan badannya.
__ADS_1
Luciana pun langsung keluar dari Perusahaan Princess Gown, dan berangkat menuju Perusahaan Queen Dress.
Sesampainya. Ia pun turun dari mobil, dan masuk ke dalam. Saat di dalam