Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku

Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku
Episode 101: Album Foto


__ADS_3

Luciana pun menatap wajah Leonathan yang berdiri, "aku tidak sakit sayang. Tapi kekenyangan. Habisnya kamu mesan banyak makanan. Jadinya aku kekenyangan." Jawab Luciana sambil menghela nafas panjang.


"Maafkan aku, karena aku sudah membuatmu kelelahan," ucap Leonathan kembali meminta maaf, dan langsung duduk disamping Luciana.


"Jangan terus meminta maaf. Kamu sangat lucu kalau seperti ini." Ujar Luciana mengelus rambut Leonathan.


Leonathan pun menyandar dibahu Luciana, dan menghela nafas panjang. "Maafkan aku, karena selama ini, aku jahat kepadamu. Aku benar benar minta maaf." Ucap Leonathan kembali.


"Ih, kan sudah aku katakan kepada kamu. Jangan terus meminta maaf. Setiap manusia pasti melakukan kesalahan. Jadi, jangan seperti itu sayang." Mengecup kening Leonathan dan pipi Leonathan langsung memerah.


Tiba tiba saja bibi datang, "permisi nyonya. Adik nyonya sudah ada di taman belakang rumah nyonya. Adik nyonya sudah menunggu." Memberitahukannya.


"Baik bi. Saya akan segera ke sana," jawab Luciana tersenyum, dan bibi langsung kembali ke dapur.


"Kamu benar benar tidak ingin ikut sayang?" tanya Luciana menatap wajah Leonathan.


"Tidak perlu. Kamu pergilah," jawab Leonathan tersenyum tipis, dan Luciana langsung menuju taman belakang rumah.


Di belakang rumah. Luciana menghampiri Alvino yang sudah menunggu.


"Halo adik kakak sayang," ucap Luciana langsung menghampiri Alvino.


"Kak. Kenapa lama banget sih. Sudah nunggu lama aku nih." Ujar Alvino.


"Maafkan kakak sayang. Tadi ada urusan sebentar di dalam rumah." Jawab Luciana sambil tersenyum, dan langsung duduk disamping Alvino.


Disisi lain. Ternyata Leonathan melihat Luciana dan Alvino dari lantai 2 di ruang kaca.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu katakan. Sampai ingin bertemu dengan kakak?" tanya Luciana, sambil meminum es dingin, yang baru diberikan oleh bibi rumahnya.


"Ini soal Gita kak. Dan ini menyangkut keluarganya." Jawab Alvino dengan raut wajah serius.


"Kenapa dengan mereka. Apa mereka menyakitimu?" tanya Luciana penasaran.


"Waktu beberapa hari. Gita memang datang ke universitas, dan mengatakan, kalau aku ini anak buangan. Apa aku memang anak buangan kak?" jawab Alvino sekaligus bertanya.


"Kenapa kamu dikatakan anak buangan. Dia banyak bicara. Dari dulu kamu anak kandung ayah dan ibu. Hanya saja, Gita ingin membuatmu ketakutan. Kamu jangan percaya itu sayang." Jawab Luciana dengan jelas.


"Omong omong. Kamu masih ingat kak, sahabat kakak dulu. Yang dulu sering bermain dengan kamu juga." Ucap Luciana.


"Maksud kakak, kakak Kai?" memastikannya.


"Iya. Dia sudah kembali dari luar negeri. Dia sudah semakin tampan tahu. Hahahah." Jawab Luciana, sambil tertawa tipis.


"Sekarang di mana kak Kai, kak?" tanya Alvino yang merindukan Kai.


Setelah memberikannya. Alvino bahagia, "aku sangat bahagia, karena dulu, kakak Kai yang paling dekat dengan ibu. Sampai-sampai ibu tidak pernah bersedih. Andai saja ibu masih hidup ya kak. Mungkin ibu akan sedikit kesal, karena yang kakak nikahin bukan kak Kai. Tapi pria lain." Ucap Alvino kembali tersenyum.


"Omong omong membahas ibu. Kakak jadi merindukan ibu. Dulu, ibu sering bermain dengan kita, dan terus membuat kita bahagia. Dan ada hal yang membuat kakak tidak melupakannya. Yaitu, di saat ibu membuat cookies gosong, dan kita disuruh mencicipinya. Dan kita malah mengatakannya enak. Jadinya kita harus menghabiskan cookies itu. Apa kamu ingat." Ujar Luciana, sambil bertanya.


"Benar banget kak. Dari situ, aku jadi sakit perut. Dan ujung-ujungnya, ibu malah merasa bersalah, dan meminta maaf juga. Hahah, lucu banget ya kak." Jawab Alvino sambil tertawa tipis.


"Kapan kita merasakan hal itu lagi dik. Tidak akan pernah lagi ya. Kakak benar benar merindukan ibu." Tiba tiba saja Luciana meneteskan air matanya.


"Sabarlah kak. Aku juga sangat merindukan ibu. Kakak jangan seperti ini, nanti ibu sedih di atas sana kak. Kita harus berbahagia di sini. Karena kalau kita bahagia di sini, ibu akan bahagia di sana juga." Menenangkan Luciana, dengan mengelus pundak Luciana.

__ADS_1


Disisi lain. Leonathan merasa kasihan kepada Luciana, "kasihan banget istriku. Begitu banyak luka yang ia pendam, dan tidak mau memberitahukannya kepadaku. Karena dia tidak mau menyusahkanku. Seharusnya aku peka terhadap semua itu. Bukannya sibuk mengerjakan pekerjaan. Mulai sekarang, aku harus banyak waktu untuk istri dan anakku." Ucap batin Leonathan, sambil mengerutkan keningnya.


Luciana pun langsung memeluk Alvino dengan hangat, dan Alvino ikut meneteskan air matanya juga. "Kita akan bahagia kak. Kita akan bahagia seperti ibu di sana. Jangan sedih lagi ya kak." Menenangkan Luciana yang masih menangis.


Alvino melepaskan pelukan tersebut, dan mengambil hadiah yang ia bawa untuk Luciana. "Ini ada hadiah untuk kakak. Di dalamnya foto kita bersama ibu dan ayah. Kalau kakak sedang merindukan ibu. Kakak bisa melihat album foto ini." Tersenyum kembali, dan langsung memberikannya kepada Luciana.


"Terima kasih banyak ya Alvino. Kamu memang adik kakak yang paling baik." Ikut tersenyum, dan kembali memeluk Alvino.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya kak. Karena aku mau mengajak kak Kai untuk makan bersama. Kan kakak sudah makan mungkin. Kalau begitu, aku duluan ya kak. Dan jangan menangis kembali. Kalau ada masalah, hubungi aku. Sampai jumpa kak." Melambaikan tangannya, dan langsung pergi meninggalkan Luciana.


Setelah Alvino pergi. Luciana pun masuk ke dalam rumah, sambil memeluk album foto tersebut.


Di dalam rumah. Luciana langsung masuk ke dalam kamar pribadinya, dan meletakan album foto tersebut di lemarinya.


Malam pun tiba. Dimana Luciana sedang membuat makan malam spesial. Tiba tiba saja ada yang memanggilnya, dan ia adalah baby Bing.


"Malam mami," sapa baby Bing, sambil duduk di kursi.


"Eh, sayang. Kamu sudah mandi?" tanya Luciana, sambil mengaduk makanan yang sedang ia masak.


"Sudah ma. Mami sedang membuat apa, kelihatannya harum dan enak nih?" jawab bay juga sekaligus bertanya.


"Tentunya makanan yang enak untuk kamu sayang. Mami membuatkan makanan yang spesial untuk kamu sayang. Jadi, kamu bantu mama, letakkan minuman di cangkir ya sayang. Biar cepat selesai." Jawab Luciana kembali tersenyum.


"Oh ya mami. Kapan kita akan pergi bersama ke luar negeri ma?" tanya baby Bing mengingat hal itu.


"Soal itu mami kurang tahu sayang. Itu semua tergantung papi kamu," jawab Luciana sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ouh ya sayang. Bagaimana kalau besok mami mengajak kamu ke taman bermain. Dan berbelanja mainan di mall. Kita akan bermain sepuasnya. Kamu mau gak?" tanya Luciana, ingin meluangkan banyak waktu untuk baby Bing.


"Aku


__ADS_2