
Luciana pun mengambil kotak tersebut, dan mulai membuka kotaknya. Saat Luciana membuka kotak tersebut, ternyata isinya adalah sebuah cokelat yang berbentuk hati. "Wah, soswet banget ya Karina sayang." Tersenyum Luciana, dan mengambil coklat yang berbentuk hati.
Leonathan pun mendekat ke Luciana, dan memegang kedua tangan Luciana, lalu meletakkan kotak tersebut. "Sayang, kamu jangan marah ya. Aku sama sekali tidak menyukai ini. Kamu tidak marah kan?" tanya Leonathan jadi cemas dengan yang di katakan Luciana.
"Hm, aku sama sekali tidak marah kok. Untuk apa marah, lagian coklatnya sepertinya enak." Jawab Luciana mau memakan cokelat tersebut, tapi di makan Leonathan. Coklat dari tangan Luciana.
Luciana langsung menatap wajah Leonathan, "ih, nyebelin banget sih. Kenapa malah kamu yang makan coklatnya?" tanya Luciana dengan kesal.
"Biar aku cobain dulu. Mana tahu di dalam cokelat ini ada racunnya kan. Kalau sudah aman, baru aku membolehkan kamu untuk memakan cokelat ini. Tunggulah sebentar." Jawab Leonathan mengunyah coklat tersebut.
"Dia benar-benar perhatian terhadapku. Tapi tetap saja aku kesal. Karena aku yang duluan mau memakan coklat itu" ucap batin Luciana.
"Bagaimana. Apa ada racunnya?" tanya Luciana kepada Leonathan, sambil menaikkan alisnya.
"Tidak. Semuanya aman, dan kamu bisa memakan coklatnya. Tapi jangan banyak-banyak, nanti kamu kemanisan. Soalnya kamu aja udah manis." Jawab Leonathan sambil menggombal Luciana.
Luciana menatap pak Stefan yang masih ada di dekat mereka juga. "Kamu ih, masih ada pak Stefan. Benar-benar tidak tahu malu." Salting Luciana, dan pipinya langsung memerah.
__ADS_1
"Eh, maafkan saya kalau mengganggu. kalau begitu, saya tunggu di luar tuan Leonathan." Ujar pak Stefan yang peka, dan langsung keluar rumah.
Kembali ke Luciana dan Leonathan. Luciana langsung menyantap coklat dari Karina. "Kamu nih. Gara-gara kamu pak Stefan jadi kabur keluar. Kasihan tahu pak Stefan." Ucap Luciana kembali menatap wajah Leonathan.
"Itu namanya pak Stefan tahu, kalau aku ingin di manja kamu. Masa kamu tidak peka sih dengan ini semua." Jawab Leonathan meraih pinggang Luciana, dan Luciana semakin dekat dengan tubuh Leonathan.
Leonathan pun mendudukkan Luciana di atas pangkuannya, dan Luciana masih mengunyah coklat tersebut.
"Apa yang kamu lakukan sih. Mending kamu mandi sana, karena kamu harus bekerja." Perintah Luciana.
"Tidak mau. Aku maunya mandi sama kamu," jawab Leonathan langsung meletakkan wajahnya di dada Luciana, dan bertingkah manja.
Leonathan meraih tangan Luciana, dan Luciana kembali duduk di atas pangkuan Leonathan. Tiba-tiba saja Leonathan hendak mencium bibir Luciana, namun Luciana yang tahu, kalau Leonathan hendak menciumnya, langsung mengambil coklat tersebut.
Saat Leonathan sudah semakin dekat dengan bibir Luciana. Luciana langsung memasukkan coklat tersebut ke dalam mulut Leonathan. "Makan itu cokelatnya. Makanya jangan gatal sana istri. Aku mau ke kamar baby Bing dulu, dan cepatlah bersiap-siap." Berlari Luciana, sambil mengejeknya.
Leonathan pun menghela nafas panjang, dan tersenyum tipis. "Astaga Leonathan. Apa yang barusan kau lakukan itu. Sangat melakukan. Seharusnya kau menahannya, sampai dia mau, dan tidak keberatan melakukannya. Aku harus menunggu, sabarlah Leonathan. Pasti akan ada waktunya." Ucap batin Leonathan langsung masuk ke dalam kamar untuk mandi.
__ADS_1
Disisi lain. Luciana masuk ke dalam kamar baby Bing, dan baby Bing sedang mengenakan dasinya. "Halo sayang mami. Kamu sedang apa?" tanya Luciana muncul tiba-tiba di belakang baby Bing yang sedang bercermin.
"Eh, mami. Membuat Bing terkejut saja. Ini ma, lagi memasang dasi, tapi susah banget dari tadi." Jawab baby Bing langsung berbalik badan, dan menatap wajah Luciana.
"Kenapa gak bilang dari tadi sih sayang. Sini, biar mami pasangan dasinya." Ucap Luciana langsung duduk di atas tempat tidur baby Bing, dan baby Bing berdiri di hadapannya.
Luciana pun mulai memasangkan dasi kepada baby Bing. "Kalau kamu merasa kesulitan. Katakan saja sama mami. Mami siap membantu kamu, kan kamu anak mami sayang." Mengecup kening baby Bing, dan kembali fokus memasang dasi tersebut.
"Iya ma. Maafin baby Bing, kalau Bing gak meminta bantuan kepada mami." Meminta maaf baby Bing.
"Kenapa kamu minta maaf sayang. Kamu kan gak salah. Mami hanya menasehati saja. Mami melakukan ini semua, karena mami sayang banget sama kamu sayang." Terus tersenyum kepada baby Bing, dan begitu juga dengan baby Bing.
Selesai memasangkan dasi, dan baby Bing sudah menyandang tas sekolahnya. Mereka berdua langsung keluar dari kamar tersebut, dan menuju ruang tamu, lalu duduk di sofa bersama.
"Kenapa kita gak langsung ke sekolah ma?" tanya baby Bing, sambil menatap wajah Luciana.
"Papi kamu yang akan mengantar kamu sayang. Papi kamu sebentar lagi siap kok sayang. Jadi tunggu sebentar ya." Jawab Luciana mengelus tangan baby Bing, dan begitu juga dengan baby Bing.
__ADS_1
Akhirnya yang ditunggu Luciana dan baby Bing datang juga. Dia adalah