
"Omong omong, dimana Gita?." Tanya Luciana, sambil menyilangkan kakinya.
"Kenapa kamu mencari Gita. Apa kamu merindukannya?." Tanya Abilene.
"Aku tidak merindukannya. Ada yang mau aku bicarakan dengannya." Jawab Luciana dengan datar.
"Ada apa kau mencariku kakak?." Tanya yang tidak lain lagi ialah Gita.
Gita pun langsung menghampirinya. "Kenapa kamu mencariku. Padahal kemarin, kamu menghina dan merendahkanku?." Tanya Gita.
Luciana langsung berdiri, dan berdiri dihadapannya. "Kamu duluan yang merendahkan diri kamu. Kalau kamu merasa direndahkan. Berarti kamu memang orang yang rendahan dong." Jawab Luciana tersenyum tipis, dengan ucapannya.
"Sabarlah Gita. Kamu masih ada rencana lain, untuk merendahkan Luciana gila ini." Ucap batin Gita memiliki ide.
"Bu, ayah. Kemarin, Luciana menjatuhkanku di lantai, didepan semua orang, saat acara ulang tahun tuan Leonathan. Dia bilang, tidak mau menganggapku sebagai adiknya sendiri. Dan dia lebih memilih orang yang dia tidak kenal." Ucap Gita langsung memainkan aktingnya, dan berpura pura menangis.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan dengan adik kamu ini Luciana. Dia ini masih kecil, dan belum tahu apa apa. Kenapa kamu sangat lancang dengannya?." Tanya Abilene langsung marah dengannya.
"Sayang, lihat perlakuan anak kamu ini. Kamu seharusnya menghukum dia, bukan diam saja. Lakukan sayang." Tegas Abilene kepadanya.
Luciana langsung menatap wajah ayahnya. "Ayah mau memilih mendengarkan perkataan wanita itu. Atau mau aku cabut semua kerja sama ayah dengan calon suamiku. Agar ayah tidur di jalanan, dan aku ambil semua aset rumah ini. Mau pilih yang mana ayah." Ucap Luciana sambil tersenyum santai.
"Eh, jangan begitu dong sayang. Tentu saja ayah akan mendengarkan perkataan anak ayah. Kan kamu anak kandung ayah sayang. Ayah akan mendengarkan kamu." Jawab ayahnya, yang hanya mementingkan harta kekayaan.
"Sayang. Kenapa kamu lebih memilih dia, yang sudah menjatuhkan anak kandung kamu sendiri. Apa maksud kamu ini, hah!." Tanyanya dengan tegas.
Sontak Abilene langsung ketakutan, dengan Gita. Mereka langsung terdiam, dan menundukkan kepalanya.
"Mending kalian masuk ke kamar kalian sana. Memuakkan saja disini, dan akan membuat anakku tidak betah disini. Masuk kalian." Perintah Henry kepada mereka berdua.
Abilene dan Gita langsung berdiri, dan masuk ke kamar mereka. Disisi lain, Luciana bahagia didalam batinnya, karena rencananya berhasil.
__ADS_1
"Kalau begitu, mending kamu istirahat dulu sayang. Kamu pasti lelah kan, setelah perjalanan kemari." Ucap Henry mengelus pundak Luciana.
"Oh ya ayah, bagaimana aku mau masuk ke kamarku. Ayah sudah mengubah kamarku yang dulu, menjadi milik Gita. Aku mau kamarku kembali lagi, dan pindahkan saja Gita ke kamar yang lainnya. Atau tidak, aku akan melapor kepada calon suamiku, kalau aku tidak diperlakukan baik disini." Ucap Luciana dengan tegas.
"Eh, jangan sayang. Baiklah, ayah akan menyuruh Gita, untuk pindah ke kamar yang lainnya, dan kamu bisa kembali ke kamar kamu yang dulu." Jawab ayahnya langsung ketakutan, dan naik ke kamar Luciana, yang sudah menjadi milik Gita.
Luciana kembali duduk di sofa. "Kita lihat saja kedepannya. Hak rumah ini, akan menjadi milikku seutuhnya." Ucap batin Luciana, kembali tersenyum tipis.
Disisi lain. Abilene dan Gita yang sudah sampai di kamar yang dulu ditempati oleh Luciana, tapi diambil paksa oleh Gita.
Henry langsung masuk kedalam. "Gita." Panggil ayahnya dengan tegas.
Sontak Gita langsung menatap ayahnya. "Eh, ayah. Ada apa kemari?." Tanyanya.
"Kamu
__ADS_1