
"Sudahlah, jangan banyak salting. Mending aku ngerjain beberapa desain busana yang harus aku selesaikan. Oh ya, aku harus menghubungi Rose, untuk menanyakan bagaimana dengan keadaan perusahaan, saat Gita yang menguasainya," mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Rose.
Tersambung, "eh, nyonya. Ada apa nyonya menghubungi saya. Apa ada hal penting yang mau disampaikan?" tanya Rose.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya balik Luciana tidak ingin mengganggu Rose.
"Tidak kok nyonya. Memangnya ada apa nyonya?" jawab Rose sekaligus bertanya.
"Saya hanya mau menanyakan soal perkembangan perusahaan. Bagaimana dengan keuangan perusahaan, apa perusahaan semakin memburuk, atau membaik, dan bagaimana dengan sikap Gita saat ia menjadi direktur di perusahaan?" tanya Luciana dengan jelas.
"Maaf banget nyonya, saya harus menyampaikan hal ini kepada nyonya. Keuangan perusahaan benar-benar hancur dan saya cek, banyak uang yang dikorupsi dan yang mengorupsi uang itu belum tahu siapa. Maka sebab itu, saya mau cari tahu," jawab Rose.
"Kau tidak perlu mencari tahu siapa pelakunya. Saya sudah tahu pelakunya, kamu hanya perlu melanjutkan pekerjaan kamu saja dan biar saya yang mengurus masalah itu. Kamu paham kan," ucap Luciana tersenyum miring.
"Paham nyonya," jawab Rose.
"Kalau begitu, saya tutup telponnya dan lanjutkan lagi pekerjaanmu," langsung mematikan telepon tersebut dan Luciana mengambil ipad yang ada disampingnya.
"Dia mau bermain-main denganku. Lihat saja kamu, aku akan menyebarkan video ini kepada publik dan kamu akan hancur," kembali tersenyum dan ia membuka rekaman yang ada di ipadnya.
Rekaman tersebut menunjukkan di mana Gita mengambil uang perusahaan dan ia gunakan untuk bersenang-senang, "untung saja aku sudah memasang cctv kecil di tempat tersembunyi yang ada di ruangannya. Dengan begitu, aku tahu gerak-geriknya," ucap Luciana melihat rekaman tersebut.
"Aku akan menyimpan rekaman ini dan akan menyebarkannya ke sosial media. Tapi sebelum itu, aku akan datang ke lokasi televisi dan aku akan membongkar kejahatan kalian semua. Sudah lama aku menahan ini semua dan kali ini, aku sudah hilang kesabaran. Kalian akan merasakan, apa yang telah kalian lakukan kepada ibuku dulu," mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam wajah Gita direkaman tersebut.
__ADS_1
"Sebelum itu, aku harus melepaskan perban kaki dan tangan ini. Aku jadi terlihat jelek mengenakannya. Lagian aku sudah tidak apa-apa, karena aku kuat. Ini tidak apa-apa bagiku," ucapnya langsung duduk dan membuka perban yang ada dikakinya, bersama perban tangannya.
Saat Luciana hendak keluar, karena mau mengambil barang yang ada di ruang tamu, yaitu tisu. Tiba-tiba saja ada dua pengawal yang berjaga di depan pintu kamar tersebut. Sontak Luciana kaget dan menatap kedua pengawal tersebut, "eh, kenapa kalian di sini?" tanya Luciana sambil menaikkan alisnya.
"Kami di sini untuk menjaga anda, agar nyonya tidak keluar dari kamar ini. Nyonya tidak diperbolehkan keluar dari kamar ini, ini adalah perintah dari tuan Leonathan," jawab pengawal tersebut langsung memalang pintu tersebut dengan tangan mereka masing-masing.
"Astaga, dia sampai menyuruh pengawal untuk menjagaku, agar aku tidak kabur. Dia selalu begitu, bagaimana ini," ucap batin Luciana berpikir.
"Saya hanya mau mengambil tisu yang ada di ruang tamu. Saya tidak akan pergi ke mana-mana kok. Beneran," ujar Luciana.
"Biar saya yang ambil tisunya nyonya," sahut pengawal satunya dan langsung mengambil tisu yang ada di ruang tamu.
Setelah mengambil tisu tersebut, pengawal tersebut langsung memberikannya kepada Luciana, "ini tisu yang anda minta nyonya," ucap pengawal tersebut.
"Sudahlah, kalau begitu, terima kasih banyak atas tisunya," kembali menutup pintu kamar dan Luciana langsung duduk kembali di atas tempat tidur.
"Masa aku harus rebahan terus di kamar yang membosankan ini. Leonathan benar-benar menyebalkan, dia malah mengurungku di kamar ini. Aku mau keluar!" teriak Luciana kesel dan sangat bosan berada di kamar tersebut.
"Yaudah deh, mending aku menggambar desain aja deh, biar aku gak bosan. Nanti akan aku pikirkan, bagaimana cara agar aku bisa kabur dari dua pengawal itu," mengambil ipadnya dan Luciana mulai membuat desain untuk busananya.
Sore pun tiba, di mana Luciana ketiduran, sambil memeluk ipadnya. Luciana pun terbangun, karena ada yang memanggil namanya. Luciana pun membuka matanya perlahan-lahan dan yang memanggil namanya adalah baby Bing.
"Akhirnya Mami bangun juga. Apa mami baik-baik saja?" tanya baby Bing langsung duduk disamping Luciana.
__ADS_1
Luciana pun ikut duduk dan menatap wajah baby Bing, "Mami baik-baik saja kok sayang. Ada apa memangnya?" jawab Luciana sekaligus bertanya.
"Tidak ada apa-apa sih. Hanya saja, kemarin kan mami diculik, jadi Bing kira mami akan dijual oleh om itu. Untung saja Mami gak ditangkap mereka. Oh ya Ma, daritadi Bing cariin di bawa gak ada, gak tahunya Mami ada di sini. Tumben banget Mami di kamar aja, apa ada masalah?" tanya baby Bing kembali, sambil menaikkan alisnya.
"Wah, kebetulan banget nih. Aku bisa keluar dari kamar ini dengan bantuan anakku. Dengan begitu, aku bisa pergi ke lokasi berita dan akan mengungkapkan kejahatan keluarga Gita," ucap batin Luciana tersenyum tipis.
"Jadi begini sayang, Mami tuh sedih banget, karena Mami gak bisa keluar dari kamar ini," ucap Luciana langsung memasang ekspresi sedih.
"Kenapa memangnya Mami. Apa ada yang menyakiti Mami. Siapa dia, biar Bing hajar dia?" tanya baby Bing langsung berdiri dihadapan Luciana.
"Kamu tahu kan, kalau di depan pintu kamar Mami ada dua pengawal," ucap Luciana sambil menunjuk arah pintu kamar tersebut.
"Benar. Oh ya Mami, kenapa tiba-tiba ada pengawal di depan pintu kamar Mami. Apa ada yang tidak beres Mami?" bisik baby Bing sambil menaikkan alisnya kembali.
"Katanya pengawal itu dari Papi kamu, biar Mami gak keluar dari kamar. Mami dikurung di kamar ini, karena mami sedikit kurang enak badan. Padahal Mami tidak apa-apa kok. Ada hal yang mau Mami lakukan di luar, ini menyangkut harga diri Mami sayang. Apakah kamu mau membantu Mami keluar dari kamar ini," ucap Luciana ikut menaikkan alisnya dan tersenyum tipis.
"Tentu saja Mami. Kalau begitu, Mami siap-siaplah dulu, kan gak mungkin Mami keluar dengan mengenakan pakaian rumah sakit seperti ini. Cepatlah Mami berdandan secantik mungkin. Bing akan menunggu Mami di sini," ujar Bing mengacungkan jempolnya dan Luciana langsung mengganti pakaiannya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Luciana sudah mengenakan pakaian rapi dan sudah mengenakan riasan yang begitu indah, "bagaimana, Mami cantik kan?" tanyanya sambil menaikkan alisnya.
"Mami selalu cantik. Kalau begitu, apa rencana Mami untuk keluar dari kamar ini, tanpa sepengetahuan dua pengawal suruhan Papi?" jawab baby Bing sekaligus bertanya.
"Jadi begini,
__ADS_1