Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku

Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku
Episode 87: 5 Hari Koma


__ADS_3

Leonathan menundukkan kepalanya, dan membayangkan Luciana.


"Sayang, saatnya makan. Kamu suka makan daging kan, dan ini aku buatkan untukmu." Ucap Luciana, dan Leonathan sedang membayangkan Luciana, dengan wajah periangnya.


"Kamu kenapa tidak mau tidur di sini, kan kita suami istri."


Kembali ke sekarang, "aku benar benar pria yang bodoh. Karena tidak peka dengannya. Sial." Ucap batinnya sambil mengepalkan kedua tangannya, dan terlihat urat ditangannya, dan ia benar benar marah kepada dirinya sendiri.


Leonathan kembali menatap wajah Kai, "terima kasih banyak Kai. Karena sudah mau menceritakan hal hal yang disukai oleh istriku. Kalau begitu, sampai jumpa lain kali. Saya duluan." Ujar Leonathan tersenyum tipis, dan langsung kembali ke rumah sakit.


"Luciana, sadarlah. Leonathan benar benar khawatir denganmu." Ucap batin Kai tersenyum, dan kembali ke pekerjaannya.


Disisi lain. Leonathan pun langsung masuk ke dalam ruangan Luciana. Dan sesampainya, ia pun duduk dan menatap wajah Luciana.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku. Kamu boleh menampar diriku, sepuasmu. Tapi kamu bangun dulu. Bangun." Ujar Leonathan sambil menggenggam kedua tangan Luciana, dan terus menundukkan kepalanya.


"Aku baru sadar, bahwa aku mencintaimu. Maafkan aku yang bodoh ini, karena tidak bisa mengungkapkan perasaanku kepadamu. Bahwa sudah jelas, kalau kamu mencintaiku. Kali ini, aku akan menjagamu dengan sebaik mungkin. Aku berjanji, dan bersumpah. Kita akan selamanya bersama." Mencium kening Luciana, dan kembali menggenggam kedua tangan Luciana dengan erat.


Keesokan paginya, dimana Leonathan tertidur, dan ada Stefan yang datang. "Pagi pak," sapa Stefan sambil membawa sebucket bunga mawar putih.


Sontak Leonathan terbangun, dan mengusap matanya. "Leonathan, ada apa?" tanyanya langsung berdiri.


"Tidak ada tuan. Saya mau menjenguk nyonya saja." Jawab Stefan sambil tersenyum, dan meletakkan bunga mawar tersebut di bawah.


"Ouh ya Stefan, saya mau setiap hari kamu antarkan bunga tulip yang banyak. Dan belikan yang yang beragam. Soal biaya tidak perlu kau pikirkan. Uangnya akan saya kirim ke rekeningmu." Meminta Leonathan.


"Kenapa tidak bunga lain tuan. Kenapa harus bunga tulip?" tanya Stefan.

__ADS_1


"Bunga tulip kesukaan Luciana. Sudahlah, jangan banyak bertanya, dan jalankan perintahku." Jawab Leonathan dengan serius.


"Baik tuan. Tapi tuan, apa tuan sudah makan. Dari kemarin tuan belum makan. Nanti tuan sakit lagi." Menawarkannya.


"Kau tidak perlu pikirkan saya. Yang terpenting Luciana cepat sadar. Soal saya, saya bisa menjaga diri saya sendiri. Kalau begitu, kau bisa kembali bekerja lagi." Jawab Leonathan, sambil menatap wajah Luciana.


"Baik tuan. Kalau begitu, saya permisi." Membungkukkan badannya, dan kembali tegap, lalu keluar dari ruangan tersebut.


Setelah Stefan keluar. Leonathan pun kembali duduk, dan terus menatap wajah Luciana yang masih koma. "Jika kamu tidak makan. Aku juga tidak akan makan. Agar aku bisa merasakan sakit yang kamu rasakan." Ucapnya.


Tiba tiba ada yang datang kembali, dan itu adalah karyawan dari Perusahaan Queen Dress. "Permisi, apa ada orang di dalam. Kami dari Perusahaan Queen Dress." Ucap Delisa dari luar, sambil mengetuk pintu.


"Masuklah," jawab Leonathan, dan semua karyawan dari Perusahaan Queen Dress langsung masuk ke dalam.


"Pagi pak. Kami karyawan dari Perusahaan Queen Dress, mau menjenguk bu bos." Ucap Delisa sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak, karena kalian mau menjenguk istri saya. Kalian jadi repot repot." Sahut Leonathan menatap mereka.


"Benar itu. Bu bos benar benar orang yang sangat baik. Kami harap bu bos cepat sembuh, agar kami bisa melihat senyum bu bos yang cantik." Ucap karyawan lainnnya.


"Terima kasih banyak. Oh ya, siapa direktur di Perusahaan Queen Dress?" tanya Leonathan.


"Saya pak," mengangkat tangannya, dan langsung berdiri dihadapan Leonathan.


"Pagi pak, saya Gilang, direktur Perusahaan Queen Dress. Semoga istri anda cepat sembuh pak. Kami doakan semoga cepat sadar dan sehat kembali." Jawab Gilang.


"Terima kasih banyak pak Gilang. Saya mau berpesan kepadamu. Saat ini Luciana sadar. Jadi saya mau kamu mengurus perusahaan dengan baik. Kalau ada yang mau dibicarakan, katakan saja pada saya. Anda paham kan." Ucap Leonathan kepadanya.

__ADS_1


"Saya paham pak. Kalau begitu, kami berterima kasih, karena kami diizinkan untuk menjenguk bu bos. Kalau begitu, kami permisi pak." Jawab Gilang dan langsung menundukkan badannya, bersama karyawan yang lainnya.


"Salam pak," ucap karyawan, dan mereka semua langsung keluar dari ruangan tersebut.


Leonathan pun kembali menatap wajah Luciana dengan penuh kecemasan, "sadarlah Luciana. Banyak orang yang menginginkan kamu sehat. Dan aku akan sering memberikan kamu bunga tulip yang indah. Tapi sebelum itu, sadarlah." Mengelus kedua tangan Luciana.


Tiba tiba ada yang datang lagi, dan ia adalah nenek Leonathan, bersama asisten pribadinya. Sontak Leonathan menatapnya, dan langsung berdiri memberi salam.


"Salam nenek," ucap Leonathan.


"Bagaimana keadaan Luciana sekarang?" tanya neneknya.


"Ya seperti inilah nek. Luciana belum sadar. Ini semua karena salahku nek. Dia berusaha menolongku. Dia mengorbankan dirinya demiku nek." Menahan air matanya.


"Sudahlah nak. Ini semua bukan salahmu juga. Ini semua sudah takdir Tuhan. Kita tidak bisa melawannya. Yang penting sekarang, kita banyak berdoa, agar Luciana cepat sadarkan diri." Ujar neneknya sambil mengelus kedua tangan Leonathan.


"Kata Stefan, kamu belum makan dari kemarin. Makanlah dulu, nanti kamu sakit. Jangan sampai kamu melupakan dirimu sendiri. Kau harus ingat dirimu juga. Makanlah nak." Ucap neneknya yang mengkhawatirkan Leonathan juga.


"Tidak perlu nek. Aku akan menahan kelaparan ini, sampai Luciana sadar nek. Aku tidak bisa membiarkannya menderita, sedangkan aku enak enak. Aku juga harus merasakan penderitaan yang Luciana rasakan nek." Jawab Leonathan sedikit tegas, dan tidak ingin makan, sampai Luciana sadar.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Nenek letakkan bunga ini di sini, dan nenek pergi dulu." Mengelus rambut Leonathan, dan langsung keluar dari ruangan tersebut.


5 Hari pun berlalu. Dimana Leonathan benar benar tidak makan. Bahkan dia sampai mengurus, karena tidak makan. Dan ia tetap menunggu disamping Luciana yang belum sadar dari komanya.


"Permisi tuan. Ini sudah 5 hari anda belum makan. Makanlah dulu tuan. Kelihatannya anda kelelahan dan lapar. makanlah dulu tuan. Kalau seperti ini, nanti nyonya tidak akan bahagia melihat anda kelaparan seperti ini tuan. makanlah walaupun sedikit saja." Khawatir Stefan.


"Sudahlah Stefan. Kau urus saja semuanya dengan baik, dan perusahaanku juga. Soal saya tidak perlu dipikirkan. Saya bisa menjaga diri saya sendiri." Jawab Leonathan dengan ekspresi serius.

__ADS_1


"Baiklah tuan, saya permisi." Hanya bisa pasrah dan langsung keluar dari ruang tersebut.


"Luciana, bangunlah. Banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu. Kau tahu,


__ADS_2